Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu mau buat posting ini. Tapi gara-gara ada teman yang ngajak chatting sampai menjelang tengah malam, akhirnya gagal.

Mana pakai ditakut-takuti lagi. Katanya, “Jangan lihat jendela jam 00.00. Nanti ada penampakan.” Emburrr… penampakan bulan, bintang, pohon, gelapnya malam, dst. Untung gak mempan sama diriku yang biasa tidur dengan jendela terbuka (hehe tapi ditutupi tirai sih).

Balik ke topik awal soal copet. Teman kantor saya dalam 2 minggu berturut-turut bertemu dengan geng pencopet yang merajalela di angkutan umum di daerah tepian Jakarta.

Cerita pertama terjadi di pagi hari saat dia berangkat menuju ke kantor. Mendadak seorang laki-laki naik angkot dan duduk di dekat pintu. Secara mendadak pula, ibu yang duduk di sebelah teman saya ini, sebut saja mbak Nop, mendekat ke dirinya dan berkata, “Curiga yah mbak?”. Mbak Nop mengangguk. “Soalnya kemarin saya lihat orang ini beraksi mencopet. Dia bawa senjata tajam,” lanjut sang ibu. Siapa yang gak dag dig dug mendengar cerita ini. Apalagi mereka hanya berdua di dalam angkot.

Namun, tak lama kemudian, segerombolan lelaki (kalau tak salah jumlahnya 4 orang), naik ke dalam angkot tersebut. Semuanya membawa tas ransel berwarna hitam. Dan salah satu laki-laki tersebut memaksa duduk di antara mbak Nop dan sang ibu. Wah ini sih sudah jelas kawanan pencopet. Mbak Nop dan si ibu kontan memegang tas dengan erat.

Lucunya, lelaki pertama yang disebut sebagai copet oleh sang ibu langsung turun ketika keempat lelaki kawanan copet tersebut naik. Hehe, mungkin beda perkumpulan dan dia jelas kalah jumlah kalau timbul perseteruan.

Karena si mbak Nop memandangi keempat laki-laki itu lekat-lekat, mereka sadar bahwa aktivitas yang akan dilakukan telah dicurigai sehingga akhirnya memutuskan untuk turun di halte berikutnya. Untung bukan kepalang buat kawanan copet tersebut. Saat berhenti di halte, mendadak anak-anak sekolah menyerbu naik angkot. Kawanan copet tersebut batal untuk turun dan mungkin akhirnya berhasil melakukan aksinya pada anak sekolah. Sementara itu, mbak Nop dan sang ibu turun setelah mendekati tujuan dengan tubuh gemetaran. Nyaris menjadi korban.

Kejadian kedua terjadi minggu depannya. Kali ini mbak Nop yang sedang bersemangat meneruskan kuliahnya naik angkot ke arah Kp. Rambutan sepulang dari kantor. Mbak Nop memilih duduk di depan, sebelang bang supir. Sementara di bagian belakang ada 2 orang penumpang wanita yang duduk di belakang bang supir.

Saat di perempatan Graha Cijantung, 4 orang lelaki menyandang tas ransel naik ke dalam angkot tersebut. Dua orang lelaki duduk di bangku untuk 4 orang, sementara 2 orang lainnya duduk tepat disebelah 2 orang penumpang wanita ini.

Mendadak, salah seorang lelaki yang duduk di sebelah penumpang wanita beraksi seperti orang hendak muntah dan memaksa untuk membuka jendela yang tepat berada di belakang salah seorang wanita ini. Nah, si wanita yang tepat di depan jendela mau tidak mau agak berdiri dengan posisi badan dan tas ke depan. Mendadak, si wanita ini spontan menarik tasnya dan melemparkannya ke bangku depan dimana mbak Nop duduk, sambil berkata, “Maaf yah mbak.”

Mbak Nop jelas kaget mendapat hadiah tas tersebut. Dia memandang ke belakang dan akhirnya mengerti apa yang terjadi. Kawanan pencopet kembali beraksi di angkot. Seram!

Setelah gagal dengan aksinya, kawanan ini akhirnya turun. Si wanita yang melemparkan tas ke depan meminta maaf dan menjelaskan kalau mendadak tasnya terasa berat saat dia maju ke depan. Ketika dia melihat, bukaan tasnya robek sehingga dia panik dan spontan melemparkan tas. Untung tidak ada barang yang hilang.

