Gak tau deh tepat atau tidak judul posting di atas untuk cerita kali ini.
Awalnya sih pengen dikasih judul “Hari yang Seram”. Tapi sayangnya, akunya sendiri tidak merasa seram. Hehe… bingung deh!
Jadi begini yah ceritanya…
Jumat sore yang lalu, tgl 13 Februari (waks… baru ngeh kalau itu adalah Friday the 13th), aku dan 2 orang teman kantor naik angkot 112 (trayek Depok-Kp Rambutan) ke arah Pasar Rebo.
Awalnya, penumpang angkot lebih dari 6 orang dan semuanya duduk di belakang. Satu-persatu penumpang turun dan yang terakhir adalah seorang bapak yang turun setelah menjelang pertigaan Kiwi (Hmm apa Keong yah? Lupa! Hehe pokoknya pertigaan di Jl. Raya Bogorsebelum daerah Gongseng deh).
Tak lama setelah bapak ini turun, mendadak terdengar suara cempreng seorang laki-laki dari arah depan dekat supir. “Kiri, kiri Pak!” ujar suara tersebut. Supir angkot mendadak mengerem kendaraannya.
Aku menelengkan kepala melihat ke bangku sebelah supir untuk memperhatikan siapakah yang hendak turun. Rupanya temanku, Atik, yang duduk berhadapan juga melakukan hal yang sama. Dan… huahhhh… aku dan Atik saling pandang-pandangan dengan tatapan bertanya, “Siapa yang turun?” Kita melanjutkan bertatap-tatapan tanpa memperoleh jawaban.
“Lu denger gak? Ada yang kiri-kiri tapi gak ada orangnya.” kata Atik.
“Dengar.” ujarku nyengir. “Suaranya ngomong ‘kiri, kiri Pak!’. Iya gak?”
“He eh!” si Atik mulai pasang ekspresi gak wajar (hehe ini agak hiperbola sih).
Sementara temanku yang lain, Milti, memandang dengan aneh percakapan kita berdua. “Kenapa sih?” tanyanya.
“Elu gak denger? Ada yang ngomong ‘kiri, kiri Pak!’ tapi gak ada orangnya sama sekali” ucapku.
“Enggak! Gue gak denger apa-apa kok.” kata Milti.
“Ah, masa sih? Gue sama si Atik ngedenger. Trus supirnya juga, makanya tadi dia mendadak ngerem.” lanjutku lagi.
“Enggak. Beneran gak denger suara orang ngomong. Gue cuma denger ada yang ngetok atap mobil kayak kita biasa mau turun angkot. Gak ada suara kok,” lanjut Milti pula.
“Ihhhh… siapa itu yah? Serem!” ujar Atik.
“Hehe… untung sore-sore dan kita bertiga pula. Coba malam hari, bisa pipis di celana nih.” kataku.
Tak lama kemudian Atik turun sambil mewanti-wanti supaya aku dan Milti berhati-hati. Alhamdulillah perjalanan menuju ke rumah lancar tanpa gangguan “aneh” lainnya.
Nah, hari ini, walau sudah lewat Friday the 13thnya, ternyata aku masih mengalami hari yang aneh.
Diawali oleh Dira. Dini hari mendadak dia bangun dan langsung duduk di atas perutku. “Nenen di peyut Ma!” katanya. Aku spontan terbangun dan langsung buka ‘warung’.
Sekitar 20 menit kemudian Dira berguling dari perutku dan tidur menghadap ke jendela kamar. Seperti biasa, jendela kamar selalu aku buka di malam hari supaya tidak panas. Maklum, kamar kita tidak pakai AC. Yang berbeda malam tadi adalah tirai jendela sedikit tersibak sehingga kita bisa lihat gelapnya malam.
Tak lama kemudian Dira berbalik ke arahku sambil berkata, “Pala, pala Ma. Tutup bantal. Pala, palana tutup bantal.”
“Eh kenapa nih anak?” pikirku heran.
Sambil kepalanya tetap menghadap ke arahku (posisinya membelakangi jendela), tangannya meraba-raba bantal. Ketika mendapat apa yang dicari, hup, langsung bantal diletakkan di kepalanya.
“Yah, Dira aneh lagi nih!” ucapku dalam hati. Biasa deh, kalau ada yang ‘aneh’ pasti Dira akan bertingkah aneh. Eh, jadi ingat, malam sebelumnya Dira juga susah tidur dan memejamkan mata. Dia malah sibuk bertingkah dan tiap kali disuruh tidur, matanya malah jelalatan lihat ke sana kemari. *sigh*
Dan, dini hari tadi sepertinya ada yang ‘aneh’ lagi. Akhirnya, aku pindah posisi tidur ke dekat jendela. Dira kemudian aku suruh tidur membelakangi jendela sambil aku peluk. Alhamdulillah dia kembali tidur nyenyak. *hehhh… ada-ada saja*
Pagi hari ini, kejadian ‘aneh’ kembali menghampiri.
