Archive for the Category »Pemikiran Aneh «

Pagi ini ketika terpaksa berjalan menyusuri pasar Pondok Labu menuju perempatan DDN-Margasatwa akibat kemacetan, saya mendadak teringat dengan pelajaran Fisika mengenai Momentum dan Impuls.

Hehe, saya bukan penggemar pelajaran Fisika kok. Enggak banget! Monkey EmoticonsApalagi kalau ingat dulu kalau belajar Fisika harus “ngos-ngosan” dulu baru bisa menangkap inti pelajarannya (dan menghapal rumusnya).

Jadi, kenapa tiba-tiba saya ingat dengan Momentum dan Impuls? Monkey Emoticons

Hal pertama dikarenakan kemacetan yang terjadi di Pondok Labu disebabkan oleh angkutan umum yang “ngetem” di depan pasar atau berjalan dengan kecepatan lambat di sepanjang jalur pasar. Hal kedua yang berkaitan dengan kejadian pertama adalah banyaknya jumlah pengendara motor yang memakai tidak hanya jalur kiri, namun juga jalur kanan untuk arah sebaliknya.

Hal pertama di atas jelas bikin kesal pengguna kendaraan pribadi yang berada di belakang angkutan. Begitu juga dengan hal kedua. Soalnya, terkadang perempatan macet sekali karena mobil yang harusnya melaju lancar harus berhenti karena berhadapan dengan rombongan motor yang memakai jalurnya. Kalau sudah begini, biasanya suara klakson langsung bergema dari seluruh arah. Bikin pusing!

Buat pejalan kaki seperti saya, hal pertama bikin kesal namun masih bisa dimaklumi. Angkutan umum gitu loh! Mau kesal, tapi kita butuh hehe… Dilema tak berkeputusan. Monkey Emoticons

Hal kedua? Kalau saya pribadi, suka jadi murka sama pengendara motor. Lah, gimana tidak? Tidak hanya jalur dari arah berlawanan yang dipakai, tapi jalur pejalan kaki alias trotoar pun juga dipakai. Ujung-ujungnya, trotoar pun ikut macet. Hiahhh!!! Monkey Emoticons

Belum lagi kalau mengantri di belakang motor 2 tak yang tidak pernah diservis knalpotnya. Selain kesal, penyakit pun didapat. Gimana tidak, asap knalpotnya langsung kemana2 setiap kali motornya digas. Ampun deh!

Lah terus apa kaitan dengan keluh kesah saya barusan dengan topik Momentum dan Impuls? Monkey Emoticons

Enggak ada! Monkey Emoticons

Hanya saya  tiba-tiba punya pikiran kalau hampir semua pengendara motor selalu memanfaatkan momentum yang ada saat mengemudi. Contohnya seperti yang sudah saya sebut di atas. Jalan macet, lihat trotoar kosong, pengendara motor langsung memanfaatkan “Momentum” tersebut untuk memaksa motornya naik trotoar. Pejalan kaki harus memiliki “Impuls” yang tepat agar bisa langsung bereaksi saat nyaris disenggol oleh motor.

Hehe, ketahuan deh punya emosi terpendam sama pengendara motor. Monkey Emoticons Gak semuanya sih, tapi mayoritas pengendara motor menggelitik saya secara emosi.

Misalnya, kejadian satu minggu lalu yang saya alami ketika hendak menyebrang jalan. Saya mengambil momentum untuk menyebrang jalan karena melihat jalur dari kanan sedang terhalang mobil yang sedang menyebrang ke arah yang sama dengan saya. Namun, mendadak dari arah jalur yang seharusnya berhenti, muncul motor dengan laju kendaraan yang cukup kencang melintas di depan saya (yang saat itu sudah berada di tengah jalan). Otomatis saya langsung menghentikan langkah.

Rupanya, entah mengapa aksi motor itu memancing pengemudi mobil yang jalurnya berhenti karena mobil lain menyebrang. Jadi, ketika mobil yang menyebrang sudah berlalu, pengemudi mobil ikut melajukan kendaraannya cukup kencang, ke arah saya. Saya berniat mundur kembali ke tepi jalan, namun di belakang saya pengemudi motornya juga sedang melaju.