Mendengar cerita si mbak Nop ini, saya jadi teringat kejadian sama yang menimpa saya dan teman di angkot jurusan yang sama. Kalau ingat tindakan saya saat itu, rasanya geli mengingat kebodohan diri ini.

Jadi, saat itu saya dan teman duduk di pojok belakang angkot dan sedang terlibat percakapan yang seru. Kita tidak memperhatikan ada 4 orang lelaki beransel (lagi!) naik ke dalam angkot. Satu orang duduk persis di depan saya (pojok dekat jendela), satu orang di sebelahnya tapi dekat pintu, sementara 2 orang lainnya duduk tepat di sebelah teman saya.

Mendadak, lelaki di sebelah teman saya batuk-batuk hebat dan beraksi seolah-olah hendak membuang dahak. Dengan agak sedikit memaksa, lelaki yang batuk ini memaksa untuk membuang dahak lewat jendela tepat di belakang saya. Dia mendorong badan teman saya maju ke depan, dan kemudian mendorong badan saya juga maju ke depan sambil berusaha membuka jendela.

Terus terang, saat si lelaki melakukan aksi ini saya baru saja berpikir, “Kenapa sih nih orang bodoh banget? Buang dahak aja nyusahin orang. Kan bisa tuh buang lewat pintu. Repot amat sih!”

Kemudian, terdengar bunyi “Srett…”. Deg! Saya spontan sadar! Dasar bodoh! Mereka copet dan saya jadi sasarannya. Kenapa mikirnya lama banget sih!

Dengan spontan pula saya melihat ke arah tas dan sekilas melihat sekelebat tangan ditarik menjauh dari ritsleting yang sudah terbuka seperempat bagian. Saya langsung merogoh ke dalam tas untuk mengecek apakah dompet dan handphone masih ada atau sudah raib. “Aman,” ujarku dalam hati.

Saya pandangi lelaki di depan saya yang duduk dengan tegang dengan tangan dimasukkan ke bawah tas ranselnya. “Heh, kamu mau copet saya yah?” ujarku dengan nada marah (huahhh macannya keluar nih).

“Apaan sih mbak? Saya gak mau nyopet kok.” ucap lelaki itu.

“Alah, gak usah pura-pura, gue jelas-jelas dengar ritsleiting tas terbuka.” ujarku lagi.

“Periksa dulu mbak tasnya,” celetuk suara lelaki, temannya si copet.

“Udah deh. Dasar emang elu copet yah copet.” lanjutku masih dengan nada tinggi.

Entah kaget atau berniat lari, si copet mendadak membuka pintu jendela di belakangnya lebar-lebar. Dan kemudian menjentikkan tangannya ke atap angkot. Bang supir memberhentikan mobilnya. Dan teman saya spontan menyeret saya turun. Saya sebenarnya tidak rela turun karena belum puas mengomel. Tapi sang teman menenangkan sambil mengingatkan kalau mereka berempat dan semuanya lelaki. Kita berdua hanya sempat berkata pada bang supir ketika turun, “Tuh di angkot lu isinya copet semua. Copet kok diangkut sih”

Pengalaman saya yang lain dengan copet terjadi di tahun 2002. Saat itu saya dan mantan pacar, yang telah menjadi Papanya Dira, turun dari bis Metro Mini 610 jurusan Blok M – Pd. Labu. Saya ingat kita turun di dekat Aneka Buana. Sambil bergandengan tangan, kita menuju pintu belakang bis. Ketika hendak menuruni tangga, mendadak seorang laki-laki menyelinap tepat di belakang mantan pacar. Saya agak kesal juga karena pegangan tangan terlepas.

Sambil agak menggumam, saya pun menuruni tangga bis seraya menarik tas ransel yang posisinya sedikit tertahan. Dan “Srettt…”, terdengar suara ritsleiting terbuka. Spontan saya berbalik badan dan mendekap tas ransel yang sudah terbuka. Tangan saya langsung meraba bagian dalam tas untuk mengecek kelengkapannya.

