Baru baca posting berantai dari salah satu blog teman baik saya, mbak Ade, tentang topik ”Bersyukur”.

Karena ide dari mbak Dini untuk menyebarkan topik ini melalui blog sangat bagus, jadi sejak 2 hari yang lalu saya nongkrong di halaman “Write Post” sambil berharap tulisan mengalir keluar lancar seperti air terjun.

Percaya gak sih? Kalau saya membutuhkan waktu lebih dari 48 jam untuk mulai menulis posting dengan topik ini. Haha, ternyata yah lebih gampang berkeluh kesah daripada bersyukur. Tul kan? Ngaku gak?

Tiap hari, tiap jam bahkan tiap menit, keluh kesah mengalir dengan lancar dan diungkapkan dengan berbagai cara. Salah satu cara yang sedang “trend” untuk berkeluh kesah adalah melalui Facebook. Status diupdate terus dengan berbagai macam keluhan. Contohnya saja keluhan saya beberapa hari  yang lalu :

Arleta bilang kalo gw ngopi melulu tandanya “boring level increased.”

atau

Arleta heran ma batuk yang gak sembuh2… br seminggu mereda eh kumat lagi… *godeg2*.

dst…. Pokoknya mengeluh terus. Kalau gak ngeluh, ya ngomel. Hehe…

Kalau kita hitung nih, dalam sehari berapa kali sih kita berkeluh kesah? Satu, dua atau tak terhingga? Trus, berapa kali kita bersyukur dalam kurun waktu yang sama?  Lima kali sesuai jumlah waktu sholat wajib? Atau malah di saat sholat kita cuma sibuk meminta kepada-Nya, tapi lupa mengucapkan syukur? Hiks… jadi malu sama diri sendiri dan kepada-Nya.

Allah, maafin hambamu ini yang sering lupa untuk kerap bersyukur atas limpahan nikmat-Mu bagaimana pun bentuknya.

Kalau dipikir, hidup kita di dunia kurang apa lagi?

Walaupun hingga saat ini belum bisa punya rumah sendiri, tapi setidaknya saya masih dikasih tempat menumpang hidup yang layak.

Walaupun gaji tidak seberapa jika dibandingkan yang lain, paling tidak hingga saat ini saya masih bisa menggaji pembantu buat mengurus Dira, memenuhi kebutuhan sandang dan pangan dan memberi sedikit hiburan untuk Dira.

Tidak seperti seorang bapak dan anak yang sering saya lihat di emperan apotek di perempatan Cilandak KKO. Tidak memiliki rumah dan pekerjaan, Namun, membuat saya takjub dan haru saat melihat kasih sang bapak yang dengan sabar memangku anak perempuannya tertidur lelap di atas pangkuannya sambil berselimutkan kain sarung butut yang warnanya sudah tidak jelas lagi.

Saya juga seperti dibukakan jalan untuk menemukan dengan peluang bisnis yang menghasilkan uang walau jumlahnya belum jutaan. Bahkan entah mengapa Allah berbaik hati kepada saya sehingga jaringan downline bisa terus berkembang. Padahal saya bukan tipe orang yang pandai merayu orang lain untuk bergabung dengan peluang bisnis tersebut.

Saya diberi kepercayaan oleh-Nya untuk mempunyai seorang anak setelah hampir 2 tahun tak kunjung hamil. Bahkan saya ingat kalau sempat berkata kepada suami, “Hun, kalau kita gak punya anak, gak apa-apa yah?” Dan suami berusaha untuk menenangkan diri saya.

Tapi ternyata, kita ditemukan jalan untuk mengetahui masalah yang terjadi sekaligus penyelesaiannya walau harus mengeluarkan biaya bulanan untuk pengobatan sebelum dan selama kehamilan yang jumlahnya cukup berarti bagi keuangan kami.

Dan bahkan, keinginan saya dikabulkan (lagi) oleh-Nya untuk dapat mengalami proses melahirkan secara normal, walaupun harus menahan sakit akibat kontraksi selama empat hari. Sakit yang membawa nikmat, kalau saya boleh melukiskannya dengan kata-kata.

Saya masih dikelilingi oleh teman-teman yang baik hingga saat ini. Saya diberi kesempatan buat kenal dengan teman yang sangat suportif dan kekeluargaan di lingkungan kerja (mbak Ade, mbak Yuyun, mbak Yusi, Ega, Desy, Laily, Dewi, mbak Yenny, Arzul, de el el…).That’s why I miss you guys!

Saya masih diberi kesempatan untuk mengenal dunia blogging. Saya bisa berkenalan dengan banyak teman di dunia maya. Saya bisa belajar tentang banyak hal dari sesama blogger.

Tuh kan! Ternyata kalau digali lebih dalam, masih ada segudang hal-hal kecil yang harusnya saya syukuri.

Wah, mungkin mulai sekarang, saya harus berusaha untuk selalu mengucapkan “Alhamdulillah” untuk hal-hal kecil yang saya nikmati.

Ya Allah! Jangan lupa sentil hamba-Mu ini kalau lupa bersyukur terus. Tapi sentilnya jangan kuat-kuat yah! (hehe teteup minta yang enak)

Amin. :D

Oya, kalau kamu mau baca posting dengan topik “Bersyukur”, langsung saja baca di blog ini:

Category: Terkini  Tags:
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
4 Responses
  1. zaki says:

    kata orang jawi : Jembar segarane. Maksudnya kesabaran itu seluas lautan. hampir-hampir tak bertepi

    [Reply]

  2. rudihalim says:

    Baca postingan pertama….eh yg empunya meminta maaf (walau bukan kesaya kali..he2..)Insya ALLAH saya Maafin tapi jangan sekali-kali lagi ya Bu..^-^.
    regard.

    [Reply]

  3. Desy says:

    Wah, saya bersyukur juga nama saya kesebut.

    [Reply]

  4. Apotik says:

    http://anakboncel.net/wp-content/plugins/Luxboy-Smiley2/tob.gif

    Memang benar, kita sering jarang bersyukur untuk apa yang sudah kita dapatkan. Selalu memikirkan lebih lebih lebih dan tidak ada akhirnya.

    Bersyukur kepada apa yang sudah kita dapatkan membuat diri kita sendiri puas dan merasa bangga apa yang sudah didapatkannya. AMIN

    [Reply]

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:dead: :pray: :clinguk2: :tob: :hoho: :jedug: :lempar: :mikir: :nyembah: :plis: :puyeng: :sikut: :sliweran: :diem: :evillaugh: :gemes: :hore: :lirik: :beer: :ngacir: :matabelo: :mataduitan: :mlorok: :nangis: :ngakak: :ngelamun: :ngikik: more »

Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.