Archive for » April, 2009 «

Mau cerita nih. Dengerin Baca yah!

Ceritanya ruang kantor dari divisi di mana saya bergabung habis diobrak-abrik alias disuruh pindah ke lantai 2 (setelah konon katanya divisi ini sudah bermukim di lantai dasar selama beberapa tahun).

Terus terang kami semua kesal dengan perintah ini karena mengingat jumlah dokumen registrasi produk yang melimpah ruah dan kenyataan bahwa kami juga harus mengangkut filing cabinet yang beratnya sekian ton itu.

Rencana pindah ini sebenarnya sudah menjadi gosip umum buat kami sejak beberapa bulan sebelumnya. Namun karena para petinggi perusahaan masih berdebat bernegosiasi mengenai penempatan ruangan dan personel, rencana ini baru terlaksana di pertengahan April yang lalu. Itu juga terjadi setelah timbul huru-hara di sana sini, meeting berulang kali antara pihak manajemen dengan si bos untuk negosiasi ruangan dan pengaturan lainnya.

Akhirnya, sebagai pegawai yang baik, kami terpaksa dengan sukarela menerima keputusan dari manajemen untuk pindah ke lantai 2. Dan resmi dimulailah kegiatan membereskan dokumen de el el yang ada di meja masing-masing dan disusul dengan kegiatan membereskan dokumen yang ada di filing cabinet raksasa.

Karena kami semua sepakat merasa berkeberatan meluangkan waktu untuk melakukan pindahan di hari libur Sabtu & Minggu seperti yang ditetapkan oleh manajemen perusahaan, maka pengemasan dokumen dan barang dicicil sejak hari Kamis. Maklum, namanya juga ibu-ibu. Mending dimarahin sama manajemen gara-gara gak masuk ke kantor saat weekend daripada harus ninggalin anak, kan?

Nah, terkait dengan acara pindah ruangan ini, saya agak tergelitik untuk menceritakan beberapa kejadian yang mengiringinya.

Kejadian pertama adalah kejadian yang sangat mengesalkan dan menimpa teman saya yang diakibat rasa “ego” dari salah seorang manajer (sebut saja Pak X).

Sejak beberapa hari sebelum rencana jadwal pindah tersebut, si Pak X ini sudah berulang kali mampir ke ruangan yang diisi oleh 3 orang teman saya untuk bertanya kapan dokumen dan barang-barang mereka dibereskan.

Sejak hari Kamis, 2 dari 3 orang teman saya yang ada di ruangan tersebut tidak bisa ikut serta dalam kegiatan pindah ini karena 1 orang harus keluar kota disebabkan tugas dari kantor dan seorang lagi mengalami musibah (sang ibunda terkena stroke), sehingga yang tersisa di ruangan tersebut hanya 1 orang (sebut saja namanya M)

Saat hari Jumat, karena terus didesak oleh si Pak X, akhirnya M terpaksa harus membereskan dokumen miliknya sekaligus dokumen milik kedua teman kami yang berhalangan hadir. Nah, karena keterbatasan kardus untuk mengepak dokumen, Pak X dengan otoritasnya sebagai manajer, secara khusus meminta kardus tambahan ke gudang untuk mempercepat mempermudah pekerjaan M.

Menjelang pukul 11 siang, dengan meninggalkan kegiatan beres-beres, kami semua berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk ibunda teman sekaligus memberi dukungan moril kepadanya. Pukul 2 siang kami sampai kembali ke kantor dan menemukan hal yang membuat kami semua terperangah.

Ruangan yang ditinggalkan pergi oleh M selama 3 jam telah berubah total. Furnitur telah berganti rupa. Komputer menghilang. Dokumen yang sedang dirapihkan mendadak bersih. Yang tersisa hanyalah tas si M yang harus diminta kepada penghuni ruangan yang baru, Pak X.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Rupanya si Pak X tidak sabar untuk segera menempati ruangan barunya sehingga mengutus bawahannya untuk melakukan pemberesan secara paksa, tanpa harus menunggu bantuan dari office boy, dan bahkan ijin dari pemilik ruangan sebelumnya.

Jadi, bisa kita bayangkan betapa sedihnya M itu ketika mendapati dirinya telah terusir dari ruangan kerja tanpa ada tenggang rasa dan kompromi sama sekali. Dan bahkan, ruangan pengganti sama sekali belum bisa digunakan sehingga M harus luntang lantung selama sisa jam kerja di hari Jumat itu.

Apakah setelah manajemen mengetahui tindakan Pak X tersebut, mereka menjatuhkan sanksi untuknya? Hehe… tak usah dijawab yah. Bukan hidup di dunia namanya kalau keadilan benar-benar ditegakkan.

Heran yah, ada orang yang selevel Pak X, dengan usia (mungkin) sekitar 45-50 tahun, dan telah makan asam garam kehidupan yang lebih banyak daripada kami, dapat melakukan tindakan sedemikian rupa.

Pada awalnya saya pikir bahwa Pak X ini memiliki kualitas kepribadian lebih baik daripada sebagian besar manajer di kantor. Namun ternyata apa yang dilakukan oleh Pak X malah mencerminkan kualitas kepribadian yang justru lebih buruk lagi. Runtuh seketika rasa simpati kepadanya. Dan benarlah apa kata pepatah yang berbunyi, “Don’t judge a book by its cover” (hehe.. jadi ingat salah satu posting yang pernah dibuat mbak Ade deh).

