Mau cerita nih. Dengerin Baca yah!
Ceritanya ruang kantor dari divisi di mana saya bergabung habis diobrak-abrik alias disuruh pindah ke lantai 2 (setelah konon katanya divisi ini sudah bermukim di lantai dasar selama beberapa tahun).
Terus terang kami semua kesal
dengan perintah ini karena mengingat jumlah dokumen registrasi produk yang melimpah ruah dan kenyataan bahwa kami juga harus mengangkut filing cabinet yang beratnya sekian ton itu.
Rencana pindah ini sebenarnya sudah menjadi gosip umum buat kami sejak beberapa bulan sebelumnya. Namun karena para petinggi perusahaan masih berdebat bernegosiasi mengenai penempatan ruangan dan personel, rencana ini baru terlaksana di pertengahan April yang lalu. Itu juga terjadi setelah timbul huru-hara di sana sini, meeting berulang kali antara pihak manajemen dengan si bos untuk negosiasi ruangan dan pengaturan lainnya.
Akhirnya, sebagai pegawai yang baik, kami terpaksa dengan sukarela menerima keputusan dari manajemen untuk pindah ke lantai 2.
Dan resmi dimulailah kegiatan membereskan dokumen de el el yang ada di meja masing-masing dan disusul dengan kegiatan membereskan dokumen yang ada di filing cabinet raksasa.
Karena kami semua sepakat merasa berkeberatan meluangkan waktu untuk melakukan pindahan di hari libur Sabtu & Minggu seperti yang ditetapkan oleh manajemen perusahaan, maka pengemasan dokumen dan barang dicicil sejak hari Kamis. Maklum, namanya juga ibu-ibu. Mending dimarahin sama manajemen gara-gara gak masuk ke kantor saat weekend daripada harus ninggalin anak, kan?
Nah, terkait dengan acara pindah ruangan ini, saya agak tergelitik untuk menceritakan beberapa kejadian yang mengiringinya.
Kejadian pertama adalah kejadian yang sangat mengesalkan dan menimpa teman saya yang diakibat rasa “ego” dari salah seorang manajer (sebut saja Pak X).
Sejak beberapa hari sebelum rencana jadwal pindah tersebut, si Pak X ini sudah berulang kali mampir ke ruangan yang diisi oleh 3 orang teman saya untuk bertanya kapan dokumen dan barang-barang mereka dibereskan.
Sejak hari Kamis, 2 dari 3 orang teman saya yang ada di ruangan tersebut tidak bisa ikut serta dalam kegiatan pindah ini karena 1 orang harus keluar kota disebabkan tugas dari kantor dan seorang lagi mengalami musibah (sang ibunda terkena stroke), sehingga yang tersisa di ruangan tersebut hanya 1 orang (sebut saja namanya M)
Saat hari Jumat, karena terus didesak oleh si Pak X, akhirnya M terpaksa harus membereskan dokumen miliknya sekaligus dokumen milik kedua teman kami yang berhalangan hadir. Nah, karena keterbatasan kardus untuk mengepak dokumen, Pak X dengan otoritasnya sebagai manajer, secara khusus meminta kardus tambahan ke gudang untuk mempercepat mempermudah pekerjaan M.
Menjelang pukul 11 siang, dengan meninggalkan kegiatan beres-beres, kami semua berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk ibunda teman sekaligus memberi dukungan moril kepadanya. Pukul 2 siang kami sampai kembali ke kantor dan menemukan hal yang membuat kami semua terperangah. ![]()
Ruangan yang ditinggalkan pergi oleh M selama 3 jam telah berubah total. Furnitur telah berganti rupa. Komputer menghilang. Dokumen yang sedang dirapihkan mendadak bersih. Yang tersisa hanyalah tas si M yang harus diminta kepada penghuni ruangan yang baru, Pak X.
Rupanya si Pak X tidak sabar untuk segera menempati ruangan barunya sehingga mengutus bawahannya untuk melakukan pemberesan secara paksa, tanpa harus menunggu bantuan dari office boy, dan bahkan ijin dari pemilik ruangan sebelumnya.
