Archive for » January, 2009 «

Hari ini entah setan mana yang merasuki saya.

Sebelum berangkat ke pesta pernikahan sepupu, saya memuntahkan kemurkaan dengan melakukan kekerasan. Kekerasan terhadap sebuah pintu lemari pakaian. Hasilnya? Ketiga engsel pintu lemari tersebut asli terlepas selepas-lepasnya dan jatuh dengan bunyi membahana.

Apa pasal? (hehe, kalimat pertanyaan ini meniru Viviku yang gaya bahasanya masih khas orang Deli)

Gagang kacamata dibengkokkan oleh anak.

So simple? And I already got so mad that made my gal be frightened of her mom.

Well, awalnya saya marah karena begitu lihat gagang kacamata yang baru saya ganti 3 bulan lalu otak langsung berpikir, “Ya ampun. Itu kacamata bisa dibeli karena modal reimburse dari kantor. Sekarang gak kebeli lagi nih! Mana saya mau pensiun dalam waktu dekat ini. Gimana dong?”

Saya sangat sedih, kesal dan cemas. Panasnya hati naik hingga ke ubun-ubun kepala sehingga terjadilah hal di atas. Sementara anak saya terdiam di pojok tempat tidur. Kaget melihat amarah Mamanya. Dan kemudian diajak oleh pengasuhnya turun ke bawah. (Mbaknya ngeri juga melihat wajah Mamanya tertekuk begitu dalam dengan bibir sangat monyong)

Maaf ya Nak! Kebiasaan buruk Mama dari kecil. Kalau sudah marah sekali, pasti luapan emosinya disalurkan ke benda mati, terutama pintu (pintu kamar, pintu mobil, pintu lemari, de el el).

Dulu sewaktu masih remaja, bila kesal karena pendapat saya tidak pernah didengar dan dimentahkan oleh Mama, pasti selalu berakhir dengan muka cemberut, lari ke kamar tidur, banting pintu dan putar kaset G’nR kencang-kencang.

Dan, kebiasaan ini berhenti seiring dengan bertambahnya usia.

Cuma berhenti. Tidak menghilang. I just found out today.

Kemurkaan saya akhirnya mereda seiring dengan rasa tenang yang diberikan dari kegiatan berdandan. Selama sesi penenangan itu, saya berpikir ,”Kenapa sih harus murka seperti itu? Di depan Dira lagi. Gak benar banget nih Mamanya. Kasihan si Dira kan. Padahal tadi siang baru ikut acara yang membahas soal interaksi ibu dan anak dalam pembentukan akhlak. Lah, ini aja emaknya kacau, gimana bisa mendidik anak dengan baik?”

Saya terus berpikir, “Apa sebab sih? Bisa lepas kontrol seperti ini. Kenapa?”

Sambil lanjut berpikir, saya meminta maaf ke Dira, “Kakak, maafin Mama yah. Tadi bikin kakak kaget. Mama kesal karena berpikir kalau Mama sudah tidak bisa beli kacamata seperti itu lagi. Apalagi dengan kondisi beberapa bulan ke depan kita akan pindah dan Mama jadi pengangguran. Maafin Mama yah. Kakak jangan meniru Mama seperti itu. Tidak baik.”

Apa jawaban Dira? “Iya Ma! He eh..”

Entah dia sudah mengerti atau tidak perkataan saya, yang jelas kemurkaan saya tambah mereda melihat rasa takut di wajah Dira pupus dan dia tersenyum lagi kepada Mamanya. “Permata hatiku. Sayangku. Bintang dan matahariku. I love you!” ujarku. “Alofu tu tek tek tek..” balas Dira sambil terkekeh.

Dan jrenggg…. hasil pemikiran saya sepanjang sore hingga malam ini terjawab.

Saya lelah fisik dan mental.

