Hari ini mau cerita soal suami dan masalah komunikasi di antara kita.

Suami saya itu adalah bekas teman sekelas saat kelas 2 SMA di daerah Bulungan Jakarta.

Kita adalah musuh bebuyutan saat itu. Penyebabnya? Karena saya sebal dengan sikapnya yang jaim, sementara saya orangnya grasa-grusu. Akhirnya tiap hari ada saja hal-hal kecil yang kita ributkan, mulai dari hapusan, penggaris, sampai masalah pelajaran.

Hehe… Tapi, jujur nih saya mengaku kalau yang pertama kali menaruh hati adalah saya.

Benar kata orang, batas benci dan cinta itu tipis banget! Karena kebanyakan merasa benci pada seseorang sehingga merasuk di pikiran, lama-lama rasa benci malah berubah jadi cinta. Hehehe…. gini hari ngomongin cinta.

Jadi, saat kelas 3 SMA kita mendapatkan kelas terpisah, saya malah sering merasa kangen sama “kejahatan” si dia sehingga akhirnya malah sering naik ke lantai dua untuk sekedar menunggu kedatangannya. Dalihnya sih, main ke tempat teman di kelas Sos… walau mata tetap waspada mengamati kelas Fis di bawah sana. Xixixi….

Namun, saya sempat patah hati sama si dia karena menjelang prom night, ajakan saya untuk pergi bersama ditolaknya dengan “tidak manis”. Hiks hiks… sedih sekali rasanya! Sudah menurunkan gengsi mengajak cowok duluan, eh malah ditolak. Nasib! Nasib!

Untung ada sobat baik dan teman sekelas saya yang juga tidak mendapatkan kencan di malam itu dan bersedia pergi bersama ke prom night beramai-ramai. “Go ahead gals! No date? No problem! Fun is still with us!”

Tapi, di akhir prom night, entah mengapa dia mendadak mengajak saya pulang bersamanya. Mungkin kencannya pulang dengan yang lain. Atau mungkin dia merasa kasihan karena menolak ajakan saya sehingga merasa berkewajiban untuk membuat tawaran baik sebagai penghibur lara. (Hehe, I never got the answer until now. Katanya, “Lupa aku kenapa dulu mau ngajak kamu pulang.”)

Dan kali itu, saya menolak tawaran baiknya karena sudah berjanji dengan sobat untuk menginap di rumahnya. Huah huah! Bodoh banget yak! Sepanjang perjalanan saya cuma bisa bilang, “Kok gua bodoh banget yah Win! Kenapa gua bodoh banget? Coba gua terima yah Win!”

But my life went on without him because we took separate path after high school.

I still like him. I contacted him a lot without any good response from him.

But one time on my birthday, my house maid told me that a friend called me and said that his name was Dino.

“Heh? Dino? Gak salah Bi? Itu kan namanya guk guk kita dulu di Aceh!” tanya saya. “Rino kali?” lanjut saya lagi sambil berharap.

“Enggak tuh! Kayaknya namanya Dino, Cel!” ucap Vivi.

Oh, sudahlah! Tidak saya selidiki lebih lanjut kejadian tersebut karena saat itu saya sedang dekat dengan seseorang. “Lagi pula,” pikir saya, “Sepertinya tidak mungkin si Rino yang menelpon.”

But, surprisingly, it was him who called me on my birthday. “Tau deh! Kenapa hari itu gua lagi ingat sama ulang tahun elu. Yah gua telpon deh!” kata si dia. Wkwkwk… ge-er juga sih dia mendadak ingat hari ulang tahun saya dan lebih tambah ge-er karena dia ingat nomor telpon rumah.

But, nothing happened between us! Not until I broke up with my boy friend because he cheated on me.

Saat itu saya bosan mendengar penghiburan dari teman-teman kampus dan benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa mencela nasib buruk yang menimpa diri ini. Akhirnya pilihan pun jatuh padanya.

“Ah, kayaknya kalau gua telpon dia nih dan cerita, pasti gua dicela abis-abisan.” pikir saya waktu itu.

Akhirnya, saya telpon dia dan ujung-ujungnya kita malah janjian buat kencan. Xixixi…

Kita pergi ke PIM. Saya ditraktir nonton film dan makan malam di Hoka-Hoka Bento (hehe belum jaman cafe sih!). Film yang kita tonton juga saya masih ingat, Scream 3. Ihhh… katanya mau curhat biar dicela kok malahan kencan.

Pulangnya kencan saya “kena” dikerjain sama dia. Bayangkan! Saya disuruh dorong mobil pick-up yang menghalangi mobilnya keluar dari parkiran. Waks! Kenapa saya mau? Huhu… dasar bodoh!

Sejak dari saat itu, hubungan kita ternyata berlanjut hingga hampir empat tahun lamanya dan akhirnya memutuskan untuk menikah di Q1 2004.

Suami saya merupakan tipe orang yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan komunikasi bahasa. Sebenarnya saat kita berpacaran, masalah ini cukup mengganggu. Namun, saya berusaha berpikir positif dan berharap bahwa komunikasi kita akan membaik setelah menikah.

Namun, pemikiran saya salah karena komunikasi kita ternyata bertambah buruk. Hal ini disebabkan karena kita dihadapkan pada fakta bahwa kita hanya bisa bertemu 2 hari dalam seminggu karena suami mendapatkan pekerjaan di daerah Cilegon.

Selama hampir 3,5 tahun, saya berpendapat bahwa kita hidup di dunia masing-masing. Dari Senin sampai Jumat, kita hidup dengan status “married but single”. Sementara dari Sabtu sampai Minggu, status berubah menjadi “husband/wife”.