Dan yang membuat nilai Pak X semakin melorot lagi adalah fakta bahwa tidak ada satu ucapan maaf pun yang keluar dari mulutnya. Entah hal ini dikarenakan dia merasa bahwa tidak ada yang salah dengan tindakannya atau dia gengsi harus meminta maaf kepada seorang “supervisor” yang jelas punya jabatan lebih rendah daripada dirinya.Tak tahulah apa yang dia rasakan. Yang jelas setelah ditegur oleh bos divisi saya dan HR, Pak X langsung tutup pintu ruangan selama sisa kegiatan pindah ruangan tersebut.

Kejadian kedua, yang membuat saya terinspirasi untuk buat posting ini, adalah kunjungan si bule ke ruangan kami tadi siang.

Selama acara pindahan berlangsung, si bule sedang berada di luar negeri. Tau deh liburan apa kerja… wkwkwk….

Nah, jadi tadi siang tuh dia mengadakan kunjungan perdana ke ruangan kami di lantai 2.

Apakah kami senang dengan kunjungannya? Bwahaha…. jangan tanya ke saya deh… coba saja tanya kepada si bos yang selama mengiringi kunjungan si bule pasang air muka “Sekarang lu baru komeng deh! Kemarin kemana aja?”

Selama kunjungan si bule ke ruangan baru kami, banyak sekali komentar yang dia keluarkan.

Saat memasuki ruangan grup registrasi Asia Pasifik, si bule mengeluarkan komentar yang kira-kira intinya begini, “This room should not be filled with 4 people. This is not healthy. You can’t keep like this in the future. You should only have 2 people in this room. And look at the furnitures. They don’t match each other. You should pick same color for all furnitures. It will look nicer.”

Heh… please deh! Siapa yang kasih persetujuan atas kepindahan kita ke lantai 2 ini?

Kemudian saat memasuki grup registrasi lokal, si bule juga berkomentar mengenai warna binder untuk file registrasi. Ampunnnn!!! Hal printil-printil kek gitu aja dia pikirin amat. Bahkan soal cat dinding juga dikasih komentar.

Dan masih banyak komentar lainnya lagi.

Ujung cerita dari kunjungan si bule ini adalah… bakal ada acara pindahan lagi.

Filing cabinet raksasa yang sudah masuk ke ruangan registrasi lokal harus dipindah tempat lagi karena di sana akan mendapat pindahan 2 orang dari anak registrasi Asia Pasifik.

Bikin murka gak sih? Emang dikira beres-beres barang buat pindahan lagi enak apa?

Aduh, semoga rencana penyusunan ulang penempatan personel divisi kami diundur hingga tiba masa saya mengucapkan “sayonara” dari perusahaan itu. Capek euy kalau harus beresin meja dan dokumen lagi.

Sing mboten-mboten wae wong londo iku tha…

Category: Curhat  15 Comments

Kalau disuruh milih berangkat kerja mau bawa mobil sendiri atau naik angkot, pasti saya akan milih “naik angkot”.

Hehe, kenapa coba? Siapa yang bisa tebak?

1………………………………………..2…………………………..ada yang tahu? ……….3……… nyerah?

Jawabannya adalah kalau naik angkot, otomatis waktu tidur saya bertambah sekitar 30 menit hingga 1 jam. Xixixi… segitunya yah?

Maklum, sejak punya blog, waktu tidur malam saya tambah molor. Dulu, saat jam menunjukkan pukul 21.00, saya langsung jadi nahkoda dan berlayar ke pulau kapuk. Sekarang,saya baru bisa memejamkan mata paling cepat pukul 23.30.

Jadi, tambahan waktu tidur di angkot itu memiliki arti yang mendalam buat saya. Bayangkan! Kalau jatah tidur di angkot dihilangkan, bisa-bisa sepanjang jam kerja saya akan sibuk mengumbar kantuk yang ujung-ujungnya menghambat “kreativitas” kerja.

Selain itu, tidur di angkot adalah cara jitu untuk mengatasi rasa stress akibat kemacetan khas Jakarta yang sering kali bertambah macet kalau ada polisi yang mengatur lalu lintas.

Kalau kondisi macet parah, saya akan melihat jam sambil memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menembus kemacetan. Jika waktu sudah mepet, mau tidak mau saya harus berjalan kaki. Dan sebaliknya, jika waktu masih berlebih, saya akan memilih untuk memejamkan mata dan mulai berlayar.

Hehe, itulah senangnya berangkat kerja dengan menggunakan angkot.

Tapi, naik angkot di waktu pulang kerja sering kali menjadi pilihan yang mengesalkan. Apalagi sih yang bikin kita kesal kalau tidak kebiasaan angkot buat mengetem.

Saya ngerti kok. Si abang supir harus cari penumpang banyak biar terkumpul duit untuk kejar setoran. Tapi kok yah hampir di tiap gang sepanjang jalur perjalanan, si abang (halah akrab banget panggilannya) akan memberhentikan angkotnya untuk menunggu calon penumpang baru.

Jelas penumpang yang ada di dalam angkot jadi bersungut-sungut. “Wong mau buru-buru kok malah mampir.” Rasa kesal semakin bertambah apabila calon penumpang yang ditunggu ternyata tidak ada niat sama sekali untuk naik angkot tersebut.

