Archive for the Category »Nostalgia «

Hal kecil kadang bisa memicu kerinduan.

Kemarin pagi saya nyetrika kaos “rumah” suami. Lihat punya lihat, eh ternyata ini kan bekas kaos saya yang dilengser ke suami gara-gara terlalu besar (Hmmm dulu sih kebesaran, sekarang sebenarnya cukup kok sama saya. Kesimpulan? Badan saya tambah “besar”).

Saya perhatikan lagi kaos itu. Kaos tanpa kerah berwarna dasar putih dengan pinggiran leher berwarna hitam. Pada bagian depan bertuliskan “KGID Meeting, Bali 2003. From Good to Great!”.

mau baca lanjutannya gak? silahkan klik di sini

Category: Curhat, Nostalgia  Tags: ,  45 Comments

Hari ini mau cerita apa yah?

Hehe, saya kembali ngeblog nih… padahal kemarin sudah berjanji kalau hari ini cuma mau melakukan pekerjaan kantor. Beneran deh! Kemarin tuh niat kalau hari ini mau menyelesaikan dokumen yang masih pending di meja. Nyatanya kok malah buka halaman “Write Post” yah?

Anyway, I met my old friend from elementary school in Facebook (FB). Hah? So what? Nothing special about it. Well, kinda special for me because I’ve been looking for him for years.

Nah ya… kenapa coba saya nyariin dia? Pasti ada apa-apanya deh! Emburrr! Benar sekali!

Jadi sekitar 1 dekade yang lalu, teman saya ini, sebut saja E, pernah menelpon ke rumah. Saya kaget banget saat dia menyebutkan namanya. Gak nyangka kalau dia menelpon loh secara saya pindah dari Banjarbaru (Kal-Sel) ke Jakarta hampir 1 dekade juga. Nah, dari perbincangan yang hanya berlangsung 20 menit itu, dia meninggalkan no telp dan alamat sambil berpesan kalau saya ke Jogja harus mampir ke kosnya.

“OK deh!” jawab saya sambil menuliskan no telp dan alamat tersebut di buku coret-coret.

Terus terang saya lupa dengan catatan no telp dan alamat tersebut hingga beberapa tahun yang lalu saya mendapat tugas dari kantor untuk training di Jogja. “Oya… kan ada teman SDku di Jogja. Wah kayaknya dikasih no telp deh. Dimana yah?”

Setelah mengorek ingatan, hwaradalahhh… rupanya buku core-coret tersebut masih ada di mantan pacar saya yang pertama (sebelum bapaknya Indira). Haduhhh! Kenapa gak dibalikin yah sama dia? Gak mungkin pula saya minta kembali secara dulu alasan kita putus tidak baik.

Hal ini kemudian terlupakan seiring berlalunya waktu.

Hingga…. suatu hari saya lihat daftar teman dari seorang teman SD (yang lain) di Facebook. “Wah, ada teman SD saya yang masih berdomisili di Kalimantan Selatan nih.” pikir saya.

Bermula dari situ, akhirnya saya bisa bertemu dengan teman SD lain-lain seperti I dan N. Pada si N lah akhirnya saya bisa bertanya mengenai E. Rupanya, si N akhirnya bertemu dengan E dan bilang kalau saya mencari dia. “Kamu sign up aja di FB. Banyak ketemu teman-teman lama loh!” Konon begitu promosi N kepada E.

Setelah info dari N itu, akhirnya E buka account di FB. Dan orang pertama yang dia cari adalah saya ;) . Dan sejak itulah akhirnya kita berkirim message hingga hari ini.

Setelah kita bercakap-cakap melalui tulisan, terbukalah motivasi mengapa dulu E pernah menelpon saya. Ternyata eh ternyata, dia pernah naksir diri saya ini. Huhuhu.. kenapa gak dari dulu bilangnya? Pas kita masih jaman lucu-lucunya itu.

Soalnya saya dulu juga “have a crush on him” tapi gak berani menaruh harapan karena kurangnya rasa percaya diri. Lagi pula, ada seorang teman cewek saya yang naksir E mati-matian. And I was her love messenger.

Nasib… nasib…

Yang lebih bikin geleng-geleng kepala (berusaha untuk menyadarkan diri), ternyata E adalah original version dari tipe cowok yang saya sukai. Dan hampir semuanya klop dengan apa yang tampak pada my Hunny Papil. Sama-sama punya mata bagus, berkulit gelap (bukan hitam banget yah! wkwkwk…), rambut agak bergelombang, berbintang scorpio.

Bwahahahaha….. saya cuma bisa merasa geli setiap baca message di FB dari E. Tambah banyak yang kita buka, tambah banyak hal yang bikin geli.

Seperti contoh, saat kita sudah menginjak SMP kelas 1, E sering sekali main ke kelas saya di 1B. Alasannya macam-macam dan yang paling sering adalah bercanda dengan N (yang kebetulan teman sekelas saya). Jadi teringat betapa seringnya dulu dia menggoda saya saat sedang main ke 1B. Dan biasanya saya menanggapinya dengan pura-pura marah (marah tapi senang hehe..).

E juga cerita kalau dulu sempat ikut mengantar karangan bunga yang dipesan oleh mama saya bersama dengan alm. ibunya ke rumah saya. Katanya, “Aku maksa ikut sama ibu tuh. Cuma supaya bisa curi-curi pandang ke anak yang punya rumah.”

Ada senangnya dan ada sedihnya membaca tulisan E di message FB. *sigh*

Senangnya karena tidak menyangka bahwa ada juga cowok yang bisa menyukai saya padahal saat itu saya chubby banget. Bahkan salah seorang teman main kami di kompleks (hehe iya, kita juga tinggal di kompleks perumahan yang sama), sebut saja Is, suka memanggil saya “Amak” alias si Endut. Tiap kali main bersama, pasti Is tidak lupa selalu menyindir soal kegendutan saya sehingga lama-kelamaan saya jadi menjauh dari teman-teman main.

Sedihnya karena tidak menyangka kalau E ternyata mencari saya cukup lama hingga mendapatkan no telp. Tapi nyatanya, saat dia sudah bisa menghubungi saya dan meninggalkan no telp, eh sayanya malah lupa dan mengabaikannya.

Yah, mungkin ini yang namanya jodoh berkelit alias gak jodoh. Hehehe….

Tapi, dibalik cerita saya di atas, saya cuma mau menyinggung sedikit sisi positifnya dari punya account di Facebook. Kita bisa ketemu dengan teman, mulai dari yang lama sampai yang baru. Bisa komeng status orang sesuka hati. Bisa main game buat mengenyahkan kebosanan. De el el.

