Bingung, bingung, bingung. Stok belanja minggu lalu sudah mulai menipis.
Hehe jadi minggu lalu, sebelum mama pulang, beliau mengisi stok belanja di kulkas. Saya sih manut-manut saja. Lumayan, mumpung ada yang belanjain kan.
Nah, minggu ini, stok di kulkas menipis. Sayur mayur habis. Lauk-pauk tinggal untuk hari ini. Jadi bingung. Siapa yah yang mau isiin lagi yah?
Tukang sayur sih ada 2 orang yang keliling kompleks. Yang pertama beredar di pagi hari sekitar pukul 7 dan hingga kemarin saya tidak pernah ketemu. Yang kedua beredar sekitar pukul 9 dan baru ketemu satu kali. Itu juga tidak sengaja.
Masalahnya, tukang sayur keliling ini satu pun tidak ada yang berteriak menjajakan dagangannya. Coba kalau di Jakarta, pasti tukang sayur akan teriak, “Yur!” atau “Sayur, sayur!”.
Jadi, saya kebingungan sendiri tiap kali mau belanja. Nunggu yang pukul 7 pagi agak susah karena saat itu saya sedang sibuk menyuapi Dira sekaligus mencuci baju atau menyapu rumah. Nunggu yang pukul 9, kok kayaknya siang banget. Dan biasanya kebarengan dengan jadwal mandi pagi.
Akhirnya, setelah melalui pertimbangan masak-masak, dan sedikit beradu argumen dengan Dira (yang minta main game Bobby Bola), saya memutuskan untuk belanja ke pasar tradisional di sini, yaitu Pasar Paiton.
Setelah menjadi penumpang becak (yang deg-degan karena jalan raya di sini dilalui bis, truk dan mobil yang melaju dengan kencang) selama hampir 10 menit, saya dan Dira menjejakkan kaki di Pasar Paiton. Kita langsung berkeliling pasar untuk mencari sayur dan lauk-pauk yang bisa disimpan untuk 3 hari ke depan.
(Hehe, jangan dibayangkan kalau pasar tradisional di sini akan luas dan dibuat dalam bangunan PD P***r J**a seperti di Jakarta. Pasar Paiton benar-benar “tradisional”, “becek” dan tidak terlalu luas.)
Mendadak Dira berhenti. “Ma! Ih!” ujarnya. “Kenapa Nak?” tanya saya. “Ih… ini kakiku,” ujarnya sambil menunjuk ke arah kakinya yang kotor dengan tanah becek.
“Kotor yah? Gak papa. Nanti bisa dicuci kok,” ucap saya sambil tersenyum geli.
Sepanjang sisa agenda belanja, Dira sibuk menyentakkan kakinya sambil cemberut. Dia memang paling gak suka kalau ada kotoran menempel di kaki dan sendalnya.
“Aku mau pulang. Aku mau pulang,” ucap Dira berulang-ulang dan selalu saya jawab, “Iya, sebentar lagi yah. Mama masih mau cari jamur nih.”
Kita berkeliling lagi mencari penjual jamur. Sumpah! Susah banget dapat jamur di Pasar Paiton. Kenapa coba? Yang jualan jamur cuma satu tempat dan saat saya sampai di sana malah dapat informasi kalau besok baru ada jamurnya. Ampun! Besok ke pasar lagi? Enggak banget!
Akhirnya kita pulang ke rumah dengan becak yang sama. Sepanjang perjalanan saya sibuk mengajak Dira untuk membandingkan kaki kotornya dengan kaki kotor saya. Hehe, paling gak biar Dira terhibur sedikit dan gak kapok buat diajak belanja ke pasar lagi.
Setelah sampai rumah, kaki dan sendal Dira langsung saya bersihkan.
“Tuh bersihkan!” kata saya. Dira manggut-manggut. “Sendalnya dijemur yah Ma? Punya Mama juga?” tanyanya.
“Iya,” jawabku. “Kapan-kapan boleh dong kita ke pasar lagi? Kan kalo kaki dan sendalnya kotor bisa dibersihin,” rayu saya.
Dira manggut-manggut. Entah itu jawaban “OK” atau bukan.
Maklumlah, selama hidup di Jakarta, Mamanya ini jarang sekali menginjak yang namanya pasar tradisional karena ada pilihan super swalayan yang juga menyediakan kebutuhan sehari-hari. Jadi yah, anaknya juga kurang kenal dengan pasar tradisional.