Biasanya kalau naik angkot yang supirnya hobi mengetem, saya akan turun dan pindah ke angkot lain (atau berjalan kaki jika lokasi yang dituju sudah dekat).Yah rugi uang sih kalau pindah ke angkot lain. Tapi saya merasa lebih rugi lagi kalau harus kehilangan waktu bertemu dengan anak sebelum dia tidur. Hehe… maklum, ibu-ibu sih.

Jadi, kalau waktu pulang kantor, saya akan menunggu di posisi yang cukup strategis untuk melihat angkutan umum mana yang muncul duluan. Apakah angkot atau Metro Mini? Semuanya demi mengejar waktu supaya lebih cepat tiba di rumah.

Dan, hari ini, saya terpaksa memilih naik angkot sepulang kerja karena bawaan yang cukup berat.

Alhasil, saya kesal setengah mati karena si abang bolak-balik berhenti menunggu calon penumpang tiap kali ada Metro Mini yang berputar balik ke arah Blok M.

Sementara supir angkot sibuk dengan promosinya “Cinere, Cinere… Meruyung, Cinere..”, saya sibuk berhitung berapa kali Metro Mini jurusan Cinere lewat mendahului. Tiga kali!

“Ihhh… lama banget sih nih angkot! Kok gak jalan-jalan…”

Setelah sibuk ngedumel tanpa hasil, dan bahkan bibir saya jadi monyong, akhirnya angkot bergerak juga menuju Cinere.

Sampai juga di rumah. Dua puluh menit lebih telat dari biasanya.

Ampun! Emang, angkot ngetem gak ada abisnya…

Category: Curhat  Tags: ,  26 Comments

Haduhhh…. ngantuk banget! Mana capek pula!

Hehe, maklum, tadi siang abis seru-seruan ngerasain yang namanya ikutan order ke Oriflame Bulungan. Untuk yang pertama kalinya. Dan yang terakhir kalinya? Xixixi… lihat-lihat keadaan nantinya deh. *beneran deh! saya paling anti dengan yang namanya keramaian massa, apalagi yang isinya mayoritas perempuan…*

Jadi, ceritanya hari ini saya ikut yang namanya training presentasi. Diadakan oleh Boss Family dan berlangsung di Oriflame Bulungan.

Dengan mengenyahkan rasa malas berangkat dari rumah akibat hawa liburan yang sangat kental menggantung di pelupuk mata sejak pagi hari, akhirnya saya sampai juga di Bulungan pukul 09.30 pagi. Untung saya bisa nebeng dengan Mama yang kebetulan ada acara arisan di daerah Pramuka sehingga tidak perlu berjuang ekstra untuk naik bis/taksi.

Ketika menginjakkan kaki di dalam gedung Oriflame, suasana mendadak berubah dari keramaian khas suara lalu lalang kendaraan menjadi keramaian suara manusia dengan ciri khas ceracau perempuan (ha ha ha…. secara dirinya sendiri juga perempuan yah).

Ampun! Baru kali ini saya lihat konsultan Oriflame tumpah ruah di suatu tempat untuk melakukan transaksi pemesanan barang dalam rangka mengejar tutup poin. Mayoritas bergender perempuan, namun… cukup banyak juga loh yang bergender laki-laki.

Tadinya saya pikir saya bisa segera memesan barang sebelum training untuk tutup poin bulan April. Tapi melihat situasi yang sangat ramai, ditambah dengan fakta bahwa ini adalah pengalaman pertama untuk melakukan order langsung di kantor Oriflame, saya langsung ciut. Waduh… harus mulai dari mana nih? Gimana caranya mau order? Ujung-ujungnya yah saya langsung naik ke lantai 2 untuk mengikuti training.

Setelah melampaui training seru selama lebih 2 jam, dengan pembawa materi mbak Meuthia Rizki, saya kembali tergoda untuk melakukan order lagi. “Hmm, daripada besok-besok malah saya lupa order dan akhirnya performance discount raib, mendingan dibela-belain deh!” begitu pikir saya.

Alhamdulillah, saya ketemu dengan teman kuliah dulu, Niken, yang menawarkan untuk ikut order barang dengan menggunakan nomor antriannya. Setelah mengambil COF (Consultant Order Form) yang ternyata berharga Rp 100/lembar (padahal yah kalau dapat dari pesanan barang via telpon, ini COF sering disia-siakan alias masuk tong sampah), saya langsung mengisi kode-kode barang yang hendak dipesan sesuai dengan kekurangan jumlah BP (Business Point) untuk tutup poin.

*Ini catatan khusus buat mbak Ade. “Mbak, dah aku tupoin yah sekalian!”*

Karena waktu menunggu panggilan untuk nomor antrian yang dimiliki Niken masih lumayan jauh, akhirnya kami (Niken, Mia, saya dan satu lagi downline Niken yang saya lupa namanya) memutuskan untuk makan siang di Blok M Plaza. Hehe, secara tak terduga, ternyata saya mendapat traktiran makan siang dari Mia yang katanya besok berulang tahun.