Akhirnya? Saya diam di tengah jalan. Benar-benar berdiam diri. Saya mau lari ke depan pasti kena, mundur juga kena. Pasrah! Sementara itu, pengemudi mobil, yang akhirnya melihat saya di tengah gelapnya malam, harus membanting setirnya ke kanan. Untungnya tidak ada kendaraan lain yang datang dari arah berlawanan.

Saya cuma bisa membatin, “Alhamdulillah, masih dikasih selamat oleh-Nya!”

Tuh, gimana saya tidak emosi dengan pengendara motor. Seandainya pengemudi mobil tidak membanting setirnya ke arah kanan, mungkin saat ini saya sedang dirawat atau sudah menghadap-Nya. Yah, ketentuan-Nya tidak bisa ditebak kan…

Yah, intinya saya buat posting ini adalah untuk menghimbau pengemudi motor, secara khusus, dan pengemudi mobil untuk lebih berhati-hati dalam mengemudi. Jangan sampai mencelakakan orang lain. Apa sih salahnya mengerem sedikit saja untuk memberi jalan buat penyeberang jalan dan pengendara lainnya?

Kenapa harus selalu memanfaatkan Momentum dan Impuls dalam berkendara tanpa memperdulikan sesama pengguna jalan lainnya. Kalau bisa seperti itu kan lalu lintas bisa lebih teratur, jumlah kecelakaan di jalan raya bisa diturunkan, dan banyak anak yang tidak harus menderita karena kehilangan orang tuanya atau orang tua kehilangan anak karena kecelakaan, de el el.

Ah, sudahlah! Gini hari masih ngomel soal pengendara motor/mobil. Salah siapa jumlah kendaraan bermotor meningkat sangat pesat di Indonesia? Sayangnya tidak diikuti dengan bertambah tingginya kesadaran si pengendara terhadap keselamatan diri dan pengguna jalan raya lainnya.

Hehe, bikin SIM saja bisa ambil “jalur ekspres”…. Monkey Emoticons

Gak tau deh tepat atau tidak judul posting di atas untuk cerita kali ini.

Awalnya sih pengen dikasih judul “Hari yang Seram”. Tapi sayangnya, akunya sendiri tidak merasa seram. Hehe… bingung deh!

Jadi begini yah ceritanya…

Jumat sore yang lalu, tgl 13 Februari (waks… baru ngeh kalau itu adalah Friday the 13th), aku dan 2 orang teman kantor naik angkot 112 (trayek Depok-Kp Rambutan) ke arah Pasar Rebo.

Awalnya, penumpang angkot lebih dari 6 orang dan semuanya duduk di belakang. Satu-persatu penumpang turun dan yang terakhir adalah seorang bapak yang turun setelah menjelang pertigaan Kiwi (Hmm apa Keong yah? Lupa! Hehe pokoknya pertigaan di Jl. Raya Bogorsebelum daerah Gongseng deh).

Tak lama setelah bapak ini turun, mendadak terdengar suara cempreng seorang laki-laki dari arah depan dekat supir. “Kiri, kiri Pak!” ujar suara tersebut. Supir angkot mendadak mengerem kendaraannya.

Aku menelengkan kepala melihat ke bangku sebelah supir untuk memperhatikan siapakah yang hendak turun. Rupanya temanku, Atik, yang duduk berhadapan juga melakukan hal yang sama. Dan… huahhhh… aku dan Atik saling pandang-pandangan dengan tatapan bertanya, “Siapa yang turun?” Kita melanjutkan bertatap-tatapan tanpa memperoleh jawaban.

“Lu denger gak? Ada yang kiri-kiri tapi gak ada orangnya.” kata Atik.

“Dengar.” ujarku nyengir. “Suaranya ngomong ‘kiri, kiri Pak!’. Iya gak?”

“He eh!” si Atik mulai pasang ekspresi gak wajar (hehe ini agak hiperbola sih).