Sejak menikah, saya disuruh tinggal di rumah mertua. Kalau mau jujur, sebenarnya saya tidak suka dengan ide ini. Tapi keputusan saya ambil demi kenyamanan suami (yang selama 6 bulan tinggal di rumah orang tua saya terlihat risih dan tidak bebas) dan berusaha menghormati keinginan mertua.

Hasilnya? Terjadi bentrokan kultur, gaya hidup dan pola pikir. Memang, tidak ada konflik terbuka, namun hal seperti ini malah bikin saya merasa serba salah.

Hal lainnya lagi adalah pekerjaan yang saya jalani sekarang menguras energi, pikiran dan kesabaran. Terkadang terpikir kalau saya dapat job description yang paling ‘error’ di antara rekan kerja lainnya, namun mendapat perhatian paling sedikit. Malah terkadang, kerap kali dilupakan kalau saya ada, kecuali pada saat ada hal ‘urgent’ yang butuh difollow up mati-matian.

Hmm, being a single-mom-like is also tiring.

Akibatnya? Saya stres.

Sepertinya saya semakin stress mengingat sebentar lagi saya harus pensiun dini mengikuti permintaan suami. Hmm, bukannya gak senang pensiun dini, tapi mungkin saya masih belum benar-benar siap tidak punya penghasilan sama sekali. Kebayang dong! Biasanya kalau mau beli apa-apa gak menadahkan tangan ke suami, sekarang saya harus bersiap melakukannya. *sigh*

Saya juga masih punya kewajiban finansial yang membuat saya berpikir, “Aduh, suamiku sanggup gak yah? Kasihan kalau dia harus bertanggung jawab buat kewajiban itu.”

I’m excited with the idea but also scared with my future life as a full time mom.

Mungkin juga, saya stress karena saat ini sedang berusaha mengejar target di salah satu bisnis online yang saya geluti. Maunya sih saat pensiun, saya sudah dapat posisi yang nyaman dan penghasilan yang didapat mencukupi untuk memenuhi kewajiban finansial sehingga tidak perlu merepotkan suami. Huhu, kebayang deh omongan mertua, “Makanya kerja, biar gak cuma menadahkan tangan minta duit ke suami. Ngerepotin aja!” (Ini ilustrasi khayalan sendiri yang bikin tambah stres. Tapi, saya kenal pola pikir mertua dan kakak ipar cewek saya. Jadi yah mungkin gak jauh-jauh.”

Soal kerjaan di kantor? Jujur? Capek! Bosan! Muak! Penuh kepura-puraan! Oh, I’m so naive! Mana ada sih perfect job in the world! Gaji besar, kerjaan enak. Mimpi kali yeh!

Allah!

Dari-Mu aku berasal dan kepada-Mu pula aku kan berpulang.

Ringankan langkahku menjemput rezeki-Mu.

Jangan biarkan aku menaruhkan beban berat ke pundak suami dan orang tuaku.

Amin…

*seperti biasa, entah kenapa saya kalau bikin postingan pasti judulnya melenceng dari isinya. mohon maaf yah!*

Category: Curhat  Tags: ,  5 Comments

Hip hip hooray!!

Dengan mengerahkan daya kreasi tingkat tinggi (agak hiperbola sih), banner buat link exchange blogku ini selesai juga akhirnya.

Sebelumnya sih coba buat di kantor dengan software seadanya… hehe… udah jelek bannernya, eh narsis pula. Jadi malu sama diri sendiri. Hingga akhirnya kuputuskan tuk membuat banner baru yang lebih simple dan gak mengangkat tema narsisdotcom.

Silahkan, mas, mbak, dan teman-teman semua yang berkenan mencoba blogroll dengan sistem banner link exhange (halah… muter2 kata2ku ini), mohon dikopi langsung ke linknya. Kasih tahu aku supaya kita bisa tukaran link yoh!