“Huhu… thanks yah Mi! Baru aja kenal offline hari ini, sudah ikutan ditraktir. Jadi gak enak! Nanti gantian deh aku traktir kalau bonus Oriflamenya sudah 6 jutaan juga kayak kamu. ;)

Setelah makan siang selesai, Mia kembali naik ke lantai 2 untuk ikut kegiatan training offline Boss Family yang lainnya. Sementara Niken mulai memasuki antrian pesanan dan saya luntang lantung menantinya (akibat tidak bisa duduk sama sekali). Akhirnya, pukul 16.30 kita dipanggil untuk mengambil barang pesanan. Dan pukul 17.000 saya bernapas lega dan memutuskan untuk pulang ke rumah dengan taksi (yang menjadi pilihan akibat kaki gempor gak duduk-duduk dari tadi).

“Gak lagi-lagi deh order langsung ke Bulungan, apalagi akhir bulan menjelang tupo begini. Enakan juga pesan lewat telpon. Tinggal dial, sebutin kode dan informasi lain-lainnya, terima barang keesokan harinya sekalian bayar.”

Hmm, tapi yang seru dari pengalaman hari ini adalah hasil pengamatan yang saya lakukan, yaitu :

  • Konsultan Oriflame berasal dari berbagai kalangan dan usia, mulai dari anak sekolah/kuliah, pekerja kantoran, ibu rumah tangga, de es te.
  • Gak cuma perempuan yang bisa bergabung di bisnis Oriflame ini kok! Bahkan laki-laki pun bisa sukses dengan bisnis ini. Ha ha… saya tadi sempat takjub melihat seorang bapak yang membawa kedua anak lelakinya, sibuk melakukan pendaftaran member baru dan mengatur-atur pesanan barangnya (entah itu milik customer atau titipan upline/downlinenya yah)
  • Takjub melihat salah seorang Director di Oriflame yang statusnya baru kuliah semester awal dan memiliki penghasilan lebih dari 5 jeti sebulan. Hebat euy! Apakah saya yang umurnya hampir 2 kalinya bisa melakukan hal yang sama? Semoga! Dengan ijin Allah, tentunya.
  • Terlihat para lelaki yang dengan setia menunggu istri/pacar mereka selesai melakukan transaksi, duduk dengan wajah ceria/bosan/mengantuk. Bahkan, anak-anak pun ikut menemani ayah/bunda/kakaknya loh! Mulai  dari usia bayi hingga usia remaja. “Papil mau gak yah kalo disuruh menanti seperti ini? Hehe yang ada daku ditinggalin kemana kali….”
  • Saya mendapat sharing ilmu yang berharga dari hasil obrolan dengan Mia dan Niken. Thanks yah! Buat saran dan petunjuknya.
  • Dan yang paling akhir… toiletnya Oriflame Bulungan kurang bagus tuh! Harus dibuat lebih bagus dan lebih bersih lagi. *saran penting dari penggemar toilet*

Yah demikianlah saya sampai laporan hasil kunjungan saya ke Oriflame Bulungan hari ini, sekaligus order perdana di kantor Oriflame. Semoga bermanfaat bagi Anda semua. Saya, Uke, melaporkan kepada Anda dari rumah mertua Anakboncel.

Pagi ini saya baca posting di blog Muzda yang baru saya temukan saat blogwalking. Tema posting sih tentang R.A Kartini, sang pencetus emansipasi wanita di negeri ini.

“Hmm.. common posting nih keknya. Walau pun judul postingnya menarik juga ‘Hey, Kartini digugat..’,” pikir saya pada awalnya. “Paling juga gak jauh-jauh dari cerita perjuangan Kartini, surat-suratnya, dan hal-hal biasa yang umum dibahas selama ini,” pikir saya lebih lanjut.

Namun, setelah membaca lebih lanjut lagi… yaiks… ternyata… dalam euy! And truly madly deeply… I really love when she wrote these sentences:

Sekali waktu di televisi aku pernah mendengar Butet Kertaredjasa berkata, bahwa kodrat wanita itu hanya ada dua, hamil dan menyusui.
Menurutku, ini sanjungan yang luar biasa pada wanita. Menjadi Ibu bukan merupakan takdir yang membatasi geraknya, tapi justru merupakan kelebihan.

Dan inilah mungkin yang mendorong Kartini untuk menikah, dijodohkan atau tidak,…

Seketika luluh lantaklah air mata saya. Hehe… salah bahasa yah? Maksudnya, air mata saya kontan menetes satu per satu.

Ihhh cengeng banget yah? Wkwkwk….

Abis, gimana saya gak mau nangis… karena ternyata, selama menunggu datangnya masa pensiun dini dari dunia kerja yang sudah dijalani hampir 8 tahun, saya masih menyimpan keraguan akan peran baru saya nanti sebagai ibu rumah tangga (istri sekaligus ibu).

Kebayang kan? Tiap bulan terima gaji, mendadak harus menadahkan tangan ke suami. Kalau mau beli apa pun, terutama keperluan Dira, saya lebih senang menggunakan uang sendiri daripada meminta suami. Mau tutup poin buat bisnis saya ini, juga pakai uang sendiri (Untungnya buat tutup poin sudah bisa sedikit tercover dengan performance discount deh. Semoga tetap lancar bisnisnya. Amin.). Dan dalam 1 bulan lagi… hehe, saya bakalan menjadi seorang istri yang menanti dinafkahi suaminya. *heleuh bahasanya…*

Suami bahkan akhir-akhir ini sering bertanya kepada saya, “Mama siap gak jadi ibu rumah tangga? Nanti kamu stress lagi di rumah terus. Soalnya biasa kerja kantoran sih!”