Sisi negatifnya? Alhamdulillah sejauh ini saya belum merasakannya. Tapi, menurut teman kantor saya, ada seorang cewek yang pernah dipecat dari kantornya karena isi status FBnya. Hehe, jadi berhati-hati yah kalau share status di FB. Ini pesan khusus buat yang masih bekerja sama orang lain. Buat yang mau resign kayak saya sih, sering-sering deh login ke account FBnya. Wahahaha….

Oya, sedikit melenceng nih. Pernah loh ada yang buat account FB atas nama bos saya. And you know what? (No!!!) Profile pic yang dipasang adalah foto bugil yang diganti kepalanya dengan wajah si bos. Jahat banget yah! Si bos baru tahu soal ini setelah ada orang kantor saya yang bilang.

Namun, setelah anak si bos mencoba menelusuri, rupanya account tersebut telah dihapus. Siapa tersangkanya? Yah si bos curiga sih dengan seseorang di kantor, tapi tidak etis rasanya kalau beliau melemparkan tuduhan tanpa bukti mendasar. Akhirnya, hal ini cuma dishare ke kita dengan pesan supaya lebih berhati-hati dengan orang-orang di kantor.

Yah sudahlah! Lagi-lagi saya bikin posting melenceng sana sini. Silahkan dinikmati. Jangan lupa komengnya yah!

Dari jam 11 siang buka halaman “Write Post”. Mau buat posting, bingung apa isinya. Hmm tepatnya sih bingung memulai tulisannya. Soalnya di kepala wara-wiri berbagai macam topik yang hendak ditulis. Hehe kebanyakan ide sih!

Ujung-ujungnya? Chatting sama teman SMP via YM. Dan, akibatnya, kita jadi bernostalgila tentang  bagaimana perasaan kita dulu satu sama lain.

Pikir-pikir, lucu juga yah kalau ingat jaman SMP dulu. Saya saja suka ketawa kalau ingat masa-masa culun itu. Coba bayangkan! Dulu, sudah badan bulat (hehe, sekarang juga bulat lagi), pakai rok lipit yang sedikit di atas lutut, kaos kaki panjang mendekati lutut, sepatu basket (padahal boro-boro bisa main basket), rambut sepinggang dibuat kepang satu, plus kacamata minus. Monkey Emoticons

Geli ih kalau ingat. Apalagi kalau membandingkan diri saya dulu dengan anak-anak SMP jaman sekarang. Ya ampyun! Kok anak SMP sekarang mulai dari penampilan hingga omongan rasanya lebih tuwir daripada saya jaman dulu. Soalnya sering kali apa yang menjadi pembicaraan mereka bikin saya kaget. Like “they really know it”, padahal kalau dilihat dari segi kematangan mental yah belum saatnya mereka memikirkan hal itu.

Haha, sudahlah! Yang mau saya tulis bukan masalah anak SMP jaman sekarang kok. Apalagi melihat perkembangan jaman yang semakin mengkhawatirkan secara “I’m raising up my daughter now!”….. Monkey Emoticons

Kembali ke topik semula.

Jadi perbincangan saya dan teman SMP melalui YM itu membahas mengenai kenapa yah dulu kita tidak sempat berkenalan lebih dalam. Tepatnya, kenapa kita jaman SMP itu sama-sama suka tapi terlalu bodoh untuk mengungkapkannya.

Teman saya itu mengira kalau saya suka dengan teman baiknya yang kebetulan sekelas dengan saya. Sementara saya yang kebetulan suka sama dia, tidak berani berharap kalau dia juga suka sama saya.

Kenapa coba? Soalnya dia termasuk salah satu cowok yang menjadi idola para cewek di sekolah. Belum lagi melihat fakta kalau dia sempat “jadian” sama salah satu cewek yang masuk daftar “cewek cantik” di SMP saya. Nyali saya jelas langsung ciut melihat hal demikian. Monkey Emoticons

Tapi, lucunya, walau kita tidak sempat “jadian”, pernah teman saya yang lain bertanya begini, “Ke, emang elu jadian yah sama si H?” Jelas saja saya jadi bingung mendapat pertanyaan demikian. “Kok bisa ada gosip begini?” Monkey Emoticons

Ternyata, selidik punya selidik, teman saya yang bertanya itu, sebut saja si E, menaruh hati kepada si H sejak dari SD. Dan mungkin, dari sudut pandangnya dia, seringnya saya dan si H mengobrol di depan kelas sudah dapat dimasukkan ke dalam kategori “jadian”. Padahal sih, kita mengobrolnya gak berduaan kok karena si H selalu ditemani oleh teman baiknya itu.

Nah, bagaimana akhirnya saya tahu kalau ternyata si H juga ada perasaan “spesial” di jaman SMP itu?

Awalnya dimulai dari rasa “excitement” bisa bertemu muka lagi di dunia maya. Saat itu Friendster sedang booming. Dari bertemu di Friendster, kita tukaran nomor handphone dan kemudian nomor telpon rumah. Dia jadi lumayan sering menelpon saya karena membahas mengenai teman baiknya yang dirundung masalah pribadi.

Si H bahkan sempat memberi DVD anime “Bleach” saat saya hamil Dira. Pengen banget nonton “Bleach” season 2, tapi mencari di ITC tidak kunjung dapat. Akhirnya, teman saya itu bela-belain datang ke rumah buat antar DVD itu. Hehe, gak tau deh apa pikirannya Papanya Dira pas melihat ada teman Mamanya mengantar DVD ke rumah. Soalnya seperti biasa Papanya Dira tuh gak pernah mengungkapkan isi pikirannya secara eksplisit.

Menjelang pernikahannya, saya dan H sempat berkomunikasi lewat email. Dan, dari email itulah baru ketahuan bahwa masing-masing dari kita mempunyai perasaan “spesial” satu sama lain.

Jujur nih, pas baca itu email sempat ada rasa sesal juga karena kita sama-sama terlalu polos. Apalagi saat dia cerita kalau sebenarnya dia jadian dengan si T saat SMP itu karena desakan teman-temannya dan itu pun hanya bertahan dalam hitungan minggu. Apalagi hingga masa SMP dan SMA selesai (hehe saya juga bersekolah di SMA yang sama dengan H), si H sedang senang sekali dengan olah raga basket dan tidak terpikir sama sekali untuk memiliki pacar.