Kalau gagal memasang bannerku, tolong dikasih tahu supaya tahu dimana salahnya. Apalagi kalau ada yang kasih tahu sekaligus kasih contekan kode html yang seharusnya supaya bannernya bisa mejeng di “blog keren lainnya” (maksud kata dalam tanda kutip ini tidak mencerminkan bahwa blog saya ini juga keren kok).

Jadi, bagaimana sih rupa banner yang konon katanya hasil daya kreasi tingkat tinggi? Hehe, monggo dilihat di bawah ini. Atau kalau kurang puas, bisa lihat juga di sidebar sebelah kanan beserta dengan kode htmlnya.

Lumayan gak bannernya? *awas yah kalau jawabannya “gak”… * -> it is not a thread, only a consideration for you before answering my question. ;)

Been acting like a single parent for almost 2.5 years (since my sweet girl born).

I’m not a real single parent just like the words define. I’m still married and have a husband. But in most circumstances, I’m a must-be single parent.

Why?

It’s because me and my husband are working in two different cities. Until last November, I was a single parent from Monday morning to Friday night because my husband had to go to Cilegon due to his working location.

Starting last December, I have became single parent in act from Monday to Sunday, 24-7 (24 hours in 7 days) because my husband accepted new job farther than Cilegon. Where is he now? In Paiton! (have you heard about this place?)

Not that I complain about it. It’s been our decision to live like this from the beginning he accepted the Cilegon offer. Only that, at that time we haven’t got any sweet baby yet. And it was our decision too that he accepted the job in Paiton coz the offer was lots better. Well, the separation is temporarily anyway. Me and Dira will be moving out to Paiton soon.

Anyway, what I’d like to say here that, lately I feel it’s so hard to be a must-be single parent. I mean, in critical situation like when my sweet daughter gets sick, I must do quick thinking and decide what’s best for her.

*sigh* And I was just been there in the situation again last week… must make right decisions… must take 2-day leave from the office… must put my daughter in top priority and disregard my office work… etc.

This time, it became a little bit tiring because I had to think alone. Yes, I can reach my husband through phone and discuss about it with him. But still, I was the one whose facing the real situation all alone and my husband laid all decisions on my shoulder. “Do the best for her,” he said. “Easy for him to say that,” my heart’s complaining.

OMG! I can now feel how hard it is to be a real single parent, especially for single mum (sorry single dad!).

(I think, men as single parents can’t stand being single in a long time. Men will get married as soon as they can. Women in the contrary. If they are financially independent, women tend to choose not to get married as soon as they can. Women prefer to raise her child/children all alone, unless they find much more better future husband.)

Maybe that’s what my mum’s been through after my dad gone. I was still in college when dad passed away and needed money to continue my study. That’s why my mum tried to find orders to prepare wedding room from friends and relatives.

Today, with this posting, I want to raise two thumbs up for all single parents out there. A position where not everyone wants to take and be in it. Salute!

Please, to anyone whose mom or dad choose not to get married again for the sake of his/her child/children, appreciate your parent right away for all efforts they have done for you.

And if they somehow decide to get married again, support their wishes. Ofcourse, after you make sure that the future husband/wife can be a good parent for you. I know, most children will reject their moms/dads’ decisions to get married. But maybe the children must see their wishes beyond their egos. Who knows your single parent has reached his/her limit and really wants to have someone to share the burden.

Just another thought of my kinky mind.

Category: Curhat  Tags:  4 Comments

Akhir-akhir saya senang sekali mengumpulkan duit recehan. Eitss.. ini beda loh dengan duit recehan yang saya maksud dalam postingan sebelumnya (tentang Coin A Chance).

Duit recehan yang saya maksud kali ini terkait dengan istilah salah satu online buddy saya ini, Fuda, yang pada ‘comment’-nya menyinggung soal banyaknya duit recehan dollar dari para internet freak yang kalau dikumpulin bisa membantu program CAC.