Saya bahkan sering kesal karena mendapati bahwa suami lebih mendahulukan bersosialisasi dengan teman sekantornya hingga larut malam di saat dia seharusnya sudah tiba di rumah pada Jumat malam. Suami juga tampak lebih bebas berkomunikasi dengan teman-temannya ketimbang kepada saya. Hal ini bahkan berlangsung hingga kami dikaruniai seorang putri.

Ketika saya berputus asa dengan keadaan ini, mendadak suami mendapat pekerjaan di lokasi yang lebih jauh. “OMG! Bagaimana ini? Bisa-bisa komunikasi tambah runyam!” pikir saya.

Namun rupanya, suami terpikir untuk memboyong anak dan istrinya untuk pindah mengikuti dirinya.

Well! Hard decision for me! I have to decide whether I will keep my job in Jakarta or quit it and follow him to middle of nowhere.

I choose to follow him with a hope that I could improve our way in communicating. Our sweet girl is getting bigger and I really don’t want her to see that there’s something wrong with my mum and dad.

But I keep praying that before I really get my butt out of Jakarta, I could at least solve the problem between us.

Alhamdulillah! We have intensive communication during the last two weeks. We chat. We talk through video cam. And we write on email.

Kita benar-benar berusaha untuk blak-blakan membahas semua masalah. Kita saling menginterogasi. Dan semua sumpalan emosi sudah ditumpahkan dengan cara halus tanpa kekerasan verbal.

Suami sampai berkata, “Jeng, mungkin yang menghambat komunikasi kita selama ini karena di pikiran saya terdoktrin bahwa kita adalah “suami-istri” sehingga saya tidak merasa bebas untuk mengungkapkan apa pun tanpa mengingat adanya keterikatan itu.”

Setelah saya pikir, hmm betul juga kata si dia. Status terkadang memberi kita batasan yang sebenarnya tidak kita ingini, namun secara psikologis mempengaruhi diri kita.

Contoh gampangnya begini, si A ketemu mantan pacarnya si C. Sebenarnya si A ingin bercerita tentang hal ini pada si B, sang suami/istri. Namun, karena si A takut si B menjadi cemburu dan kemudian marah, kejadian tersebut tidak diceritakan. Akhirnya, si A mulai menyimpan “rahasia kecil” dari si B. Itu baru satu contoh saja loh. Tidak terhitung berapa banyak masalah lain yang menjadi “rahasia kecil” dalam hubungan suami-istri.

Akhirnya, kita berdua sepakat untuk lebih terbuka satu sama lain, berusaha menerima pembicaraan apa pun dengan open-minded dan tidak mengutamakan emosi jiwa dan akan mencoba untuk bisa mendiskusikan segala sesuatu dengan menempatkan posisi tidak sekedar sebagai suami-istri, namun juga sahabat baik.

Semoga tekad kita berdua ini bisa meningkatkan kualitas hubungan. Hasil akhir yang kita harapkan dengan memperbaiki komunikasi adalah membawa kebahagiaan buat putri kecil kami.

If we are happy with our life, we can bring her a happy life.

Papil! We’re coming soon! Miss you much!

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
8 Responses
  1. nyubi says:

    wah,,,wah, love story nih
    hueehuee,,,, jadi inget muda dulu
    (beggh, punya pacar aza blom)
    xi,,,xi salam kenal eah mba

    [Reply]

  2. Ade says:

    cie.. cie.. i smell love in the air :-D

    btw, papil apaan sih buu?

    [Reply]

  3. kha says:

    huhuy…….
    hoka hoka bento tempat datingnya…

    bisa jadi ilmu nih tar klo udah marriage…

    oh pernah di cilegon juga toh suaminya…saya tinggal di serang

    [Reply]

  4. Uke says:

    @ mbak Ade: Papil tuh kekekek… singkatan papa upil… (abis hobinya ngupil :P )

    @ Kha: Yah jadul lom ada kafe / tempat hang out nyang keren kek sekarang… jd standardnya Hokben deh :D

    [Reply]

  5. Yudie says:

    hihihihhi…kaya cerita pilem-pilem Indonesia jadul ya mbak… nice love story mbak Uke.. jadi inget cerita cinta sama istri juga jadinya…. hahahaha….. cool mbak… :)

    [Reply]

  6. tikno says:

    Memang benar, batas benci dan cinta itu sangat tipis. Keduanya sama-sama sulit untuk dilupakan.

    [Reply]

  7. tae says:

    wah…. kalo dijadikan ftv juga bagus neh…

    [Reply]

  8. Eka Jo says:

    Benci itu kan singkatan dari Bener-bener Cinta.

    Kalau bini gua sih tau gua kayak apa dulunya. Kalau gua ketemu sama cewek cakep dan kenalan lagi, gua cerita aja ke istri gua. Trus nomor teleponnya gua kasih tau. Kali aja dia mau lamarin tuh cewek untuk jadi bini gua yang kedua. Wakakak..

    Yang penting tuh ngobrol. Kebiasan orang kalau habis ML langsung tidur. Padahal disitu letak keintiman suami istri. Kalau perlu diskusi ke hal-hal yang kecil.

    Jangan pernah merasa kalau istri lebih tau meski sama-sama kerja. Coba lu tanya aja hal kecil sama misua. Seorang suami lebih merasa dibutuhkan kala istrinya curhat tentang apa saja.

    [Reply]

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:dead: :pray: :clinguk2: :tob: :hoho: :jedug: :lempar: :mikir: :nyembah: :plis: :puyeng: :sikut: :sliweran: :diem: :evillaugh: :gemes: :hore: :lirik: :beer: :ngacir: :matabelo: :mataduitan: :mlorok: :nangis: :ngakak: :ngelamun: :ngikik: more »

Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.