Sementara itu, sejak dilempar pertanyaan demikian oleh si E, saya jadi agak menjauh dari si H di masa SMA karena rasa “rendah diri” yang mendadak melanda. ”Aduh, siapa gue yah berani-beraninya dekat sama si H? Apa kata dunia?”

Apalagi, ketika saya lihat si H juga dekat sekali dengan salah satu cewek imut di kelasnya saat SMA, sebut saja si C. Wah, saya langsung ambil jarak secara spontan. Padahal kata si H, si C ini dekat dengan dia karena suka curhat tentang cowok yang ditaksirnya yang kebetulan dekat dengan si H saat SMA.

Hehe, ribet yah ceritanya?

Kedekatan saya dan H semakin renggang saat kelas 2 SMA. Apalagi, saat itu saya mulai mengenal yang namanya Rino Poet. Musuh berat yang kemudian malah jadi suami dan bapak dari gadis cilikku. Monkey Emoticons

Sekarang, saya dan H kalau bercerita soal masa lalu hanya bisa tertawa. Menyesal? Sedikit! Saya sih berpikir mungkin memang sudah jalannya begini.

Lihat sisi baiknya. Saya dan H tetap bisa bersahabat. Kita bisa bercerita apa pun tanpa ada rasa sungkan yang mungkin bisa timbul seandainya dulu kita pernah “jadian”.

Saya juga pernah ingat. Di masa kuliah saya sempat dipertemukan dengan si H saat di kendaraan umum. Kita mengobrol dengan serunya, namun tidak terlintas sedikit pun untuk saling bertukar nomor kontak. Jadi, apa yang pernah dirasa kembali tidak terhubung sama sekali.

Kalau saya bilang, kita ibarat bertemu di persimpangan. Tapi pada akhirnya dia memilih untuk belok ke kanan, sementara saya memilih untuk lurus (dan bertemu dengan Papa Dira lagi Monkey Emoticons).

Hehe… emang jodohnya sama Papa Dira kali yah.

Hidup nostalgila!

Life goes on but memory carved in every one’s heart. But don’t ever let memory stuns your life pace.

Category: Nostalgia  7 Comments

Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu mau buat posting ini. Tapi gara-gara ada teman yang ngajak chatting sampai menjelang tengah malam, akhirnya gagal.

Mana pakai ditakut-takuti lagi. Katanya, “Jangan lihat jendela jam 00.00. Nanti ada penampakan.” Emburrr… penampakan bulan, bintang, pohon, gelapnya malam, dst. Untung gak mempan sama diriku yang biasa tidur dengan jendela terbuka (hehe tapi ditutupi tirai sih).

Balik ke topik awal soal copet. Teman kantor saya dalam 2 minggu berturut-turut bertemu dengan geng pencopet yang merajalela di angkutan umum di daerah tepian Jakarta.

Cerita pertama terjadi di pagi hari saat dia berangkat menuju ke kantor. Mendadak seorang laki-laki naik angkot dan duduk di dekat pintu. Secara mendadak pula, ibu yang duduk di sebelah teman saya ini, sebut saja mbak Nop, mendekat ke dirinya dan berkata, “Curiga yah mbak?”. Mbak Nop mengangguk. “Soalnya kemarin saya lihat orang ini beraksi mencopet. Dia bawa senjata tajam,” lanjut sang ibu. Siapa yang gak dag dig dug mendengar cerita ini. Apalagi mereka hanya berdua di dalam angkot.

Namun, tak lama kemudian, segerombolan lelaki (kalau tak salah jumlahnya 4 orang), naik ke dalam angkot tersebut. Semuanya membawa tas ransel berwarna hitam. Dan salah satu laki-laki tersebut memaksa duduk di antara mbak Nop dan sang ibu. Wah ini sih sudah jelas kawanan pencopet. Mbak Nop dan si ibu kontan memegang tas dengan erat.

Lucunya, lelaki pertama yang disebut sebagai copet oleh sang ibu langsung turun ketika keempat lelaki kawanan copet tersebut naik. Hehe, mungkin beda perkumpulan dan dia jelas kalah jumlah kalau timbul perseteruan.

Karena si mbak Nop memandangi keempat laki-laki itu lekat-lekat, mereka sadar bahwa aktivitas yang akan dilakukan telah dicurigai sehingga akhirnya memutuskan untuk turun di halte berikutnya. Untung bukan kepalang buat kawanan copet tersebut. Saat berhenti di halte, mendadak anak-anak sekolah menyerbu naik angkot. Kawanan copet tersebut batal untuk turun dan mungkin akhirnya berhasil melakukan aksinya pada anak sekolah. Sementara itu, mbak Nop dan sang ibu turun setelah mendekati tujuan dengan tubuh gemetaran. Nyaris menjadi korban.

Kejadian kedua terjadi minggu depannya. Kali ini mbak Nop yang sedang bersemangat meneruskan kuliahnya naik angkot ke arah Kp. Rambutan sepulang dari kantor. Mbak Nop memilih duduk di depan, sebelang bang supir. Sementara di bagian belakang ada 2 orang penumpang wanita yang duduk di belakang bang supir.

Saat di perempatan Graha Cijantung, 4 orang lelaki menyandang tas ransel naik ke dalam angkot tersebut. Dua orang lelaki duduk di bangku untuk 4 orang, sementara 2 orang lainnya duduk tepat disebelah 2 orang penumpang wanita ini.

Mendadak, salah seorang lelaki yang duduk di sebelah penumpang wanita beraksi seperti orang hendak muntah dan memaksa untuk membuka jendela yang tepat berada di belakang salah seorang wanita ini. Nah, si wanita yang tepat di depan jendela mau tidak mau agak berdiri dengan posisi badan dan tas ke depan. Mendadak, si wanita ini spontan menarik tasnya dan melemparkannya ke bangku depan dimana mbak Nop duduk, sambil berkata, “Maaf yah mbak.”

Mbak Nop jelas kaget mendapat hadiah tas tersebut. Dia memandang ke belakang dan akhirnya mengerti apa yang terjadi. Kawanan pencopet kembali beraksi di angkot. Seram!

Setelah gagal dengan aksinya, kawanan ini akhirnya turun. Si wanita yang melemparkan tas ke depan meminta maaf dan menjelaskan kalau mendadak tasnya terasa berat saat dia maju ke depan. Ketika dia melihat, bukaan tasnya robek sehingga dia panik dan spontan melemparkan tas. Untung tidak ada barang yang hilang.

Mendengar cerita si mbak Nop ini, saya jadi teringat kejadian sama yang menimpa saya dan teman di angkot jurusan yang sama. Kalau ingat tindakan saya saat itu, rasanya geli mengingat kebodohan diri ini.