Kalau dipikir-pikir, sewaktu kecil saya juga berlaku sama saat diajak mama ke pasar tradisional. Gak pernah betah dan bawaannya minta pulang terus. Hmm, menurun ke Dira sepertinya
Dulu, kalau mama mau pergi, pasti saya akan tanya, “Mama mau kemana?”
Kalau jawabannya, “Ke pasar. Belanja. Mau ikut?”, saya akan langsung menggeleng dan melanjutkan kesibukan. Hoho, mending ditinggal di rumah deh daripada harus becek-becek di pasar.
Eh, sekarang, mau gak mau, saya harus turun ke pasar tradisional juga. Dan anak saya punya kelakuan yang sama seperti emaknya dulu.
Well, resiko ibu rumah tangga yang tinggal jauh dari super swalayan.
I wonder, in how many years will a hyper market build in Paiton?
Tapi, kalau ada super swalayan di sini, kasihan yah sama pedagang di Pasar Paiton.
Yew! Complicated.
So, it’d be better if we just go to Pasar Paiton after all.









Lama 2 terbiasa ya Dira
Maen ke pasar itu asik lho bisa liat ikan, ayam and binatang2 hidup lainnya
[Reply]
There is a first time for everything
[Reply]
Udah tau kan mba? Gw pernah baca di internet, katanya qualitas barang yang diperdagangkan di pasar tradisional mostly lebih seger daripada Pasar Modern, soalnya gini… mereka jualan mulai dari jam 4 atau jam 5 pagi, yang barangnya itu semuanya serba baru dan serba fresh, trus jam 12 barang mereka udah abis, dan malemnya mereka belanja lagi untuk kebutuhan besok pagi dan dijual dihari yang sama…
see make sense kan?
mungkin yang bikin kita enggan ke pasar tradisional karena perawatan lingkungannya agak kurang, masih becek, bau, dan banyak lalat…
[Reply]
hueeehhhh…
Panjang sekali ceritanya….
[Reply]
weleh, sempet2nya mau kepasar nulis di blog neh mbak? hehehe
[Reply]
kotor itu berani mbak…huehehehehe
[Reply]
dira = gw banget…
tpi kayax hrus dibiasain y mba??!!..tpi…becek…
[Reply]
weleh… mungkin lebih becek pasar desa saya mbak…untung gak keblasuk kesana mungkin dira gak mau ke pasar lagi.. hehehehee…
salam kenal saja mbak…
[Reply]
mmmh.. bingung ya?
[Reply]
Ntar juga terbiasa kok
[Reply]
Bingung?????????????
[Reply]
Memang dari segi kenyamanan… Pasar tradisional tertinggal jauh.
Harus dipikirkan pembenahannya, agar Pasar tradisional tidak ditinggal konsumennya.
Sampai hari ini, Dira sudah berapa kali ke pasar Paiton ? ^_^
[Reply]
like mother like daughter…
[Reply]
Udah lama nggak jalan2 di pasar.. jd kangen ke pasar. Kayaknya waktu kecil seru deh nemenin emak belanja di pasar hehe
[Reply]
kunjungan dari teman…..hev a nice day..
ditunggu kunjungan baliknya di blogfetra ada artikel tentang Helikopter Puma TNI-AU Jatuh Di Bogor
[Reply]
sampeyan mengingatkan saya sama cerita istri, ada seorang temennya di kantor yang ndak pernah turun ke pasar sampe istri saya bilang, “ayo mbak, tak ajari belanja di pasar”. hehe
[Reply]
kyknya mba mulai meninggalkan kehidupan kota beralih ke desa ya..:)
[Reply]
Hehe..
Gpp, Mbak..
Besok2 pasti Dira seneng bisa pamer2 ke temen2nya karna udah pernah ‘maen’ ke pasar tradisional
Soalnya saya juga gitu.
Gara-gara pernah diajak ke pasar tradisional (walopun cuma sekali sebenernya), jadi sering ngomong ke temen-temen kuliah, ‘jadi kalian gak pernah ke pasar tradisional? kasian banget yaaaa…..’
*senyum penuh kemenangan
[Reply]
Heheheee… saya juga males kalo ke pasar tradisional. Kurang suka becek juga.
Tp waktu di Medan, waktu masih jualan buka kafe tenda, beberapa kali ya ke psr jg utk belanja, dan ternyata emg bisa fun. Bisa ketemu banyak orang, nawar ini itu.. bedalah sensasinya…. cuma ya emg harus pake sendal jepit aja, gt.
[Reply]
hal2 kecil yang memang harus dibiasakan. kotor itu kekebalan *apa hubungannya coba* hi hi hi
[Reply]