Hari ini entah setan mana yang merasuki saya.
Sebelum berangkat ke pesta pernikahan sepupu, saya memuntahkan kemurkaan dengan melakukan kekerasan. Kekerasan terhadap sebuah pintu lemari pakaian. Hasilnya? Ketiga engsel pintu lemari tersebut asli terlepas selepas-lepasnya dan jatuh dengan bunyi membahana.
Apa pasal? (hehe, kalimat pertanyaan ini meniru Viviku yang gaya bahasanya masih khas orang Deli)
Gagang kacamata dibengkokkan oleh anak.
So simple? And I already got so mad that made my gal be frightened of her mom.
Well, awalnya saya marah karena begitu lihat gagang kacamata yang baru saya ganti 3 bulan lalu otak langsung berpikir, “Ya ampun. Itu kacamata bisa dibeli karena modal reimburse dari kantor. Sekarang gak kebeli lagi nih! Mana saya mau pensiun dalam waktu dekat ini. Gimana dong?”
Saya sangat sedih, kesal dan cemas. Panasnya hati naik hingga ke ubun-ubun kepala sehingga terjadilah hal di atas. Sementara anak saya terdiam di pojok tempat tidur. Kaget melihat amarah Mamanya. Dan kemudian diajak oleh pengasuhnya turun ke bawah. (Mbaknya ngeri juga melihat wajah Mamanya tertekuk begitu dalam dengan bibir sangat monyong)
Maaf ya Nak! Kebiasaan buruk Mama dari kecil. Kalau sudah marah sekali, pasti luapan emosinya disalurkan ke benda mati, terutama pintu (pintu kamar, pintu mobil, pintu lemari, de el el).
Dulu sewaktu masih remaja, bila kesal karena pendapat saya tidak pernah didengar dan dimentahkan oleh Mama, pasti selalu berakhir dengan muka cemberut, lari ke kamar tidur, banting pintu dan putar kaset G’nR kencang-kencang.
Dan, kebiasaan ini berhenti seiring dengan bertambahnya usia.
Cuma berhenti. Tidak menghilang. I just found out today.
Kemurkaan saya akhirnya mereda seiring dengan rasa tenang yang diberikan dari kegiatan berdandan. Selama sesi penenangan itu, saya berpikir ,”Kenapa sih harus murka seperti itu? Di depan Dira lagi. Gak benar banget nih Mamanya. Kasihan si Dira kan. Padahal tadi siang baru ikut acara yang membahas soal interaksi ibu dan anak dalam pembentukan akhlak. Lah, ini aja emaknya kacau, gimana bisa mendidik anak dengan baik?”
Saya terus berpikir, “Apa sebab sih? Bisa lepas kontrol seperti ini. Kenapa?”
Sambil lanjut berpikir, saya meminta maaf ke Dira, “Kakak, maafin Mama yah. Tadi bikin kakak kaget. Mama kesal karena berpikir kalau Mama sudah tidak bisa beli kacamata seperti itu lagi. Apalagi dengan kondisi beberapa bulan ke depan kita akan pindah dan Mama jadi pengangguran. Maafin Mama yah. Kakak jangan meniru Mama seperti itu. Tidak baik.”
Apa jawaban Dira? “Iya Ma! He eh..”
Entah dia sudah mengerti atau tidak perkataan saya, yang jelas kemurkaan saya tambah mereda melihat rasa takut di wajah Dira pupus dan dia tersenyum lagi kepada Mamanya. “Permata hatiku. Sayangku. Bintang dan matahariku. I love you!” ujarku. “Alofu tu tek tek tek..” balas Dira sambil terkekeh.
Dan jrenggg…. hasil pemikiran saya sepanjang sore hingga malam ini terjawab.
Saya lelah fisik dan mental.
Sejak menikah, saya disuruh tinggal di rumah mertua. Kalau mau jujur, sebenarnya saya tidak suka dengan ide ini. Tapi keputusan saya ambil demi kenyamanan suami (yang selama 6 bulan tinggal di rumah orang tua saya terlihat risih dan tidak bebas) dan berusaha menghormati keinginan mertua.
Hasilnya? Terjadi bentrokan kultur, gaya hidup dan pola pikir. Memang, tidak ada konflik terbuka, namun hal seperti ini malah bikin saya merasa serba salah.
Hal lainnya lagi adalah pekerjaan yang saya jalani sekarang menguras energi, pikiran dan kesabaran. Terkadang terpikir kalau saya dapat job description yang paling ‘error’ di antara rekan kerja lainnya, namun mendapat perhatian paling sedikit. Malah terkadang, kerap kali dilupakan kalau saya ada, kecuali pada saat ada hal ‘urgent’ yang butuh difollow up mati-matian.
Hmm, being a single-mom-like is also tiring.
Akibatnya? Saya stres.
Sepertinya saya semakin stress mengingat sebentar lagi saya harus pensiun dini mengikuti permintaan suami. Hmm, bukannya gak senang pensiun dini, tapi mungkin saya masih belum benar-benar siap tidak punya penghasilan sama sekali. Kebayang dong! Biasanya kalau mau beli apa-apa gak menadahkan tangan ke suami, sekarang saya harus bersiap melakukannya. *sigh*
Saya juga masih punya kewajiban finansial yang membuat saya berpikir, “Aduh, suamiku sanggup gak yah? Kasihan kalau dia harus bertanggung jawab buat kewajiban itu.”
I’m excited with the idea but also scared with my future life as a full time mom.
Mungkin juga, saya stress karena saat ini sedang berusaha mengejar target di salah satu bisnis online yang saya geluti. Maunya sih saat pensiun, saya sudah dapat posisi yang nyaman dan penghasilan yang didapat mencukupi untuk memenuhi kewajiban finansial sehingga tidak perlu merepotkan suami. Huhu, kebayang deh omongan mertua, “Makanya kerja, biar gak cuma menadahkan tangan minta duit ke suami. Ngerepotin aja!” (Ini ilustrasi khayalan sendiri yang bikin tambah stres. Tapi, saya kenal pola pikir mertua dan kakak ipar cewek saya. Jadi yah mungkin gak jauh-jauh.”
Soal kerjaan di kantor? Jujur? Capek! Bosan! Muak! Penuh kepura-puraan! Oh, I’m so naive! Mana ada sih perfect job in the world! Gaji besar, kerjaan enak. Mimpi kali yeh!
Allah!
Dari-Mu aku berasal dan kepada-Mu pula aku kan berpulang.
Ringankan langkahku menjemput rezeki-Mu.
Jangan biarkan aku menaruhkan beban berat ke pundak suami dan orang tuaku.
Amin…
*seperti biasa, entah kenapa saya kalau bikin postingan pasti judulnya melenceng dari isinya. mohon maaf yah!*


dan Hanny