Saat berangkat kerja, dengan niat mengambil jalan pintas dengan naik angkot lewat Gandul untuk ke perempatan DDN, aku malah kembali ke jalur Pondok Labu. Huehehe.. nasib, nasib. Pengen tidur di angkot 105 malah dia potong jalan ke UPN. Akhirnya? Aku jalan lagi ke perempatan DDN.
Menjelang perempatan, saat berjalan melewati tenda penjual makanan burung, mendadak ada seorang laki-laki mendahuluiku. Penampakannya dari belakang gampang diingat. Tinggi, berkulit sawo matang, bercelana dan jaket berwarna khaki.
Kenapa aku ingat? Soalnya dalam hati sempat berpikir, “Wah si mas ini celana dan jaketnya seragam banget yah?”
Setelah menyebrang jalan, aku mengikuti mas ini naik ke angkot 61 dengan buru-buru karena sempritan polisi sudah membahana. Seingatku, mas tersebut naik dan duduk di bangku penumpang 6, sementara aku menuju bagian pojok bangku penumpang 4. Di belakangku ikut naik anak SMU yang duduk di dekat pintu.
Aku duduk, menarik napas dan mulai memperhatikan penumpang angkot. Aku celingak-celinguk kebingungan.
“Hmm mana yah mas yang tadi? Kok gak ada?” pikirku.
“Heh, apa gue tadi ngayal yah? Tapi kayaknya dia benar naik angkot ini kok. Wong kepalaku sempat hampir tersundul bokongnya,” pikirku lagi, penasaran.
Masih penasaran, aku cermati para penumpang satu-satu. Tetap tidak ada penampakan seorang laki-laki pun yang tadi aku deskripsikan.
“Ahhh gak lucu ini! Masa kejadian lagi? Aduhhh… kenapa sih gue? Ketemu yang aneh-aneh melulu dari hari Jumat.” pikirku dalam hati sambil garuk-garuk.
Semakin dipikir aku semakin bingung. Tapi beneran deh! Itu orang benar-benar naik angkot yang sama dengan posisi di depanku. Dan tidak ada jeda sama sekali buat dia untuk turun lagi.
OMG! I hate seeing undefined things!
Well, gak apa-apa sih selama gak ditampakkan yang ”seram”. Wkwkwkwk….
Eh, jadi ingat lagi nih pengalaman sama si Buduk (abangku yang nomor 3) saat melewati kuburan di kompleks AL Pangkalan Jati jam 12 malam. Mendadak aroma busuk yang menyengat menyerbu penciuman.
Trus, abangku yang satu itu wanti-wanti begini, “Lu jangan liat spion atas dan samping yah. Liat aja lurus ke depan. Kalo perlu matanya ditutup aja.”
Aku manggut-manggut dan mengikuti perintahnya dengan segera. Bulu kuduk merinding bo! Huahhhh…. jujur aja… seram-seram penasaran. Abis, emang berasa tuh ada yang nebeng mobil kita, pengen ngeliat ke belakang tapi “takut”. Takut sama penampakannya.
Jadilah kita mengendarai mobil dengan hati-hati dan sambil bercanda, “Waduh, kalau ikutan mobil kita, jangan lupa bayar yah. Masa nebeng gratis begini.”
Akhirnya bau busuk pun menghilang ketika rumah telah tampak di pelupuk mata.
Kata Buduk gini, “Tau gak tadi apa yang nebeng?”
Aku geleng-geleng kepala.
“Si Kunti…” ujarnya sambil ketawa. Kikikikik…..
Lega rasanya aku tak harus melihat penampakannya
Gak lagi-lagi deh kejadian kek gini!
Gak lagi-lagi deh pergi sama Buduk lewat kuburan sama malam-malam. Hehehe… *peace Bang!*
Yeah yeah yeah….
At last, I can add plugins for “U Comment I Follow”. Thanks to Hakimtea.com who has informed the download link in this post.
You can check lah whether my blog already supported “U Comment I Follow” by doing following simple steps:
Open one of my post which has comment from a friend, highlight the comment along with the link of comment’s writer. Right click your mouse and select View Selection Source if you are using Firefox browser. If not, you can download the browser by clicking the FF icon on the left bar.
New window DOM Source of Selection will appear after you click View Selection Source. Watch the html code comes along with the comment’s writer. You will see as follows:
See… see… it means, my blog has been equipped with “U Comment I Follow”.
Care to add the same plugins to your blog? Read it completely here.
Good luck with your blog.
And don’t forget to comment on my post coz U Comment I Follow lah….