Sementara temanku yang lain, Milti, memandang dengan aneh percakapan kita berdua. “Kenapa sih?” tanyanya.

“Elu gak denger? Ada yang ngomong ‘kiri, kiri Pak!’ tapi gak ada orangnya sama sekali” ucapku.

“Enggak! Gue gak denger apa-apa kok.” kata Milti.

“Ah, masa sih? Gue sama si Atik ngedenger. Trus supirnya juga, makanya tadi dia mendadak ngerem.” lanjutku lagi.

“Enggak. Beneran gak denger suara orang ngomong. Gue cuma denger ada yang ngetok atap mobil kayak kita biasa mau turun angkot. Gak ada suara kok,” lanjut Milti pula.

“Ihhhh… siapa itu yah? Serem!” ujar Atik.

“Hehe… untung sore-sore dan kita bertiga pula. Coba malam hari, bisa pipis di celana nih.” kataku.

Tak lama kemudian Atik turun sambil mewanti-wanti supaya aku dan Milti berhati-hati. Alhamdulillah perjalanan menuju ke rumah lancar tanpa gangguan “aneh” lainnya.

Nah, hari ini, walau sudah lewat Friday the 13thnya, ternyata aku masih mengalami hari yang aneh.

Diawali oleh Dira. Dini hari mendadak dia bangun dan langsung duduk di atas perutku. “Nenen di peyut Ma!” katanya. Aku spontan terbangun dan langsung buka ‘warung’.

Sekitar 20 menit kemudian Dira berguling dari perutku dan tidur menghadap ke jendela kamar. Seperti biasa, jendela kamar selalu aku buka di malam hari supaya tidak panas. Maklum, kamar kita tidak pakai AC. Yang berbeda malam tadi adalah tirai jendela sedikit tersibak sehingga kita bisa lihat gelapnya malam.

Tak lama kemudian Dira berbalik ke arahku sambil berkata, “Pala, pala Ma. Tutup bantal. Pala, palana tutup bantal.”

“Eh kenapa nih anak?” pikirku heran.

Sambil kepalanya tetap menghadap ke arahku (posisinya membelakangi jendela), tangannya meraba-raba bantal. Ketika mendapat apa yang dicari, hup, langsung bantal diletakkan di kepalanya.

“Yah, Dira aneh lagi nih!” ucapku dalam hati. Biasa deh, kalau ada yang ‘aneh’ pasti Dira akan bertingkah aneh. Eh, jadi ingat, malam sebelumnya Dira juga susah tidur dan memejamkan mata. Dia malah sibuk bertingkah dan tiap kali disuruh tidur, matanya malah jelalatan lihat ke sana kemari. *sigh*

Dan, dini hari tadi sepertinya ada yang ‘aneh’ lagi. Akhirnya, aku pindah posisi tidur ke dekat jendela. Dira kemudian aku suruh tidur membelakangi jendela sambil aku peluk. Alhamdulillah dia kembali tidur nyenyak. *hehhh… ada-ada saja*

Pagi hari ini, kejadian ‘aneh’ kembali menghampiri.

Saat berangkat kerja, dengan niat mengambil jalan pintas dengan naik angkot lewat Gandul untuk ke perempatan DDN, aku malah kembali ke jalur Pondok Labu. Huehehe.. nasib, nasib. Pengen tidur di angkot 105 malah dia potong jalan ke UPN. Akhirnya? Aku jalan lagi ke perempatan DDN.

Menjelang perempatan, saat berjalan melewati tenda penjual makanan burung, mendadak ada seorang laki-laki mendahuluiku. Penampakannya dari belakang gampang diingat. Tinggi, berkulit sawo matang, bercelana dan jaket berwarna khaki.

Kenapa aku ingat? Soalnya dalam hati sempat berpikir, “Wah si mas ini celana dan jaketnya seragam banget yah?”