Jadi, saat itu saya dan teman duduk di pojok belakang angkot dan sedang terlibat percakapan yang seru. Kita tidak memperhatikan ada 4 orang lelaki beransel (lagi!) naik ke dalam angkot. Satu orang duduk persis di depan saya (pojok dekat jendela), satu orang di sebelahnya tapi dekat pintu, sementara 2 orang lainnya duduk tepat di sebelah teman saya.

Mendadak, lelaki di sebelah teman saya batuk-batuk hebat dan beraksi seolah-olah hendak membuang dahak. Dengan agak sedikit memaksa, lelaki yang batuk ini memaksa untuk membuang dahak lewat jendela tepat di belakang saya. Dia mendorong badan teman saya maju ke depan, dan kemudian mendorong badan saya juga maju ke depan sambil berusaha membuka jendela.

Terus terang, saat si lelaki melakukan aksi ini saya baru saja berpikir, “Kenapa sih nih orang bodoh banget? Buang dahak aja nyusahin orang. Kan bisa tuh buang lewat pintu. Repot amat sih!”

Kemudian, terdengar bunyi “Srett…”. Deg! Saya spontan sadar! Dasar bodoh! Mereka copet dan saya jadi sasarannya. Kenapa mikirnya lama banget sih!

Dengan spontan pula saya melihat ke arah tas dan sekilas melihat sekelebat tangan ditarik menjauh dari ritsleting yang sudah terbuka seperempat bagian. Saya langsung merogoh ke dalam tas untuk mengecek apakah dompet dan handphone masih ada atau sudah raib. “Aman,” ujarku dalam hati.

Saya pandangi lelaki di depan saya yang duduk dengan tegang dengan tangan dimasukkan ke bawah tas ranselnya. “Heh, kamu mau copet saya yah?” ujarku dengan nada marah (huahhh macannya keluar nih).

“Apaan sih mbak? Saya gak mau nyopet kok.” ucap lelaki itu.

“Alah, gak usah pura-pura, gue jelas-jelas dengar ritsleiting tas terbuka.” ujarku lagi.

“Periksa dulu mbak tasnya,” celetuk suara lelaki, temannya si copet.

“Udah deh. Dasar emang elu copet yah copet.” lanjutku masih dengan nada tinggi.

Entah kaget atau berniat lari, si copet mendadak membuka pintu jendela di belakangnya lebar-lebar. Dan kemudian menjentikkan tangannya ke atap angkot. Bang supir memberhentikan mobilnya. Dan teman saya spontan menyeret saya turun. Saya sebenarnya tidak rela turun karena belum puas mengomel. Tapi sang teman menenangkan sambil mengingatkan kalau mereka berempat dan semuanya lelaki. Kita berdua hanya sempat berkata pada bang supir ketika turun, “Tuh di angkot lu isinya copet semua. Copet kok diangkut sih”

Pengalaman saya yang lain dengan copet terjadi di tahun 2002. Saat itu saya dan mantan pacar, yang telah menjadi Papanya Dira, turun dari bis Metro Mini 610 jurusan Blok M – Pd. Labu. Saya ingat kita turun di dekat Aneka Buana. Sambil bergandengan tangan, kita menuju pintu belakang bis. Ketika hendak menuruni tangga, mendadak seorang laki-laki menyelinap tepat di belakang mantan pacar. Saya agak kesal juga karena pegangan tangan terlepas.

Sambil agak menggumam, saya pun menuruni tangga bis seraya menarik tas ransel yang posisinya sedikit tertahan. Dan “Srettt…”, terdengar suara ritsleiting terbuka. Spontan saya berbalik badan dan mendekap tas ransel yang sudah terbuka. Tangan saya langsung meraba bagian dalam tas untuk mengecek kelengkapannya.

Huahhh… saya langsung mengomel ke bapak tua yang tepat berada di belakang saya. “Eh Pak! Mau nyopet yah! Gak tau malu banget sih! Udah tua masih nyopet.”

Si bapak ini langsung kembali duduk di bangku belakang bertindak seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa. Jelas saya merasa gemas melihatnya. Namun, ketika hendak melanjutkan omelan, saya dicolek oleh kenek bis, “Mbak, ada yang hilang enggak? Kalau gak ada, dibiarin aja mbak. Temannya banyak tuh mbak.”

Cling! Otakku langsung berpikir jernih. Hehe, iya juga yah! Mana cuma berdua gini sama si mantan pacar yang gak jago bela diri. Kalau diapa-apain wah…

Saya pun turun sambil bersungut-sungut. Sementara mantan pacar bengong di tepi jalan. Heran melihat kejadian itu. Saya pun lanjut mengomel, tapi kali ini kepada mantan pacar.

Ternyata, pocket depan tas mantan pacar terbuka lebar. Hehe, duit recehan yang ditaruh dalam plastik camera film diambil copet yang menyelinap di antara kita berdua. Menyadari hal ini kita berdua tertawa geli. Yah sudahlah! Untung duit receh yang hilang. Ikhlasin saja.

Yah kira-kira begitulah segelintir modus operasi kawanan copet berdasarkan pengalaman saya dan teman. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa diceritakan. Lain waktu kali yah!

Btw, kawanan copet ini beraksi tidak hanya di angkutan umum. Pusat perbelanjaan dan bahkan jembatan penyeberangan pun menjadi area sasaran. Kreatif kan copet Indonesia?

Kenapa yah orang lebih memilih menjadi copet dibandingkan harus bekerja keras membanting tulang sampai tetes darah penghabisan?

Mungkin akibat lahirnya pemikiran “serba instant”. Mulai dari makanan instant, ijazah instant bahkan sampai kaya cara instant.

Yang penting kaya! Semua cara dihalalkan!

Dan lucunya, pemikiran serba instant ini melanda semua kalangan, bahkan mereka yang bisa dikatakan punya latar belakang pendidikan yang baik.

Sedih gak sih?

Ah saya sudahi dulu posting kali ini. Kalau diteruskan, lagi-lagi saya akan mengomel kemana-mana, dari A sampai Z.

Semoga posting saya kali ini berguna yah.

Category: Curhat, Nostalgia  3 Comments

Huahhh lagi nge-chat sama upline tahu-tahu dengar lagu ini…

“I hate the rain and sunny weather. And I hate the beach and mountain too….And I hate everything about you!”

Hehe, jadi teringat masa muda dulu. Kira-kira 17 tahun yang lalu. Wkwkwk… tuwir banget yah?