Hehe, benar juga sih… kalau dipikir-pikir, ehm… akhir-akhir ini saya memang sedang berusaha ikut-ikutan mengumpulkan duit dari dunia maya. Mulai dari bisnis online d’BC dan Dynasis, jadi publisher iklan pay per click (lokal maupun internasional) dan sampai ikutan pay to click (jua lokal maupun internasional).

Saking semangatnya nih… sampai semua space dalam blog saya nyaris terisi dengan iklan-iklan. Pffhhh… untung saya belum ikut daftar jadi publisher di semua program PPC yah. Kebayang deh bagaimana repotnya me-manage semua itu.

Tapi, sejauh ini, duit recehan yang saya kumpulkan dari PPC kebanyakan berasal dari kebaikan hati teman-teman online sih. Sedangkan untuk program PTC, yah sami wae… alias sama saja. Buat anggota standar, 1 kali klik iklan dibayar Rp 100. Biasanya cuma tersedia 5 iklan untuk diklik. Jadi sehari dapat sekitar Rp 500. Kalau buat anggota premium sih pembayarannya bisa lebih besar, apalagi kalau sudah punya banyak referral.

Terkadang saya suka mikir. Tujuan saya ikutan begini buat apa yah? Soalnya jumlah yang saya hasilkan masih benar-benar masuk kategori ‘uang receh’. *sigh* Kagum deh sama para internet marketer yang bisa menghasilkan ratusan dollar dari program-program ini.

Gimana yah caranya? *garuk-garuk kepala*

Category: Terkini  Tags: ,  6 Comments

Hari ini kegiatan mengutak-atik blog selain membuat postingan gak jelas lagi juga memasang banner, mulai dari ads, referral program, blogger peduli hingga Coin a Chance.

Hehe, buat yang terakhir ini memang agak telat pasangnya sih. Tapi “better late than never” toh! Apalagi ini gerakan massal yang bertujuan mulia dan lebih nyata hasilnya daripada tulisan di banner para caleg yang tersebar di mana-mana… “terdengar indah namun hampa nyatanya”.

Secara pribadi sih, saya mengharapkan gerakan Coin a Chance yang digagas oleh Nia dan Hanny akan menjadi bantuan tetap bagi anak tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya. Jadi tidak hanya bersifat semusim lagi-lagi seperti promosi para caleg (kalau dekat pemilu aja ngomongnya muluk-muluk, sudah terpilih sibuk hura-hura sendiri).

Hmm saya kok terdengar kesal dengan para caleg? Yah, bagaimana tidak… bayar pajak tambah mahal, gaji DPR tambah besar dan fasilitas banyak, fungsinya sebagai wakil rakyat NIHIL hasilnya. Jadi terkesan begini dari pemikiran saya pribadi

“Kalau sudah terpilih, kegiatan pertama yang diprogramkan adalah bagaimana mengumpulkan duit buat menutupi utang saat promosi pemilu. Kalau utang sudah terbayar, program selanjutnya adalah memperkaya diri. Kalau diri sudah kaya… yah…. de es te…”

Aih, sudahlah Ke! Ngomong beginian tak ada habisnya. Cuma bikin geram!

Balik ke topik semula.

Coin A Chance ini merupakan sebuah gerakan sosial untuk mengumpulkan ‘recehan’ atau uang logam yang bertumpuk dan jarang digunakan. Uang yang terkumpul akan ditukarkan dengan “sebuah kesempatan” bagi anak-anak yang kurang mampu agar mereka dapat melanjutkan sekolah lagi.

Hmm, sudah terbayang deh masa depan para generasi Indonesia seandainya gerakan ini jalan terus hingga bertahun-tahun ke depan. Boleh dong saya berfantasi suatu saat Indonesia akan punya generasi muda yang berkualitas, baik dari segi intelejensianya maupun spiritualnya, sehingga menjadi salah satu negara adidaya. *ngayal mode on*

Eniwei, buat yang mau ikutan Coin Collecting Day yang rencananya akan diadakan bulan Januari 2009 di minggu ketiga, pantau terus web Coin A Chance. Dan buat yang mau ikutan pasang banner kayak saya, bisa ambil kode htmlnya di sini.