Dan jawaban saya selalu standard dan terdengar klise, “Siap gak siap, yah tetap harus dijalankan toh?”

Saya sangat ingin menjadi ibu rumah tangga. Itu cita-cita terpendam saya dari dulu. Saya masuk dunia kerja setelah lulus kuliah lebih dikarenakan keinginan orang tua, terutama Mama, yang mendoktrin bahwa jaman sekarang akan lebih baik kalau perempuan juga bekerja. Lagi pula, selain belum ada rencana menikah, mau apa saya kalau bengong di rumah setelah lulus kuliah?

“Jangan seperti Mama nih! Dulu mau jadi guru, tapi sama Papa disuruh jadi ibu rumah tangga saja! Sekarang menyesal rasanya kalau ingat. Apalagi jaman sekarang Uk! Kalau perempuan gak ada pegangan sama sekali, susah kalau tiba-tiba ditinggal suami,” begitu ujarnya selalu.

Hmm, make sense! Kita tidak pernah bisa menerka kemana jalan hidup kita akan mengarah dan berakhir bagaimana kan?

Sebenarnya keraguan saya muncul karena di pikiran terus melayang-layang pertanyaan “Bisa gak yah saya jadi seorang “housewife” sekaligus “a mom” yang baik?”

Saya sangat sadar kalau menjadi seorang istri dan sekaligus ibu yang baik merupakan sebuah tantangan yang lebih berat daripada menjadi seorang pegawai/manager/direktur atau bahkan pemilik usaha mandiri sekali pun. Saya bahkan lebih deg-degan dibandingkan saat saya mau diinterview untuk suatu posisi di perusahaan tertentu. Jantung saya bahkan berdebar lebih kencang tiap kali ingat akan tanggung jawab dari profesi baru tersebut dibandingkan saat saya diajak bicara sama si bule dan dia berkata, “Look at into my eyes when I talk to you!” (And I win over him coz I dare myself to stare directly into his very own eyes as requested. Ha ha…)

Gimana gak deg-degan. Gimana gak berdebar. Tantangan profesi sebagai istri dan ibu itu tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada suami, keluarga dan masyarakat yang notabene manusia juga. Namun juga harus dipertanggungjawabkan ke hadapan Sang Khalik. “Apa saja yang sudah kamu ajarkan pada anakmu? Apa saja yang sudah kamu lakukan kepada anakmu? Apakah anakmu kau ajarkan untuk mengenal-Ku?” Beragam pertanyaan seperti terngiang di telinga.

Ampunnn!!! Pusing lagi deh! Gak heran deh bawaannya jadi sakit melulu yah?

Ya sud lah! Dipikirin amat sih Mama Indira…

Yang jelas, saya sangat berterima kasih kepada Muzda dengan adanya postingannya tersebut. Setidaknya saya semakin yakin bahwa profesi yang akan saya jalani nanti memang takdir yang memiliki berbagai kelebihan.

Doain yah saya bisa lulus dari tantangan ini, dan dapat mempertanggungjawabkan hasilnya, terutama di hadapan-Nya.

Amin…

Doain juga yah bisnis d’BC dan Dynasis saya bisa jalan dan terus berkembang. Huehehe… teteup deh promosinya gak ketinggalan. Yah namanya juga usaha…

Sehubungan dengan rencana kepindahan ke Paiton dan mengubah status menjadi “housewife”, akhir-akhir ini saya jadi tambah pusing. Belum lagi, timbul penyakit “lapar mata” kalau melihat peralatan rumah tangga.

Tau gak kenapa?

Kan selama ini saya tinggal di rumah mertua. Jadi, semua peralatan rumah tangga yang dipakai sehari-hari adalah barang inventaris mertua. Boro-boro deh mikirin buat beli yang namanya panci, wajan, oven, piring, gelas, de es te. Soalnya, kalau butuh sesuatu, tinggal buka lemari dan pakai deh apa yang ada.

Nah, sekarang berkenaan dengan rencana pindahan, saya jadi lumayan pusing tujuh keliling mikirin peralatan rumah tangga yang akan digunakan di Paiton. Hmm, piring gak punya, gelas gak punya, sendok dan garpu juga gak. Apalagi yang namanya panci, wajan, sutil, irus, ulekan, rice cooker, oven, de el el.

Jadilah, sekarang kalau berbelanja ke swalayan (mulai dari mini sampai yang hiper), saya pasti mampir di area peralatan rumah tangga. Lihat-lihat sekaligus membandingkan harga.

Tapi selama 6 bulan membandingkan, tak satu pun barang yang dibeli. Wkwkwk….

Soalnya, begini… 1 bulan yang lalu lihat toko A harganya X, 2 minggu kemudian lihat toko B harganya Y, minggu ini lihat toko C harganya Z. Saking banyaknya toko yang dilihat dan variasi harga yang tidak saya catat (salah sendiri!), akhirnya sampai di toko D, saya bingung sendiri. Eh, lebih murah di toko D ini atau toko A/B/C yah? Lupaaaaa!!!!