Eniwei, lagu yang dinyanyikan Ugly Kid Joe ini pernah menjadi saksi sejarah (halah) persahabatanku dengan 3 orang teman SMP, Wina, Anne dan Debbie. Selain itu, lagu ini juga menjadi saksi liburan kita di suatu desa di daerah Sukabumi (hehe lupa namanya).

Kenapa sih liburan ke Sukabumi saja diingat-ingat sih Ke?

Soalnya, itu sekali-kalinya nyokap kasih ijin ke daku buat liburan bareng teman-teman tanpa ditemani orang tua.

Hehe, sebenarnya sih kalau mau jujur, daku agak sedikit white lie soal liburan ini. Bilang ke nyokap kalau orang tuanya Anne akan ikut menemani. Padahal sih, setelah kita diturunkan di sana, Papanya Anne pulang ke Jakarta. *Maafkan anakmu ini Ma! Abis pengen banget liburan gak ada ortu.*

Apa sih yang kita kerjakan selama liburan itu?

Gak macam-macam kok! Liburan sekolah yang satu minggu itu dipakai untuk menelusuri perkampungan, naik bukit, pergi ke area rekreasi di Sukabumi yang konon katanya angker (itu juga baru tahu setelah beberapa tahun kemudian ada tayangan misteri di TV).

Wah seru banget!

Selama di sana kita dijamu oleh keluarga Anne dengan menyenangkan. Tidur di rumah kayu yang bawahnya kandang ayam. Untung jaman dulu belum merajalela yang namanya virus flu burung jadinya gak takut. Cuma yah baunya itu gak nahan.

Nah, dimana sih andil lagu “Everything About You”? sampai bisa bikin daku teringat masa lalu?

Sekitar tahun segitu tuh kan lagi tren yang namanya head-banging. Lagu yang dinyanyikan Ugly Kid Joe ini kan menurut kita sangat cucok buat head-banging.

Jadi di suatu siang, kita berempat menghibur diri dengan main kartu di teras rumah sambil setel kaset kompilasi hasil rekaman Wina. Ketika lagu ini keluar, spontan kita ber-head-banging sambil jejingkrakan di atas lantai kayu. Saking ‘hot’nya, daku bertabrakan dengan salah seorang temanku. Dan gubrakkk… dia mental, daku mental. Untung masih sempat dipegang oleh teman yang lain sehingga tidak terjadi kecelakaan yang gak penting.

Oya, selama liburan ini sempat terjadi cimonlok loh. Cinta monyet di lokasi. Hehe…Gak berlanjut sih. Tapi seru juga tuh melihat teman yang bergetar-getar hatinya.

Wina dan daku bahkan sempat berkenalan dengan seorang cowok yang menurut kita “cool abis” saat perjalanan ke area wisata. Cowok ini ceritanya sedang liburan juga ala backpacker dengan beberapa temannya. Cerita punya cerita sih dia akan mengakhiri perjalanannya di daerah Bogor akhir minggu. Huahhhh… mau dong ikutan ke Bogor!

Akhirnya, ketika tiba waktu liburan sudah habis dan harus balik ke Jakarta, kita tidak mau dijemput. Ceritanya nekad mau naik bis ke Bogor demi mencari cowok itu. Bodoh banget gak sih? Bogor kan luas… mau nyari dimana coba? Tapi lagi-lagi kita sok yakin gitu.

Setelah sampai stasiun Baranangsiang, kita bingung mau kemana lagi mencari cowok itu. Ya iyalah! Kenapa juga pas kenalan gak tanya alamat dan no telpon kan? Kebodohan anak SMP.

Ujung-ujungnya? Kita pulang juga ke Jakarta naik bis. Dan berhubung duit sudah minim, kita naik bis Miniarta jurusan Bogor-Lebak Bulus. Huhuhu… cowok “cool abis” kemana sih lu?

Walau tidak kunjung bertemu dengan cowok itu lagi, secara keseluruhan liburan kita membawa kenangan indah kok. Buktinya, sampai sekarang daku masih ingat kan?

Satu lagi lanjutan kebodohan daku dan Wina. Selama 1 minggu setelah liburan itu, kita berdua pakai hansaplast di atas jidat dengan posisi diagonal.

Mau tahu apa sebabnya?

Hihihi…soalnya pas kita kenalan sama tuh cowok, dia sedang pakai hansaplast (dulu namanya masih handyplast) di posisi yang sama. Jadi, kita berharap dengan melakukan hal yang sama, kita bisa bertemu dia lagi.

Bodoh kan? *ngikik geli…..*

Gak tau deh tepat atau tidak judul posting di atas untuk cerita kali ini.

Awalnya sih pengen dikasih judul “Hari yang Seram”. Tapi sayangnya, akunya sendiri tidak merasa seram. Hehe… bingung deh!

Jadi begini yah ceritanya…

Jumat sore yang lalu, tgl 13 Februari (waks… baru ngeh kalau itu adalah Friday the 13th), aku dan 2 orang teman kantor naik angkot 112 (trayek Depok-Kp Rambutan) ke arah Pasar Rebo.

Awalnya, penumpang angkot lebih dari 6 orang dan semuanya duduk di belakang. Satu-persatu penumpang turun dan yang terakhir adalah seorang bapak yang turun setelah menjelang pertigaan Kiwi (Hmm apa Keong yah? Lupa! Hehe pokoknya pertigaan di Jl. Raya Bogorsebelum daerah Gongseng deh).

Tak lama setelah bapak ini turun, mendadak terdengar suara cempreng seorang laki-laki dari arah depan dekat supir. “Kiri, kiri Pak!” ujar suara tersebut. Supir angkot mendadak mengerem kendaraannya.

Aku menelengkan kepala melihat ke bangku sebelah supir untuk memperhatikan siapakah yang hendak turun. Rupanya temanku, Atik, yang duduk berhadapan juga melakukan hal yang sama. Dan… huahhhh… aku dan Atik saling pandang-pandangan dengan tatapan bertanya, “Siapa yang turun?” Kita melanjutkan bertatap-tatapan tanpa memperoleh jawaban.

“Lu denger gak? Ada yang kiri-kiri tapi gak ada orangnya.” kata Atik.

“Dengar.” ujarku nyengir. “Suaranya ngomong ‘kiri, kiri Pak!’. Iya gak?”

“He eh!” si Atik mulai pasang ekspresi gak wajar (hehe ini agak hiperbola sih).

Sementara temanku yang lain, Milti, memandang dengan aneh percakapan kita berdua. “Kenapa sih?” tanyanya.