OK? Hyuuukkkk… pasang bannernya dan ikut berpartisipasi.

Btw jadi ingat pernah kasih uang recehan yang besarannya Rp 50,- dan Rp 100,- ke pengamen kecil yang berkeliling di kompleks perumahan, dan hasilnya… “byar… cringgg…cringg..”… ternyata uang recehan ini dibuang kembali ke halaman rumah oleh mereka. Katanya, “Ngasih duit beginian mana laku mbak!”.

Ya ampun…

Category: Terkini  Tags:  One Comment

Pernah dengar quote berikut: “Love yourself before you love someone else” kan?

Nah berhubungan dengan quote tersebut, hari ini daku ingin berbagi kepada para pengunjung setia blog ini yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan sebagai awal pelajaran bagaimana mencintai diri sendiri. :P

Apa yang mau dibagi?

Hehe, tak ada yang lain lagi yang tepat untuk dibagi kecuali foto-foto centil di photobox salah satu mal daerah Jakarta.

Ceritanya begini:

Alkisah, hari Rabu kemarin diriku ini memutuskan untuk mengambil dokumen yang sedang dilegalisasi di DepHak. Berhubung sejak hari Selasa hingga Rabu pagi hujan turus deras dan tidak kira-kira waktunya, diriku memutuskan untuk naik taksi Bluebird menuju Kuningan.

Cabut dari rumah pukul 7 pagi diiringi dengan hujan deras. Karena lapar, daku memutuskan untuk sarapan pagi dulu dengan menyantap semangkuk bubur ayam di depan Holland Bakery – Cinere.Tepat pukul 8, saya naik taksi Bluebird yang nongkrong di depan Cinere Mall.

Keluar Cinere hingga lampu merah Fatmawati, tingkat kemacetan masih normal (biasa deh… macetnya Cinere mah masih bikin cinta daerah ini kok). Menjelang belokan ke arah Citos (ceritanya mau lewat Arteri Prapance nih), kemacetan meningkat dan semakin luar biasa saat mendekati lampu merah pertama di Arteri. Yaikss… it’s going to be a long boring trip.

Dan tralala… benar saja… sampai 1 album G’nR (Spag Incident) habis, 1 album Gold ABBA habis, 1 album soundtrack Twilight habis, 1 album soundtrack Coffee Prince hampir habis dan akhirnya baterai MP3 player habis… daku tak kunjung tiba di DepHak.

Akhirnya setelah bersusah payah menahan pipis, taksi mendarat di DepHak pukul 11 siang. Pffhh.. ini sih bakalan gak dapat giliran maju ke loket sebelum makan siang. Ternyata, benar sekali dugaan ini saudara-saudara sehingga akhirnya diriku memutuskan untuk makan siang di salah satu mal terdekat.

Setelah bosan selesai makan siang, keliling mal dong sebentar… mumpung lagi keluar kantor. Dan hasilnya, diriku tergelitik untuk mencoba berfoto di photobox. Hehe… dasar… dasar….

Awalnya karena mikir… “Ihhh… kapan sih terakhir fotoan di photobox yah?” Kayaknya tahun 2000 deh. Itu juga buat melepas stress setelah dapat hasil sidang yang tertulis “Lulus dengan catatan Mengulang”.

Akhirnya… masuklah diriku ke photobox dan Jepret! Ambil 2 kali sesi pemotoan… saking maruknya penasarannya karena kok gak bisa sih pasang gaya ala foto model.

Ternyata setelah dipikir sih kenapa gayanya gak bisa kayak foto model yah karena memang gak berbakat, gak ada modal dan gak fotogenik sama sekali.

Tapi gak apa-apa! Hitung-hitung belajar mencintai diri sendiri. Jangan cuma repot mikirin cinta kita buat orang lain sampai akhirnya bikin diri sendiri tersiksa. Rugi!