Nah, berhubung masa kepindahan mendekati waktunya, saya tambah panik karena belum banyak peralatan yang terbeli, sementara daftar “kebutuhan” yang akan dibeli bertambah. Hingga saat ini, saya baru berhasil membeli tempat bumbu dapur dan rak sepatu. Xixixi….

Sementara itu, saya masih “lapar mata” untuk membeli :

Oven/microwave (ceritanya mau bikin kue nih)
Gilingan untuk mencetak mie (ha ha… niatnya mau coba bikin mie sehat atau cheese stick)
Magic jar (hmm… masih bingung, mau beli yang warm & cook aja atau sekalian yang bisa buat nasi, bubur & sup yah?)
Panci (sebenarnya ngiler liat panci punya mertua, tapi gak berani ngambil… takut diungkit-ungkit nantinya)
Dual pan “Happy…” yang kek di Lejel Home Shopping (yang ini masih berharap Mama mau membelikannya untuk saya hehehe…)
Tempat beras (penting gak yah? soalnya dikasih tempat beras juga kadang beras masih suka kutuan)
Peralatan makan (hehe yang ini mah sepertinya akan dibekali sama Mama.. Alhamdulillah!)
Rak piring (bulan lalu naksir yang ada di Aneka Buana, tapi berhubung lagi bokek yah gak jadi dibeli. minggu lalu aku kembali untuk membelinya, ternyata sudah raib… hiks…)
Kukusan (kali aja mau bikin brownies kukus atau buat pepesan…)
Wajan dan sutil (wajib punya… buat ceplok telor :D )
Loyang kue (mau praktek bikin kue, kalau sempat….)
Tabung gas buat cadangan (hmm beli yang kecil aja kali yah cuma buat jaga-jaga kalau habis malam-malam)
Buku resep? (hehe, mungkin ikutin gaya mbak Ade, cari resep di Oom Google)
De es be…

Tuhhh kan!!! Masih banyak euy yang musti dibeli.

Huahhhh…. ada yang mau nyumbang saran apa yang perlu dan gak perlu dibeli?

Atau malahan ada yang mau nyumbang duit buat beli peralatan rumah tangga? Xixixi…

Ditunggu yah partisipasinya! Yang ikut berpartisipasi memberikan bantuannya, terutama duit, dijamin dapat pahala deh. Hehe… Peace!

Btw, ternyata mau pindahan ke lain kota itu pusing yah? Gak kebayang deh gimana pusingnya dulu emak & bapak saya pas dulu pindah tugas dari satu kota ke kota lainnya. Gak heran dulu suka dimarahin kalau ngerecokin emak pas beliau lagi beres-beres barang buat pindah.

Hehe sekarang saya yang ngerasain sendiri. :(

Wuihhh baru saja bayar hutang untuk posting award dari Meryl, eh dapat timpukan award baru lagi.

Hehe, thanks yah guys! Nice work! The awards landed precisely in my heart. I love them much!

Tapi, ternyata… selain tumpukan award baru tersebut, saya juga masih punya hutang award kepada beberapa bloggerista.

Pfffh… satu-satu dulu yah… dari yang terbaru sampai yang terlama… *tarik napas sambil mengingat-ingat hutang award lama*

Pertama adalah award yang saya dapat dari Sinta dan Mbak Fanda berikut ini:

Peraturan yang harus diikuti untuk memajang award ini adalah:

  1. Link the person who tagged you
  2. Copy the image above, the rules and the questinnaire in this post
  3. Post this in one or all of your blogs
  4. Answer the four questions following these Rules
  5. Recruit at least 7 friends on your blogroll by sharing with them
  6. Come back to Bloggista Info Corner at http://bloggistame.blogspot.com and leave the URL of your post in order for you/your  blog to be added to the Master List (Please do not change this link)
  7. Have fun!

Questions and Your Answers:

  1. Link the person who tagged you : Sinta dan mbak Fanda
  2. His/her site : Jendelaku Menatap Dunia dan Baca Buku Fanda
  3. Date when you were tagged : April 17 and April 15, 2009
  4. Person you tagged, tittle and URL :  See below

Kedua adalah award yang datang dari Mbak Ade yang berjumlah 4 buah. Dan 3 buah di antaranya adalah award yang saya lempar ke Mbak Ade dan dikembalikan lagi padaku. Xixixi….

“Jadi lempar-lemparan yah… awas loh mbak! Siap-siap aja…” *a lovely threat for Mbak Ade*

Yang 3 buah gak aku pajang yah Mbak! Jadi, cuma 1 award yang aku tampilkan di posting ini, yaitu:

Persyaratan untuk memajang award ini adalah:

  1. Take your award here
  2. Put the logo on your blog
  3. Add a link to the person who awarded you
  4. Nominate at least 7 other blogs
  5. Add links to those blogs on yours
  6. Leave a messages for your nominees on their blog
  7. After the pairs do not forget the comment

Ketiga adalah award dari Anak Nelayan berikut ini:

Dan, syarat yang harus saya kerjakan adalah:

  1. Buatlah daftar 10 hal dan kebiasaan (buruk) yang tidak disukai, namun apabila merasa terdapat lebih dari 10 hal/kebiasaan buruk yang tidak disukai maka silahkan ditulis semuanya.
  2. Sebutkan juga alasan mengapa Anda tidak menyukai hal-hal/kebiasaan-kebiasaan (buruk) tersebut.
  3. Setelah selesai membuat daftar dan penjelasan seperti yang tertera pada poin 1 & 2, maka silahkan men-tag 10 blogger lainnya.

