<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anakboncel.net &#187; Bersyukur</title>
	<atom:link href="http://anakboncel.net/tag/bersyukur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anakboncel.net</link>
	<description>A cup of coffee is enough</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 00:47:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Be grateful alias bersyukurlah&#8230;</title>
		<link>http://anakboncel.net/2009/05/be-grateful-alias-bersyukurlah/</link>
		<comments>http://anakboncel.net/2009/05/be-grateful-alias-bersyukurlah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 04:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakboncel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[Story Telling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakboncel.net/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Lagi malas menulis nih. Jadi saya copas saja yah artikel yang lumayan menarik untuk dibaca. Sayangnya saya gak tau penulisnya siapa karena cuma dapat Hanya pengingat agar kita (dan saya, khususnya) tidak lupa bersyukur karena hari ini masih bisa buka blog (walau dari kantor xixixi&#8230;), masih bisa jajan makan pagi (dan makan siang nanti), masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lagi malas menulis nih. Jadi saya copas saja yah artikel yang lumayan menarik untuk dibaca. Sayangnya saya gak tau penulisnya siapa karena cuma dapat </p>
<p>Hanya pengingat agar kita (dan saya, khususnya) tidak lupa bersyukur karena hari ini masih bisa buka blog (walau dari kantor xixixi&#8230;), masih bisa jajan makan pagi (dan makan siang nanti), masih bisa bayar biaya pap smear, masih bisa naik angkutan umum sebagai penumpang (dan bukan pengemis/pengamen jalanan), dan masih banyak lagi hal-hal lain yang bikin senewen padahal sebenarnya gak penting banget. </p>
<p>Moga-moga semua pengunjung yang mampir dapat menikmati bacaan ini.</p>
<blockquote><p><strong>Sebuah cerita tentang hidup dari negeri India&#8230;. </strong></p>
<p>Saya pikir, hidup ini kayaknya cuma menambah kesulitan2 saya aja! Kerja menyebalkan, hidup tak berguna dan nggak ada sesuatu yang beres!! Tapi semua itu berubah&#8230; sejak kemarin&#8230;<br />
Pandangan saya tentang hidup ini benar2 telah berubah! Tepatnya terjadi setelah saya ber-cakap2 dengan teman saya. Ia mengatakan kepada saya, bahwa walau ia mempunyai 2 pekerjaan dan berpenghasilan sangat minim setiap bulannya, namun ia tetap merasa bahagia dan senantiasa bersuka cita.<br />
Saya pun jadi bingung, bagaimana bisa ia bersuka cita selalu dengan gajinya yang minim itu untuk menyokong kedua orangtuanya, mertuanya, istrinya, 2 putrinya, ditambah lagi tagihan2 rumah tangga yang numpuk!!! </p>
<p>Kemudian ia menjelaskan, bahwa itu semua, karena suatu kejadian yang ia alami di India. Hal ini dialaminya beberapa tahun yang lalu, saat ia sedang berada dalam situasi yang berat. Setelah banyak kemunduran yang ia alami itu, ia memutuskan untuk menarik nafas sejenak dan mengikuti tour ke India. Ia mengatakan, bahwa di India, ia melihat tepat di depan matanya sendiri, bagaimana seorang ibu MEMOTONG tangan kanan anaknya sendiri dengan sebuah golok!! Keputusasaan dalam mata sang ibu, jeritan kesakitan dari seorang anak yang tidak berdosa yang saat itu masih berumur 4 tahun!!, terus menghantuinya sampai sekarang. </p>
<p>Kamu mungkin sekarang ber-tanya2, kenapa ibu itu begitu tega melakukan hal itu? Apa anaknya itu &#8216;so naughty&#8217; atau tangannya itu terkena suatu penyakit sampai harus dipotong? Ternyata tidak!!! Semua itu dilakukan sang ibu, hanya agar anaknya dapat MENGEMIS&#8230;! ! Ibu itu sengaja menyebabkan anaknya cacat, agar dikasihani orang2 saat mengemis di jalanan!! Saya benar2 tidak dapat menerima hal ini, tetapi ini adalah KENYATAAN!! Hanya saja hal mengerikan seperti ini terjadi di belahan dunia yang lain yang tidak dapat saya lihat sendiri!! </p>
<p>Kembali pada pengalaman sahabat saya itu, ia juga mengatakan, bahwa setelah itu, ketika ia sedang ber-jalan2 sambil memakan sepotong roti, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia makan itu ke tanah. Kemudian dalam sekejap mata, segerombolan anak kira2 6 orang anak sudah mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu&#8230; Mereka berebutan untuk memakannya!! (suatu reaksi yang alami dari kelaparan). </p>