Jadi, bisa kita bayangkan betapa sedihnya M itu ketika mendapati dirinya telah terusir dari ruangan kerja tanpa ada tenggang rasa dan kompromi sama sekali. Dan bahkan, ruangan pengganti sama sekali belum bisa digunakan sehingga M harus luntang lantung selama sisa jam kerja di hari Jumat itu. ![]()
Apakah setelah manajemen mengetahui tindakan Pak X tersebut, mereka menjatuhkan sanksi untuknya? Hehe… tak usah dijawab yah. Bukan hidup di dunia namanya kalau keadilan benar-benar ditegakkan.
Heran yah, ada orang yang selevel Pak X, dengan usia (mungkin) sekitar 45-50 tahun, dan telah makan asam garam kehidupan yang lebih banyak daripada kami, dapat melakukan tindakan sedemikian rupa.
Pada awalnya saya pikir bahwa Pak X ini memiliki kualitas kepribadian lebih baik daripada sebagian besar manajer di kantor. Namun ternyata apa yang dilakukan oleh Pak X malah mencerminkan kualitas kepribadian yang justru lebih buruk lagi. Runtuh seketika rasa simpati kepadanya. Dan benarlah apa kata pepatah yang berbunyi, “Don’t judge a book by its cover” (hehe.. jadi ingat salah satu posting yang pernah dibuat mbak Ade deh). ![]()
Dan yang membuat nilai Pak X semakin melorot lagi adalah fakta bahwa tidak ada satu ucapan maaf pun yang keluar dari mulutnya. Entah hal ini dikarenakan dia merasa bahwa tidak ada yang salah dengan tindakannya atau dia gengsi harus meminta maaf kepada seorang “supervisor” yang jelas punya jabatan lebih rendah daripada dirinya.Tak tahulah apa yang dia rasakan. Yang jelas setelah ditegur oleh bos divisi saya dan HR, Pak X langsung tutup pintu ruangan selama sisa kegiatan pindah ruangan tersebut.
Kejadian kedua, yang membuat saya terinspirasi untuk buat posting ini, adalah kunjungan si bule ke ruangan kami tadi siang.
Selama acara pindahan berlangsung, si bule sedang berada di luar negeri. Tau deh liburan apa kerja… wkwkwk…. ![]()
Nah, jadi tadi siang tuh dia mengadakan kunjungan perdana ke ruangan kami di lantai 2.
Apakah kami senang dengan kunjungannya? Bwahaha…. jangan tanya ke saya deh… coba saja tanya kepada si bos yang selama mengiringi kunjungan si bule pasang air muka “Sekarang lu baru komeng deh! Kemarin kemana aja?”
Selama kunjungan si bule ke ruangan baru kami, banyak sekali komentar yang dia keluarkan.
Saat memasuki ruangan grup registrasi Asia Pasifik, si bule mengeluarkan komentar yang kira-kira intinya begini, “This room should not be filled with 4 people. This is not healthy. You can’t keep like this in the future. You should only have 2 people in this room. And look at the furnitures. They don’t match each other. You should pick same color for all furnitures. It will look nicer.”
Heh… please deh! Siapa yang kasih persetujuan atas kepindahan kita ke lantai 2 ini?
Kemudian saat memasuki grup registrasi lokal, si bule juga berkomentar mengenai warna binder untuk file registrasi. Ampunnnn!!! Hal printil-printil kek gitu aja dia pikirin amat. Bahkan soal cat dinding juga dikasih komentar.
Dan masih banyak komentar lainnya lagi.
Ujung cerita dari kunjungan si bule ini adalah… bakal ada acara pindahan lagi.![]()
Filing cabinet raksasa yang sudah masuk ke ruangan registrasi lokal harus dipindah tempat lagi karena di sana akan mendapat pindahan 2 orang dari anak registrasi Asia Pasifik.
Bikin murka gak sih? Emang dikira beres-beres barang buat pindahan lagi enak apa?
Aduh, semoga rencana penyusunan ulang penempatan personel divisi kami diundur hingga tiba masa saya mengucapkan “sayonara” dari perusahaan itu. Capek euy kalau harus beresin meja dan dokumen lagi.

