Hmm, apa yah hal dan kebiasaan buruk yang tidak disukai?

  1. Gak suka kalau lagi bokek. Hehe… siapa juga yang suka? Soalnya kalau bokek, hati jadi susah, selera makan malah tambah banyak karena menganut prinsip “makan menghilangkan kesusahan”. Wkwkwk… gak heran badan subur makmur.
  2. Gak suka sama orang yang sotoy. Belum tahu apa-apa dah ba bi bu. Sebel dengerinnya. Mana di kantor sekarang banyak yang kek gini modelnya.
  3. Gak suka ngeliat cowok terlalu terlalu dandy dan perlente (he he… bahasa jadul keknya ini). Senang sih liat cowok rapi, asal jangan berlebihan. Contohnya pake minyak rambut sampe mengkilap, pake parfum terlalu menyengat, pake gel sampe rambutnya kaku abis, pake atribut norak, de el el.
  4. Gak suka didakwa tanpa alasan yang jelas. Rasanya empet banget kalau belum apa-apa suka didakwa macam-macam. “Eh elu foto model yah?” Wkwkwk… just kidding! Yah gitu deh! Poin ini berkaitan dengan poin 2 sebenarnya.
  5. Gak suka sama orang munafik. Di depan kita eh dia baik dan mulutnya manis, di belakang lah kita dijelekin sama mulutnya sampai berbusa. Mending netral deh kek saya ini. Kalau saya gak suka sama orang, saya gak akan berusaha berbaik-baik padanya. Didiamin aja dah cukup lah!
  6. Gak suka dicurigai, walaupun memang mencurigakan… wkwkwk…
  7. Gak suka diatur-atur. Bosen aja dari kecil diatur-atur terus, apalagi sebagai anak bungsu. Bwahhhh…. dah puas deh rasanya!
  8. Gak suka kalau ada yang ngeliatin dari atas ke bawah. Risih ih! Lagian jadi berasa kek terdakwa.
  9. Gak suka kalau dikerjain orang. Gak lucu tau bikin daku sengsara…
  10. Gak suka sama orang yang suka memanfaatkan posisi/kedudukan/jabatannya untuk keuntungan pribadi.
  11. De es te….

Keempat adalah award yang datang dari Mbak Fanny berikut:

Hehe, sempat keder juga nih cari award yang satu ini. Aku ingat pernah dikasih, tapi lama sekali belum sempat posting. Jadi sewaktu mbak Fanny kasih sweet reminder, hehe aku buru-buru cari dimana beliau posting award ini (soalnya blognya mbak Fanny banyak sih… ). Maap yah mbak!

Award kelima, dan baru saja saya tangkap, berasal dari mbak Reni, yaitu:

Huahhhh puas deh rasanya terima award seabrek seperti ini.

Terima kasih yah teman-teman atas perhatian dan kasih sayangnya. *halah…*

Dan, sebagai penghargaan buat teman-teman blogger, award-award di atas saya bagikan kepada blogger lainnya yang tercantum dalam daftar berikut. Penerima cukup ambil dan kerjakan pe-er untuk award yang belum terpajang di blognya saja kok.

  1. Mbak Ade
  2. Mbak Reni
  3. Mbak Fanda
  4. Mbak Fanny
  5. Sinta
  6. Risti
  7. Nyubi
  8. Kang Aalil
  9. Anak Nelayan
  10. Kha
  11. Buwel atawa Cikrik de Kick
  12. Loly
  13. GiE
  14. d3Nan1
  15. Fanz

Oya, untuk 3 award dari mbak Ade (Blogger Inspiration, Blogger Friendship dan M.A Friendship Award) yang tidak terpajang di sini, silahkan di ambil saja dari postingan saya yang ini yah.

Category: Terkini  Tags:  12 Comments

Lagi buntu nih otaknya. Gak bisa mikir mau bikin posting tema apaan.

Ide yah kalau ditunggu dan semakin ditunggu, semakin tidak keluar sama sekali. Padahal keknya beberapa hari yang lalu sempat ada ide buat menulis tentang suatu hal. Sayangnya tidak sempat dituangkan di blog karena bawaanya pengen tidur terus.

Akhirnya, yah begini deh…. giliran lagi sempat nulis, eh idenya bumpet di antara otak kanan dan otak kiri.

Perlu rangsangan yang tepat nih. Wkwkwk….

Baiklah! Kalau begitu, saat ini daku hanya akan mengucapkan “hAppY bIrtdAY” untuk Mama yang berulang tahun tanggal 17 April lalu. My mom is 66 years old now and still fills herself with energy. Huhu… compare to her daughter whose energy has run dried.

Hehe, berhubung anaknya ini gak pinter bikin puisi dan kata-kata indah, jadi puisi yang daku persembahkan buat Mama di bawah ini adalah unduhan dari sini.

Dan berhubung Mama tak mungkin membaca blog ini, puisi ini juga daku peruntukkan untuk para ibu yang berseliweran di dunia maya. Happy reading!