“Elu gak denger? Ada yang ngomong ‘kiri, kiri Pak!’ tapi gak ada orangnya sama sekali” ucapku.

“Enggak! Gue gak denger apa-apa kok.” kata Milti.

“Ah, masa sih? Gue sama si Atik ngedenger. Trus supirnya juga, makanya tadi dia mendadak ngerem.” lanjutku lagi.

“Enggak. Beneran gak denger suara orang ngomong. Gue cuma denger ada yang ngetok atap mobil kayak kita biasa mau turun angkot. Gak ada suara kok,” lanjut Milti pula.

“Ihhhh… siapa itu yah? Serem!” ujar Atik.

“Hehe… untung sore-sore dan kita bertiga pula. Coba malam hari, bisa pipis di celana nih.” kataku.

Tak lama kemudian Atik turun sambil mewanti-wanti supaya aku dan Milti berhati-hati. Alhamdulillah perjalanan menuju ke rumah lancar tanpa gangguan “aneh” lainnya.

Nah, hari ini, walau sudah lewat Friday the 13thnya, ternyata aku masih mengalami hari yang aneh.

Diawali oleh Dira. Dini hari mendadak dia bangun dan langsung duduk di atas perutku. “Nenen di peyut Ma!” katanya. Aku spontan terbangun dan langsung buka ‘warung’.

Sekitar 20 menit kemudian Dira berguling dari perutku dan tidur menghadap ke jendela kamar. Seperti biasa, jendela kamar selalu aku buka di malam hari supaya tidak panas. Maklum, kamar kita tidak pakai AC. Yang berbeda malam tadi adalah tirai jendela sedikit tersibak sehingga kita bisa lihat gelapnya malam.

Tak lama kemudian Dira berbalik ke arahku sambil berkata, “Pala, pala Ma. Tutup bantal. Pala, palana tutup bantal.”

“Eh kenapa nih anak?” pikirku heran.

Sambil kepalanya tetap menghadap ke arahku (posisinya membelakangi jendela), tangannya meraba-raba bantal. Ketika mendapat apa yang dicari, hup, langsung bantal diletakkan di kepalanya.

“Yah, Dira aneh lagi nih!” ucapku dalam hati. Biasa deh, kalau ada yang ‘aneh’ pasti Dira akan bertingkah aneh. Eh, jadi ingat, malam sebelumnya Dira juga susah tidur dan memejamkan mata. Dia malah sibuk bertingkah dan tiap kali disuruh tidur, matanya malah jelalatan lihat ke sana kemari. *sigh*

Dan, dini hari tadi sepertinya ada yang ‘aneh’ lagi. Akhirnya, aku pindah posisi tidur ke dekat jendela. Dira kemudian aku suruh tidur membelakangi jendela sambil aku peluk. Alhamdulillah dia kembali tidur nyenyak. *hehhh… ada-ada saja*

Pagi hari ini, kejadian ‘aneh’ kembali menghampiri.

Saat berangkat kerja, dengan niat mengambil jalan pintas dengan naik angkot lewat Gandul untuk ke perempatan DDN, aku malah kembali ke jalur Pondok Labu. Huehehe.. nasib, nasib. Pengen tidur di angkot 105 malah dia potong jalan ke UPN. Akhirnya? Aku jalan lagi ke perempatan DDN.

Menjelang perempatan, saat berjalan melewati tenda penjual makanan burung, mendadak ada seorang laki-laki mendahuluiku. Penampakannya dari belakang gampang diingat. Tinggi, berkulit sawo matang, bercelana dan jaket berwarna khaki.

Kenapa aku ingat? Soalnya dalam hati sempat berpikir, “Wah si mas ini celana dan jaketnya seragam banget yah?”

Setelah menyebrang jalan, aku mengikuti mas ini naik ke angkot 61 dengan buru-buru karena  sempritan polisi sudah membahana. Seingatku, mas tersebut naik dan duduk di bangku penumpang 6, sementara aku menuju bagian pojok bangku penumpang 4. Di belakangku ikut naik anak SMU yang duduk di dekat pintu.

Aku duduk, menarik napas dan mulai memperhatikan penumpang angkot. Aku celingak-celinguk kebingungan.

“Hmm mana yah mas yang tadi? Kok gak ada?” pikirku.

“Heh, apa gue tadi ngayal yah? Tapi kayaknya dia benar naik angkot ini kok. Wong kepalaku sempat hampir tersundul bokongnya,” pikirku lagi, penasaran.

Masih penasaran, aku cermati para penumpang satu-satu. Tetap tidak ada penampakan seorang laki-laki pun yang tadi aku deskripsikan.

“Ahhh gak lucu ini! Masa kejadian lagi? Aduhhh… kenapa sih gue? Ketemu yang aneh-aneh melulu dari hari Jumat.” pikirku dalam hati sambil garuk-garuk.

Semakin dipikir aku semakin bingung. Tapi beneran deh! Itu orang benar-benar naik angkot yang sama dengan posisi di depanku. Dan tidak ada jeda sama sekali buat dia untuk turun lagi.

OMG! I hate seeing undefined things!

Well, gak apa-apa sih selama gak ditampakkan yang ”seram”. Wkwkwkwk….

Eh, jadi ingat lagi nih pengalaman sama si Buduk (abangku yang nomor 3) saat melewati kuburan di kompleks AL Pangkalan Jati jam 12 malam. Mendadak aroma busuk yang menyengat menyerbu penciuman.

Trus, abangku yang satu itu wanti-wanti begini, “Lu jangan liat spion atas dan samping yah. Liat aja lurus ke depan. Kalo perlu matanya ditutup aja.”

Aku manggut-manggut dan mengikuti perintahnya dengan segera. Bulu kuduk merinding bo! Huahhhh…. jujur aja… seram-seram penasaran. Abis, emang berasa tuh ada yang nebeng mobil kita, pengen ngeliat ke belakang tapi “takut”. Takut sama penampakannya.

Jadilah kita mengendarai mobil dengan hati-hati dan sambil bercanda, “Waduh, kalau ikutan mobil kita, jangan lupa bayar yah. Masa nebeng gratis begini.”

Akhirnya bau busuk pun menghilang ketika rumah telah tampak di pelupuk mata.

Kata Buduk gini, “Tau gak tadi apa yang nebeng?”

Aku geleng-geleng kepala.

“Si Kunti…” ujarnya sambil ketawa. Kikikikik…..

Lega rasanya aku tak harus melihat penampakannya

Gak lagi-lagi deh kejadian kek gini!