Setelah menyebrang jalan, aku mengikuti mas ini naik ke angkot 61 dengan buru-buru karena  sempritan polisi sudah membahana. Seingatku, mas tersebut naik dan duduk di bangku penumpang 6, sementara aku menuju bagian pojok bangku penumpang 4. Di belakangku ikut naik anak SMU yang duduk di dekat pintu.

Aku duduk, menarik napas dan mulai memperhatikan penumpang angkot. Aku celingak-celinguk kebingungan.

“Hmm mana yah mas yang tadi? Kok gak ada?” pikirku.

“Heh, apa gue tadi ngayal yah? Tapi kayaknya dia benar naik angkot ini kok. Wong kepalaku sempat hampir tersundul bokongnya,” pikirku lagi, penasaran.

Masih penasaran, aku cermati para penumpang satu-satu. Tetap tidak ada penampakan seorang laki-laki pun yang tadi aku deskripsikan.

“Ahhh gak lucu ini! Masa kejadian lagi? Aduhhh… kenapa sih gue? Ketemu yang aneh-aneh melulu dari hari Jumat.” pikirku dalam hati sambil garuk-garuk.

Semakin dipikir aku semakin bingung. Tapi beneran deh! Itu orang benar-benar naik angkot yang sama dengan posisi di depanku. Dan tidak ada jeda sama sekali buat dia untuk turun lagi.

OMG! I hate seeing undefined things!

Well, gak apa-apa sih selama gak ditampakkan yang ”seram”. Wkwkwkwk….

Eh, jadi ingat lagi nih pengalaman sama si Buduk (abangku yang nomor 3) saat melewati kuburan di kompleks AL Pangkalan Jati jam 12 malam. Mendadak aroma busuk yang menyengat menyerbu penciuman.

Trus, abangku yang satu itu wanti-wanti begini, “Lu jangan liat spion atas dan samping yah. Liat aja lurus ke depan. Kalo perlu matanya ditutup aja.”

Aku manggut-manggut dan mengikuti perintahnya dengan segera. Bulu kuduk merinding bo! Huahhhh…. jujur aja… seram-seram penasaran. Abis, emang berasa tuh ada yang nebeng mobil kita, pengen ngeliat ke belakang tapi “takut”. Takut sama penampakannya.

Jadilah kita mengendarai mobil dengan hati-hati dan sambil bercanda, “Waduh, kalau ikutan mobil kita, jangan lupa bayar yah. Masa nebeng gratis begini.”

Akhirnya bau busuk pun menghilang ketika rumah telah tampak di pelupuk mata.

Kata Buduk gini, “Tau gak tadi apa yang nebeng?”

Aku geleng-geleng kepala.

“Si Kunti…” ujarnya sambil ketawa. Kikikikik…..

Lega rasanya aku tak harus melihat penampakannya

Gak lagi-lagi deh kejadian kek gini!

Gak lagi-lagi deh pergi sama Buduk lewat kuburan sama malam-malam. Hehehe… *peace Bang!*

Have you ever notice that there are only two words on the bottom-left on Start Menu in your Windows program? Log Off and Shut Down.

If you click on “Log Off”, you must choose 1 answer from 2 choices for the question “Are you sure you want to log off?”. You can either pick “Log Off” to quit your username from Windows and let someone else log in with his/her username, or ”Cancel” if you change your mind and would like to stay.

But what happens if you click on Shut Down? You will be offered to 5 choices, Log Off, Shut Down, Restart, Stand By and Hibernate. You must choose 1 of them before executing the next choice, either OK, Cancel or Help.

I tried to click on Help to see the definition of those choices. And here they are:

Stand by : A state in which your computer consumes less electric power when it is idle, but remains available for immediate use. Typically, you put your computer on standby to save power instead of leaving it on for extended periods. In standby mode, information in computer memory is not saved on your hard disk. If the computer loses power, the information in memory will be lost.
This option appears only if your computer supports this feature and you have selected this option in Power Options. See Power Options overview in Help.

Hibernate : A state in which your computer saves any Windows settings that you changed, writes any information that is currently stored in memory to your hard disk, and turns off your computer. Unlike shutting down, when you restart your computer, your desktop is restored exactly as it was before hibernation. Hibernate appears only if your computer supports this feature and you have selected the Enable hibernate support option in Power Options. See Power Options overview in Help.