A Sonnet for My Incomparable Mother

I often contemplate my childhood, Mom.
I am a mother now, and so I know
Hard work is mixed together with the fun;
You learned that when you raised me long ago. I think of all the things you gave to me:
Sacrifice, devotion, love and tears,
Your heart, your mind, your energy and soul–
All these you spent on me throughout the years. You loved me with a never-failing love
You gave me strength and sweet security,
And then you did the hardest thing of all:
You let me separate and set me free. Every day, I try my best to be
A mother like the mom you were to me.

By Joanna Fuchs

And once again, Happy Birthday to My Mum!

I love you, Mum!

Yes! I have received new award again…

And this time, the award came from a friend of mine, Meryl, who I meet here in blogosphere world.

Let’s see how Meryl describes herself :

I’m 28 years old Pinay.

I consider myself cool, friendly and a person with tons of positive attitude towards life. Sweet, great cook in my hubby’s heart and a perfect wife in my hubby’s eyes ^_^. I am newbie here in blogger world and I hope I can meet a lot of friends here in US and around the world ^_^

And now, let’s see how the award looks:

“Queen Marie Antoinette is the epitome of a real, fun, fearless woman who is never afraid of getting what she wants”

Well, OK then… I’m passing the award to my friends below:

  1. Sinta
  2. Fanda
  3. Mbak Ade
  4. Mbak Reni
  5. Loly (yang belum berhasil kasih komen ke tampilan baru Anakboncel, entah mengapa???)

Grab them guys! The award free from homework… hehe…

Category: Award  Tags: , ,  8 Comments

Hore!

Akhirnya blog baru saya yang berkaitan dengan bisnis online saya di d’BC Network dan tips kecantikan selesai.

Untuk blog ini, saya pakai hosting gratis dari wordpress.com. Maklum, saya ini penggemar setia wordpress. Selain itu, hehe… terus terang saya agak bingung sewaktu memakai blogspot :P . Sepertinya butuh pendalaman materi dulu.

Akhirnya, saya kembali ke wordpress yang sudah cukup dalam dipelajari dan lebih SEO friendly. Hmm, walaupun kurang nyaman juga karena chat widget seperti Shoutmix, Cbox, atau de el el tidak bisa tampil optimal di blog. Mentok-mentok meebo deh yang tampil di web page.

Tapi, akhirnya sih saya tambahkan juga Shoutmix-nya kok! Hanya, kalau mau meninggalkan pesan di blog ini, kamu harus klik icon “View Shoutbox” terlebih dahulu. Window baru berisi shoutbox-nya akan muncul. Dan tadaaaa…. tinggalkan pesan deh buat saya di sana.

Tanpa berpanjang tulisan lagi, yuk kunjungi blog baru saya. Klik langsung pada screenshot berikut ini yah!

 

 Ditunggu kunjungan dan komennya di blog baru saya yah.

Legaaaa….

Akhirnya sudah bilang ke bos kalau saya akan mengundurkan diri dari perusahaan 2T itu.

Hehe, sebenarnya baru efektif akhir bulan Mei 2009 sih. Namun karena rekan sekerja saya takut kelimpahan pekerjaan saya yang “Error” itu, akhirnya saya menghadap si bos 2 minggu lebih awal dari seharusnya.

Terus terang, pengajuan pengunduran diri ini adalah momen yang paling saya tunggu. Walaupun saya tergolong baru di perusahaan ini, tapi dalam beberapa bulan saja saya sudah tidak betah. Situasi, kondisi, lingkungan dan manajemen perusahaan kurang baik.

Jikalau pun suami tidak mengajak saya pindah, pasti saat ini saya sedang berjibaku untuk mencari pekerjaan baru. Jadi, saya benar-benar semangat saat mengutarakan soal pengunduran diri di depan bos.

Hehe, sayang sebenarnya saya sempat menampik tawaran kerja yang lebih baik di bulan November lalu. It was a great opportunity and challenge for me. Sempat kepikiran mau dicobain, tapi takut malah timbul penyesalan semakin dalam kalau pada akhirnya harus saya tinggalkan juga.

Bagaimana pun, saya tetap lebih memilih suami dan anak lah daripada karir. Apalagi pada dasarnya saya adalah manusia cinta keluarga. Dan, diam-diam punya tekad untuk memberikan perhatian dan kasih sayang buat anak supaya jiwa tidak kering kerontang seperti mamanya.

Sebelumnya saya sempat berpikir bahwa saya akan merasa sangat sedih ketika mengutarakan pengunduran diri seperti ketika saya mengundurkan diri dari Me***. Tapi ternyata saya malah merasa lega dan senang hati. Sepertinya ada beban 1000 ton yang diangkat dari pikiran ini.

Yah memang sih, sejauh ini saya belum mendapat pegangan lain yang bisa menghasilkan uang yang nilainya setara dengan gaji sekarang. Namun, saya yakin bahwa dua bisnis online yang sedang dijalankan saat ini, yaitu d’BC Network dan Dynasis bisa terus berkembang dan pada akhirnya memberikan hasil yang lebih.

Amin! Amin! Amin! Hehe, mana tahu ada peluang bisnis lain yah yang bisa dikerjakan dari rumah nanti…

Sing a song yuk!

Kalau kau suka hati, tepuk tangan… plok plok plok (2 x)

Kalau kau suka hati, mari kita lakukan…

Kalau kau suka hati, tepuk tangan… plok plok plok

Huehehe…lagunya si Dira deh yang dinyanyikan.

Category: Curhat  Tags:  8 Comments
Anakboncel