Gak lagi-lagi deh pergi sama Buduk lewat kuburan sama malam-malam. Hehehe… *peace Bang!*

Hayooo! Siapa yang besok mau merayakan hari tatih tayang?

Unjuk jempolnya! Kamu? Kamu? Atau kamu?

Sudah siap apa saja nih buat besok? Rencana sudah matang? Dompet masih terisi penuh (soalnya sudah tengah bulan kan?)? Rayuan gombal sudah dihapalkan? :D

Kalau daku sih, dari dulu (waktu mulai mengenal namanya pacaran) sampai sekarang (punya suami dan anak 1) tidak pernah buat rencana istimewa buat merayakan valentine day.

Kenapa yah? Coba kita telaah pelan-pelan.

Yang pertama. Pada dasarnya romantis dan suka mengumbar tatih tayang. Trus juga pandai berkata-kata (alias merayu) dan gaul. Hasilnya? Bikin saya cemberut terus kalau lagi jalan sama dia. Soalnya hampir semua cewek di daerah kita dia kenal. Kalau hanya sekedar menyapa sih, OK lah! Tapi kalau sudah diselipin teasing etc, wah keluar deh bibir monyongku.

Malah pernah nih, sekali waktu kita makan di Dunkin Donuts (hehehe 10 tahun yang lalu belum ada JCo atau gerai donat lainnya sih), nah ketemu tuh teman ceweknya. Dikenalkanlah diriku ini olehnya kepada para teman ceweknya. Apa yang terjadi? Daku dilirik sinis sama 3 orang cewek itu. Sebal Esmosi jiwa rasanya! Untungnya masih bisa ditahan.

Alhamdulillah, akhirnya daku putus juga dengannya setelah 4 tahun menjalin hubungan. Dikasih jalan oleh-Nya untuk meninggalkan dirinya.

Yang kedua. Mantan musuh bebuyutan di SMA. Sudah jutek, bikin sebal, pelit, belagu pula. Masa nih, pas jaman SMA, dia pernah bilang ”Amit-amit kalau gue dicium elu!”

Sekarang? Huahahaha… Kualat dia! Rasain! Emang enak!

Soalnya, di masa kini dia malah diciumi melulu sama daku. Hehe… (maaf yah Pa! buka aib… :P )

Eniwei, Papanya Dira ini orangnya kebalikan dari yang pertama. Gak pintar merayu. Keluar kata cinta, sayang dan kata manisnya saja susah banget. Heran gak sih kenapa daku mau nikah sama dia?

Tapi, pernah sekali terjadi keajaiban. Tgl 14 Februari 2001, dia datang ke rumahku bawa setangkai bunga mawar.

Wah! Hati rasanya senang banget! Soalnya dalam sejarah tidak ada seorang pun yang pernah kasih diriku bunga mawar. Jadi kebayang dong bagaimana hati ini rasanya berbunga-bunga.

Tapi (sekali lagi tapi), itu cuma kejadian satu kali dalam sepanjang sejarah hubungan kita. Soalnya sejak saat itu hingga sekarang sudah menikah, dia gak pernah kasih bunga mawar lagi. Hiks hiks…

Yang parah nih, kalau kita bernostalgia soal ini, eh dianya lupa. Pasti nanya, “Emang gue pernah bawain elu bunga mawar?” Gubraaakkkk!!! Akhirnya daku cemberut lagi gara-gara dia lupa momen indah tersebut.

Daku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, “Why man can forget easily over sweet memory? While woman tends to remember everything in details.”

Jawabannya? Coz man uses left brain and woman use right brain. Betul gak?

Oya, pernah aku bertanya, “Sebenarnya Papa cinta gak sih sama aku? Kok gak pernah bilang ‘aku cinta padamu’?”

Dijawabnya, “Emang perlu yah kata-kata?” Gubrakkk lagi!!! Benar-benar deh itu Bapak! Bikin gemas!

Tapi, yah itulah Papanya Dira. Dari dulu sampai sekarang.

Gak suka basa-basi dan merayu. Masih tetap jutek (terkadang). Gak lucu. Gak seru. Gak romantis. Gak pinter cari duit (kekekek… just kidding!) Jarang telpon Mamanya Dira buat sekedar bertanya, “Sudah makan belum?”.

Tapi (lagi), I love him much for no specific reason.

So, when I get upset to him, having bad thoughts about this and that, only a feeling of my pure love to him, the emotion calms down.

Do you feel the same way to your loved ones?

Love is so beautiful. Love can conquer everything.

If only we have “so many loves” to share with others, world will become more peaceful.

So, let me say ”Happy Valentine Day” for all of you.

Buat yang tidak merayakannya seperti daku, jangan bersedih. Gak cuma momen Valentine Day kok kita bisa ber-tatihtayang. Setiap hari bisa kok! Setuju?

PS: “So many loves” di sini bukan berarti kamu bisa dengan semena-mena punya pacar banyak yah. Buat yang belum menikah, cari referensi sebanyak-banyaknya dan pilih yang terbaik. Tapi jangan mendua, meniga, dstnya. Hehe, sedih rasanya diduakan. Apalagi ditigakan, diempatkan, de el el.

Category: Nostalgia, Terkini  Tags:  2 Comments

I just went through my old picture files stored in flash disc.

There, I found these cute pictures of my niece and nephew whose been separated from our family for almost 2 years. Why? Because my bro and her ex-wife got divorced. So, the children were taken care by their mum whose already got married again and right now they’re staying in Bali. We just lost contact with them afterwards.

The boy called Aji and the girl called Ophel. These pictures were taken on March or April 2003. Aji was almost 6 years old and Ophel 18 months. I was single then (hehe… single but not available)

Do you see any resemble between Ophel and Dira (my gal)? Hehe, if you find any, then it was because I kept acting like ‘an old auntie’ to her during my pregnancy. Not a naughty girl actually, but she was so curious upon everything. And a little bit talkative… just like my gal now. :D

Anyway, I really really miss them alot. Last time I met them was last year when their father got the permission to take them spent 2 nights in my mum’s house. They were so different in persons.

Aji was a sensitive-quiet but funny-cheerful person and when we met at that time he became even more quiet. He was also becoming taller (taller than me on his age of 11) and slimming. While Ophel, a cheerful, funny and talkative person remained the same, only that she was skinnier than ever. And if I may say, it seems something was taken away from them because of the divorce.

*sigh*

Guys! Your auntie here misses you alot.

I thought that you will be good cousins to my gal Dira, but you both were only there for a year to watch Dira grew up.