(Kalau cinta matinya sama Sang Pencipta sih kasusnya jadi beda sih dan malah sangat diperbolehkan sekali)

Sok, silahken dilihat-lihat foto centil ibu ini… Yang mau nyela silahkan… yang mau muji ya syukur banget…

Btw, hehe… ganti ah foto yang suka daku pakai buat online dengan salah satu foto ini. Hmmm kira-kira yang mana yah? *buka polling* Halah….

Category: Curhat  Tags:  8 Comments

I woke up this morning reluctantly.

It was caused by the sound of bakery roundsman at 5.15 AM and not the sound of my cellphone’s alarm as usual.

“It’s raining again…” I sighed deeply. Not that I complained about the morning weather. But raining in the morning is really a trouble for office worker like me, starting from the laziness it brings, until the traffic jam it causes.

But, I love rain much.

I remember the time when I often stood under the rain several years ago, everytime I wanted to cry out loud. And the place where I did it was on house rooftop.

(Well, not exactly on the rooftop. You know, almost every house in Indonesia has a space on the rooftop to serve as drying ground for washed clothes.)

Yup! Standing under the rain while crying was my favorite thing to do to relieve all burdens on my shoulder. Funny, huh?

When I was a kid to teenager, if I got really upset on something, I had awful behaviours. I would put a gloomy face, yelled randomnly, slammed my bedroom door and played G’nR’s album on the tape (my pick was “Use Your Illussion 2″ album).

When I got older (and wiser, ofcourse), those awful attitudes somehow turning into a new behaviour. Standing under the rain suddenly became an effective way for cooling down my emotion.

It’s fun, you see!

You could cry and scream out loud at the same time. Letting your tears drop along with the raindrop. And when you get to your voice limit, you could just sit under the rain. Think back about what makes you upset. Cooling down a bit. You could even think a solution over your problem, sometimes. After that, take a long hot water bath. You’d get more on the cooling down effect.

I did it when my father passed away.

I did it when I found out my (ex) boyfriend cheated on me.

I did it when I didn’t pass my final exam on college and had to repeat the exam 3 months ahead.

I did it when someone put me in a difficult situation.

But I haven’t done it since I got married.

*sigh*

No wonder….

Anyway, the effect of morning rain today was that I had to take a quick bath and jump on the bus heading for Fatmawati. It was out of question to go on with 61 since the traffic jam in Jalan Pinang started from about 30 meter before the intersection of Aneka Buana.

I also had to grin a little when the bus assistant (‘kenek’) of 509 called me ‘Dek’ while he was years younger than me. I even only paid Rp 2000 while it should be Rp 3000. It seemed that the ‘kenek’ thought I was a college student.

At last, I arrived in my office at 08.02, safely and a little bit dump on my shoes. Only 2 minutes late.

Category: Nostalgia  Tags:  2 Comments

Dasar!!!

Diriku ini benar-benar pembosan yah. Atau lapar mata? Lihat theme yang lumayan eh langsung deh ganti lagi. Theme yang lalu saja belum genap 1 bulan umurnya.

Pfffhhh…melelahkan sih sebenarnya gonta-ganti theme karena harus upload manually (entah mengapa prosedur FTP gak pernah sukses. boro-boro mau pakai, installnya aja trouble melulu).

Eh MP3 playlistnya juga ganti loh! Sekarang isinya lagu Indo semua. Yah…  berusaha membangkitkan cinta pada lagu Indonesia, kecuali jenis dgdt yang dari dulu bikin telinga alergi dengerinnya.