Huahhh… saya langsung mengomel ke bapak tua yang tepat berada di belakang saya. “Eh Pak! Mau nyopet yah! Gak tau malu banget sih! Udah tua masih nyopet.”

Si bapak ini langsung kembali duduk di bangku belakang bertindak seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa. Jelas saya merasa gemas melihatnya. Namun, ketika hendak melanjutkan omelan, saya dicolek oleh kenek bis, “Mbak, ada yang hilang enggak? Kalau gak ada, dibiarin aja mbak. Temannya banyak tuh mbak.”

Cling! Otakku langsung berpikir jernih. Hehe, iya juga yah! Mana cuma berdua gini sama si mantan pacar yang gak jago bela diri. Kalau diapa-apain wah…

Saya pun turun sambil bersungut-sungut. Sementara mantan pacar bengong di tepi jalan. Heran melihat kejadian itu. Saya pun lanjut mengomel, tapi kali ini kepada mantan pacar.

Ternyata, pocket depan tas mantan pacar terbuka lebar. Hehe, duit recehan yang ditaruh dalam plastik camera film diambil copet yang menyelinap di antara kita berdua. Menyadari hal ini kita berdua tertawa geli. Yah sudahlah! Untung duit receh yang hilang. Ikhlasin saja.

Yah kira-kira begitulah segelintir modus operasi kawanan copet berdasarkan pengalaman saya dan teman. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa diceritakan. Lain waktu kali yah!

Btw, kawanan copet ini beraksi tidak hanya di angkutan umum. Pusat perbelanjaan dan bahkan jembatan penyeberangan pun menjadi area sasaran. Kreatif kan copet Indonesia?

Kenapa yah orang lebih memilih menjadi copet dibandingkan harus bekerja keras membanting tulang sampai tetes darah penghabisan?

Mungkin akibat lahirnya pemikiran “serba instant”. Mulai dari makanan instant, ijazah instant bahkan sampai kaya cara instant.

Yang penting kaya! Semua cara dihalalkan!

Dan lucunya, pemikiran serba instant ini melanda semua kalangan, bahkan mereka yang bisa dikatakan punya latar belakang pendidikan yang baik.

Sedih gak sih?

Ah saya sudahi dulu posting kali ini. Kalau diteruskan, lagi-lagi saya akan mengomel kemana-mana, dari A sampai Z.

Semoga posting saya kali ini berguna yah.

Category: Curhat, Nostalgia
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
3 Responses
  1. fuda says:

    wado do do do ..

    aje gile ntu copet2 .. mangsa nya cewek2 ama bocah2 ..

    makin horor aja deeeh ..

    waktu ntu juga pernah fuda . tapi lebih kocak ..

    copetnya nga jadi nyopet . lho kok bisa fud ?

    jadi bgini .. pas di metromini .. tiba2 ada orang tereak di sebelah fuda ..

    lhaa knapa tuh bocah .. tereak2 ga jelas .. blom minum obat kali .. wakakaka ..

    ternyata eh ternyata itu copeeeet .. GRRRRRRR

    Tas fuda basah smua . SOALNYA yg dia mo copet itu BAKSO PANAS .. WAKAKAKKAKAKAKA..

    aah gila tas fuda bau kuah bakso .. tapi gpp barang2 aman hihihihi ..

    [Reply]

  2. tyas says:

    waaah… bener2 nyebelin yah, sekarang copet dimana2… gerombolan pula…

    thanks udah ngingetin yaa…

    [Reply]

  3. maya says:

    pernah ketemu juga tuh mba.. tapi aku posisi duduk deket pintu di kursi ulang tahun itu tuh mba… copetnya duduk di belakang supir n badannya maju2. mana sendirian pula diriku, akhirnya tak liatin aja pelototin, untung lokasi turun sudah dekat hehehe. trun2 gemeteran euy…
    btw, mba Uke jagoan pisan nantangin copet kekekekeke

    [Reply]

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:dead: :pray: :clinguk2: :tob: :hoho: :jedug: :lempar: :mikir: :nyembah: :plis: :puyeng: :sikut: :sliweran: :diem: :evillaugh: :gemes: :hore: :lirik: :beer: :ngacir: :matabelo: :mataduitan: :mlorok: :nangis: :ngakak: :ngelamun: :ngikik: more »

Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.