<p>Terkejut dengan apa yang baru saja ia alami, kemudian sahabatku itu menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat. Ia menemukan 2 toko roti dan kemudian membeli semua roti yang ada di ke-2 toko itu! Pemilik toko sampai kebingungan, tetapi ia bersedia menjual semua rotinya. Kurang dari $100 dihabiskan untuk memperoleh 400 potong roti (jadi tidak sampai $0,25/potong) dan ia juga menghabiskan kurang lebih $100 lagi untuk membeli barang keperluan se-hari2. </p>
<p>Kemudian ia pun berangkat kembali ke jalan yang tadi dengan membawa 1 truk yang dipenuhi dengan roti dan barang2 keperluan se-hari2 kepada anak2 (yang kebanyakan CACAT) dan beberapa orang2 dewasa di situ! Ia pun mendapatkan imbalan yang sungguh tak ternilai harganya, yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang2 yang kurang beruntung ini!! </p>
<p>Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa heran, bagaimana seseorang bisa melepaskan kehormatan dirinya hanya untuk sepotong roti yang tidak sampai $0,25!! </p>
<p>Ia mulai ber-tanya2 pada dirinya sendiri, betapa beruntungnya ia masih mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik, juga keluarga yang hangat. </p>
<p>Juga untuk setiap kesempatan, dimana ia masih dapat berkomentar, mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian rapi, punya begitu banyak hal dimana orang2 yang ada di hadapannya ini AMAT KEKURANGAN!! </p>
<p>Sekarang aku pun mulai berpikir seperti itu juga! Sebenarnya, apakah hidup saya ini sedemikian buruknya? TIDAK, sebenarnya tidak buruk sama sekali!! </p>
<p>Nah&#8230;., bagaimana dengan Anda? Mungkin di waktu lain, saat kamu mulai berpikir seperti aku, cobalah ingat kembali tentang seorang anak kecil yang HARUS KEHILANGAN sebelah tangannya hanya untuk mengemis di pinggir jalan..!! </p>
<p>Saudara, banyak hal yang sudah kita alami dalam menjalani kehidupan kita selama ini, sudahkah kita BERSYUKUR??? Apakah kita mengeluh saja dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki?? </p>
<p>&#8220;Life is Beautiful&#8221; </p></blockquote>
<p>Sudahkah kita bersyukur hari ini? </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakboncel.net/2009/05/be-grateful-alias-bersyukurlah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersyukur</title>
		<link>http://anakboncel.net/2009/03/bersyukur/</link>
		<comments>http://anakboncel.net/2009/03/bersyukur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 15:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakboncel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Bersyukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakboncel.net/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Baru baca posting berantai dari salah satu blog teman baik saya, mbak Ade, tentang topik &#8221;Bersyukur&#8221;. Karena ide dari mbak Dini untuk menyebarkan topik ini melalui blog sangat bagus, jadi sejak 2 hari yang lalu saya nongkrong di halaman &#8220;Write Post&#8221; sambil berharap tulisan mengalir keluar lancar seperti air terjun. Percaya gak sih? Kalau saya membutuhkan waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru baca posting berantai dari salah satu blog teman baik saya, mbak Ade, tentang topik &#8221;Bersyukur&#8221;.</p>
<p>Karena ide dari mbak Dini untuk menyebarkan topik ini melalui blog sangat bagus, jadi sejak 2 hari yang lalu saya nongkrong di halaman &#8220;Write Post&#8221; sambil berharap tulisan mengalir keluar lancar seperti air terjun.</p>
<p>Percaya gak sih? Kalau saya membutuhkan waktu lebih dari 48 jam untuk mulai menulis posting dengan topik ini. Haha, ternyata yah lebih gampang berkeluh kesah daripada bersyukur. Tul kan? Ngaku gak?</p>
<p>Tiap hari, tiap jam bahkan tiap menit, keluh kesah mengalir dengan lancar dan diungkapkan dengan berbagai cara. Salah satu cara yang sedang &#8220;trend&#8221; untuk berkeluh kesah adalah melalui Facebook. Status diupdate terus dengan berbagai macam keluhan. Contohnya saja keluhan saya beberapa hari  yang lalu :</p>
<p><span class="status_body"><span style="font-size: small;">Arleta bilang kalo gw ngopi melulu tandanya &#8220;boring level increased.&#8221;</span></span></p>
<p>atau</p>
<p><span class="status_body"><span style="font-size: small;">Arleta heran ma batuk yang gak sembuh2&#8230; br seminggu mereda eh kumat lagi&#8230; *godeg2*.</span></span></p>