Remember the time when your auntie brought Dira home? You were saying, “Ini anaknya Tante Uke yah?”

“Indira kok nangis terus?”

“Kok Indira minta nenen terus?”

“Tante Uke! Indira bangun tuh!”

“Tante Uke! Aku mau gendong Indira boleh gak?”

“Tante Uke lagi ngapain? Indiranya tidur yah?”

And so on! So many questions you asked to me during my rest 1.5-month maternity leave.

*sigh again*

When can I meet you again guys? Now that tears are running down through my cheeks.

I really hope that you miss me too. Although I might be not a good auntie for you back then.

I really hope that both of you will be taken care by your mum just like the way your grandma taken care of you for more than 5 years.

Love you both alot…

-Auntie Uke-

Category: Curhat, Nostalgia  Tags:  3 Comments

I woke up this morning reluctantly.

It was caused by the sound of bakery roundsman at 5.15 AM and not the sound of my cellphone’s alarm as usual.

“It’s raining again…” I sighed deeply. Not that I complained about the morning weather. But raining in the morning is really a trouble for office worker like me, starting from the laziness it brings, until the traffic jam it causes.

But, I love rain much.

I remember the time when I often stood under the rain several years ago, everytime I wanted to cry out loud. And the place where I did it was on house rooftop.

(Well, not exactly on the rooftop. You know, almost every house in Indonesia has a space on the rooftop to serve as drying ground for washed clothes.)

Yup! Standing under the rain while crying was my favorite thing to do to relieve all burdens on my shoulder. Funny, huh?

When I was a kid to teenager, if I got really upset on something, I had awful behaviours. I would put a gloomy face, yelled randomnly, slammed my bedroom door and played G’nR’s album on the tape (my pick was “Use Your Illussion 2″ album).

When I got older (and wiser, ofcourse), those awful attitudes somehow turning into a new behaviour. Standing under the rain suddenly became an effective way for cooling down my emotion.

It’s fun, you see!

You could cry and scream out loud at the same time. Letting your tears drop along with the raindrop. And when you get to your voice limit, you could just sit under the rain. Think back about what makes you upset. Cooling down a bit. You could even think a solution over your problem, sometimes. After that, take a long hot water bath. You’d get more on the cooling down effect.

I did it when my father passed away.

I did it when I found out my (ex) boyfriend cheated on me.

I did it when I didn’t pass my final exam on college and had to repeat the exam 3 months ahead.

I did it when someone put me in a difficult situation.

But I haven’t done it since I got married.

*sigh*

No wonder….

Anyway, the effect of morning rain today was that I had to take a quick bath and jump on the bus heading for Fatmawati. It was out of question to go on with 61 since the traffic jam in Jalan Pinang started from about 30 meter before the intersection of Aneka Buana.

I also had to grin a little when the bus assistant (‘kenek’) of 509 called me ‘Dek’ while he was years younger than me. I even only paid Rp 2000 while it should be Rp 3000. It seemed that the ‘kenek’ thought I was a college student.

At last, I arrived in my office at 08.02, safely and a little bit dump on my shoes. Only 2 minutes late.

Category: Nostalgia  Tags:  2 Comments

Too bad my old post which titled “In memoriam, si Mbek” was also torn apart along with the previous setting for anakboncel.net. This posting correlated with that posting. Well, maybe you could refer to my other posting in Keluarga Poet’s blog which can be read here.

Nah, ceritanya nih sewaktu menginap di rumah Mamaku sewaktu malam menjelang Idul Adha, aku akhirnya menonton film “Mamma Mia” setelah beberapa bulan penasaran karena baca resensi filmnya. Tentunya setelah Dira tertidur lelap dan juga si mbak Mis yang berselimut dari kepala ke kaki karena kedinginan.

I must admit, this movie was so entertaining, touchy and tickling. Hebring euy! The writer was so brilliant. I mean, the story outline was simple and maybe too simple, yet it fitted alot with the theme song. Two thumbs up to … (I had to googling first to find out the writer)… Catherine Johnson. :D

I’m not going to do a movie review here coz I bet lots of people had done the same before. Here, I just want to share how this movie can arise memory of my beloved dad. Sounds strange?

Well, my dad was a big fan of the music group ABBA back in the 80’s (or 70’s?). So I was grown up with the ABBA music playing alot in my house. I even think that my dad had only known one music group, the ABBA… ha ha… (well, that’s not true ofcourse coz back in my parents’ youth moments, they were freaking crazy about music and dancing).

Lagu yang paling membangkitkan kenangan tentang Papa itu adalah Chiquitita. Lagu ini adalah salah satu lagu yang sering diputar berulang kali olehnya. Lagu lainnya adalah Fernando. Gak tau deh kenapa si Papa suka banget sama kedua lagu ini. Dulu rasanya aku sampai rajin protes kalau kasetnya direwind terus buat mengulang lagu yang sama. “Kan cepat rusak Pa!” ujarku memberi alasan, selalu dengan kalimat yang sama.

Bahkan nih, kita juga punya video klipnya loh, tentunya bukan dalam bentuk VCD atau DVD karena masih jaman kaset video VHS (ingat gak kaset VHS? hitam, dengan ukuran p x l x t sekitar 25 x 15 x 4 cm) dan Betamax (nah yang ini versinya lebih kecil). Tadi ketemu nih video klipnya di YouTube yang nyanyi di dekat orang-orangan salju. Mau diembedded tapi kok gak bisa yah? :(

Eh, kembali ke film Mamma Mia. I love it. Not only it reminded me of my late dad loh. I love it for bringing up my mood again to watch movie. I was a movie freak, but lately I’m not so interested watching any movie at all. Mungkin karena ada kesibukan ekstra sebagai ibu yang membuat mood turun buat melakukan hal-hal yang dulu menyenangkan hati.

So, watching Mamma Mia surely turns me on. Eh, dalam pengertian yang baik loh! Bukan dalam arti ‘mupeng’ :D (walaupun jujur lagi kangen sama si Rino jelek itu).

I’m sleepy.

Kita sudahi sajalah posting ini. Buat yang belum nonton Mamma Mia, coba deh luangkan waktunya buat menontonnya. Mana tahu bisa membangkitkan semangat atau mood atau sebagai stress relief. Aku saja bisa jadi ikut berdendang sambil geleng-geleng kepala.

Saran pribadi, gak usah nunggu yang original deh, mahal…. Tapi yah kalau punya duit mah silahkan beli yang asli. Against Piracy!

Category: Curhat, Nostalgia  Tags: ,  5 Comments
Anakboncel