Nyambung ah curhat kuliner alias pengalaman saya seputar jajanan di Surabaya (terutama yang keliling di sekitar rumah mertua).
Peringatan! Ceritanya bakalan panjang. Jadi siapin secangkir kopi buat temani kamu ngebaca posting ini.
Nah, tahun baru kemarin mendadak suami mengajak pulang ke Surabaya. Mendadak karena baru selesai beres-beres rumah jam 4, sudah harus berangkat ke tempat bis jam 4.30. Jadi ngebut banget milihin baju saya dan Dira untuk dibawa berlibur selama 3 hari.
mau baca lanjutannya gak? silahkan klik di sini
Hari ini saya mau cerita seputar makanan (lagi).
Hehe, maklum, ibu hamil yang satu ini senang makan (pada dasarnya), makanya gak kempes-kempes setelah kelahiran anak pertama. *ngaku dotcom*
Setelah gagal membujuk rayu suami untuk hunting bubur ayam (emburrr… payah nih suaminya), saya pasrah menerima nasib dan kenyataan bahwa “I’m longing for chicken porridge”.
Sampai tuh yah, pas pulang dari RS Mitra Keluarga Surabaya, saya cuma bisa ngiler melihat penjual bubur ayam di perumahan Darmo. OMG! Teganya… teganya dikau, wahai suamiku. (Susah nih gaul sama orang yang gak doyan buryam dan punya pikiran kalau buryam tuh cuma cucok dimakan untuk sarapan pagi.)
mau baca lanjutannya gak? silahkan klik di sini
Wuih, hari ini benar-benar melelahkan.
Bagaimana tidak? Saya habis bertempur dengan kaki sapi!
Kaki sapi? Kekekek… bingung yah?
mau baca lanjutannya gak? silahkan klik di sini