Shut Down : A state in which your computer saves any Windows settings that you changed and writes any information that is currently stored in memory to your hard disk. This prepares your computer to be turned off.

Restart : A state in which your computer saves any Windows settings that you changed, writes any information that is currently stored in memory to your hard disk, and then restarts your computer.

Log off : A state in which your computer closes all your programs, disconnects your computer from the network, and prepares your computer to be used by someone else.
When connected to a Windows 2000 Server running Terminal Services, Log off closes all programs running in your Terminal Services session, disconnects your session, and returns you to your Windows desktop.

Haha, am I trying to make a strange posting? Could be!

Nope, I just think how life sometimes similar to what we face everyday in our works, computer with Windows program (hmm, I’m not sure about other program like Mac or Linux coz’ I never use any of them yet).

As an example is someone whose in stressful situation, like me. When I think about the problems I can’t solve, I feel like I want to Log Off from my life, dreaming that I could be someone else. But then, if I choose to Log Off, I must think about it carefully because 2 choices offerred. Do I really want to Log Off and just walk away from the problems? Although it means I have to leave my husband and child. Well, as a matter of fact, right now I only think about my child. I don’t really care about my husband who is already grown up and can take care of his self. But what about my 2-year-old toddler?

Well, yes, his father might as well find a new mother for her. But, will the new mother lover my baby as much as I do? I know, not all step mothers are meaned, but mostly they are. So, thinking about it, I always choose “Cancel” and return to my life.

About Shut Down. Well, I define Shut Down as a way to end your present life. ”End your life” doesn’t always mean that you do suicidal thing to really end your life. Maybe, if you choose suicide as the right solution, any of your problems will get away just like that. You will be freed from anything. I guarantee! Although, I’m not going to guarantee what will happen to you in the after life. Because for moslem, doing a suicide is considered as a big sin. Believe it or not! (I can’t tell you what it’s going to be liked because I’m still alive). So, you can choose Cancel before choosing OK to Shut Down your life.

Life is full of choices and considerations. It is also applied to Windows program when you click on Shut Down button. You can choose Log Off (as explained earlier), Restart, Stand By and Hibernate.

For Restart, I will define this word as a chance to refresh your present life with the family you have right now. It means that at last you have the guts to solve your problems in life by having a discussion with your spouse or anyone else involved in your problems. Communication is the key to solving problems, like some people might say. But, why does bridging a communication barrier seem so difficult?

I’m not the kind of people who like to talk much, but actually I’m quite an open person and like to share minds. My husband is different. He doesn’t like to talk nor even share his minds. And the worst is he doesn’t like to hear others. When I talk, he seems to be listened, but when I ask for his response, he says nothing. I really loose ideas on how to bridge this communication barrier with him. And in the end, I just keep in silent with full minds and problems.

So, can I choose Restart as an option? I wish I could, one day.

I can say that right now I’m in the state of Stand By and Hibernate. I’m trying to calm down, waiting for whenever right moment to do whatever right thing arrived. This is my Stand By situation. I will Hibernate to loosen up the stress a bit. So, whenever I wake up, I can find a solution to my problems.

Hmm, easy to say than to do it. But anyway, until right now, I can still manage everything. I live for my daughter. I work for my daughter. I will do whatever to maintain my computer on and so I don’t have to choose Log Off or Shut Down. Or at least, when I choose Shut Down, I will have a clear and sane mind to choose Stand By or Hibernate or even Restart.

You know what, I think Restart can also be defined as a way for you to get a fresh life with new people, new environment, etc, without just walking away like that. Maybe in a married life, you could see this definition of Restart as “divorce”, separation between husband and wife. But ofcourse, many things must be considered before taking this step.

Oh, dear! Why does this posting become longer than I have planned?

(this post was moved out from my previous blog)

Category: Pemikiran Aneh  Tags:  3 Comments
Anakboncel