Bukan bermaksud mendiskreditkan dgdt sih.. cuma kenapa yah kok ibaratnya daku belum bisa menemukan sisi baik dari jenis musik ini… mulai dari lirik lagunya sampai penampilan penyanyinya. *sigh…*

Eniwei, semoga penampilan blogku kali ini terlihat lebih simple dan lumayan catchy. Soalnya buatku pribadi sih lebih menyenangkan lihat 3-column blog template yang berwarna terang. Theme yang sebelumnya sih lumayan catchy, cuma 2 kolom dan warnanya agak gelap gitu. Bikin hati yang murung tambah gelisah… halah…

Nah, sekarang target selanjutnya adalah membuat banner buat tukaran link. Nti ah dijabaninnya. Masih dalam tahap mempelajari how to create banner. Perlengkapan lainnya juga belum ditambahkan sih… menyusul deh!

Eh, sama foto diri belum ditambahkan ke blog ini. Narsis tetap harus dijagakan no matter what. Mumpung masih ada waktu dan kesempatan buat narsisdotcom.

Aih, sudah dulu yah. Malam ini sebenarnya rencana awal mengerjakan sesuatu yang lain, tapi kok malah obrak-abrik blog lagi yang ternyata lebih seru dari kerjaan lain.

(Payah nih! Katanya mau nyari duit kok malah….)

Note:
Jangan dengerin MP3 Playlist yang Indohitz Radio yah kalau gak suka dgdt… soalnya suka diputar di sini. Hehe… segitunya yah gue…

Category: Terkini  Tags:  2 Comments

Well at last I decided to buy herbal medicine for relieving gout.

Gout? Me?

Surprise!!

Yap, somehow uric acid concentration in my body is above normal. I found that about it 2 or 3 months ago using the instant uric acid test using your blood. Gee… never thought that I will have to deal with uric acid, gout, etc.

I mean, I am only almost-32 years old. *sigh…*

Woman! When you reach 30, your body metabolisms will suddenly drop. And usually it will affect to your health condition (like me). Another symptom of being 30 is that you will get fat easily and loosing weight seems so difficult (based on my experience).

Anyway, back to the topic, why the hell I must buy the medicine.

OK, the brief history was, just after delivery a sweet baby girl named Indira, I felt pain on my knee and feet palms every time I walked. I thought it was because of excessive body weight. So I took a diet with a well-known product from USA, ShapeWorks. Well, I lost the weights and the pain was gone.

Starting 6 months ago, I started to feel the same pain on my feet palms which came occassionally. It felt like a needle was pricked onto the palms. I was still thinking that it caused by another weight gaining problems.

The symptoms come and go. So I never really pay attention to it.

A week ago, just after getting back from Paiton, I had severe headache which was gone if I took a sleep. My assumption was that I caught colds since I sat just under AC blower in the bus during return trip from Paiton to Surabaya. Maklum, ndeso! Ndak biasa kena AC secara langsung sih.

It turns out that the headache remains until today. I also started to have rheumatic-like pain in almost all over my body. And yesterday, I went through excruciating cramps on my both feet after having too much walk. “Hmm, maybe my calcium intake was bad”, said the brain.

However, having reading on the net about uric acid and its symptoms when the concentration excesses, my brain alarm rang. “Ke, don’t you remember that several months the uric acid concentration in your blood was above normal?” said the brain.

Hey! That’s it!

My headache, rheumatic-like pain, sudden cramps, etc must be caused by an increase in blood uric acid.

Hmm, I guess I should take a lab test just to make sure. (males tapinya…)

Oh well! I’m just taking the medicine first then. Hope that the herbal medicine will work fast so I don’t need to check or go to physician.

I’m sleepy now. I think I will put an end to this post.

Bye bye…

Maybe I will make another post discussing more on uric acid…..

Hehe senang rasanya karena pada akhirnya bisa pasang MP3 playlist di blogku.

Thanks buat online buddy ini yang share kode CSSnya.

Semoga dengan adanya MP3 playlist, pengunjung jadi tambah betah ngacak-ngacak blogku ini.

Mess with my blog please! But don’t mess with me….

Category: Terkini  Tags:  2 Comments
Anakboncel