<p>dst&#8230;. Pokoknya mengeluh terus. Kalau gak ngeluh, ya ngomel. Hehe&#8230;</p>
<p>Kalau kita hitung nih, dalam sehari berapa kali sih kita berkeluh kesah? Satu, dua atau tak terhingga? Trus, berapa kali kita bersyukur dalam kurun waktu yang sama?  Lima kali sesuai jumlah waktu sholat wajib? Atau malah di saat sholat kita cuma sibuk meminta kepada-Nya, tapi lupa mengucapkan syukur? Hiks&#8230; jadi malu sama diri sendiri dan kepada-Nya.</p>
<p>Allah, maafin hambamu ini yang sering lupa untuk kerap bersyukur atas limpahan nikmat-Mu bagaimana pun bentuknya.</p>
<p>Kalau dipikir, hidup kita di dunia kurang apa lagi?</p>
<p>Walaupun hingga saat ini belum bisa punya rumah sendiri, tapi setidaknya saya masih dikasih tempat menumpang hidup yang layak.</p>
<p>Walaupun gaji tidak seberapa jika dibandingkan yang lain, paling tidak hingga saat ini saya masih bisa menggaji pembantu buat mengurus Dira, memenuhi kebutuhan sandang dan pangan dan memberi sedikit hiburan untuk Dira.</p>
<p>Tidak seperti seorang bapak dan anak yang sering saya lihat di emperan apotek di perempatan Cilandak KKO. Tidak memiliki rumah dan pekerjaan, Namun, membuat saya takjub dan haru saat melihat kasih sang bapak yang dengan sabar memangku anak perempuannya tertidur lelap di atas pangkuannya sambil berselimutkan kain sarung butut yang warnanya sudah tidak jelas lagi.</p>
<p>Saya juga seperti dibukakan jalan untuk menemukan dengan peluang bisnis yang menghasilkan uang walau jumlahnya belum jutaan. Bahkan entah mengapa Allah berbaik hati kepada saya sehingga jaringan downline bisa terus berkembang. Padahal saya bukan tipe orang yang pandai merayu orang lain untuk bergabung dengan peluang bisnis tersebut.</p>
<p>Saya diberi kepercayaan oleh-Nya untuk mempunyai seorang anak setelah hampir 2 tahun tak kunjung hamil. Bahkan saya ingat kalau sempat berkata kepada suami, &#8220;Hun, kalau kita gak punya anak, gak apa-apa yah?&#8221; Dan suami berusaha untuk menenangkan diri saya.</p>
<p>Tapi ternyata, kita ditemukan jalan untuk mengetahui masalah yang terjadi sekaligus penyelesaiannya walau harus mengeluarkan biaya bulanan untuk pengobatan sebelum dan selama kehamilan yang jumlahnya cukup berarti bagi keuangan kami.</p>
<p>Dan bahkan, keinginan saya dikabulkan (lagi) oleh-Nya untuk dapat mengalami proses melahirkan secara normal, walaupun harus menahan sakit akibat kontraksi selama empat hari. Sakit yang membawa nikmat, kalau saya boleh melukiskannya dengan kata-kata.</p>
<p>Saya masih dikelilingi oleh teman-teman yang baik hingga saat ini. Saya diberi kesempatan buat kenal dengan teman yang sangat suportif dan kekeluargaan di lingkungan kerja (mbak Ade, mbak Yuyun, mbak Yusi, Ega, Desy, Laily, Dewi, mbak Yenny, Arzul, de el el&#8230;).That&#8217;s why I miss you guys!</p>
<p>Saya masih diberi kesempatan untuk mengenal dunia blogging. Saya bisa berkenalan dengan banyak teman di dunia maya. Saya bisa belajar tentang banyak hal dari sesama blogger.</p>
<p>Tuh kan! Ternyata kalau digali lebih dalam, masih ada segudang hal-hal kecil yang harusnya saya syukuri.</p>
<p>Wah, mungkin mulai sekarang, saya harus berusaha untuk selalu mengucapkan &#8220;Alhamdulillah&#8221; untuk hal-hal kecil yang saya nikmati.</p>
<p>Ya Allah! Jangan lupa sentil hamba-Mu ini kalau lupa bersyukur terus. Tapi sentilnya jangan kuat-kuat yah! (hehe teteup minta yang enak)</p>
<p>Amin. <img src='http://anakboncel.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oya, kalau kamu mau baca posting dengan topik &#8220;Bersyukur&#8221;, langsung saja baca di blog ini:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><a href="http://dinishanti.com/bersyukur/" target="_blank">Bersyukur &#8211; Mbak Dini Shanti</a></li>
<li><a href="http://noeloe.net/2009/03/bersyukur/" target="_blank">Bersyukur &#8211; Mba Noe</a></li>
<li><a href="http://jengnad.net/blog/belajar-bersyukur/" target="_blank">Belajar Bersyukur &#8211; Jeng Nad</a></li>
<li><a href="http://yayachantique.blogspot.com/2008/12/im-grateful-for.html" target="_blank">I’m Grateful for &#8211; Yaya</a></li>
<li><a href="http://cemploeck.com/2009/03/04/bersyukur/" target="_blank">Bersyukur &#8211; Wiedy</a></li>
<li><a href="http://tjantikoe-shop.blogspot.com/2009/03/bersyukurr.html" target="_blank">Bersyukur &#8211; Tatiana</a></li>
<li><a href="http://unidede.com/2009/03/04/bersyukur/">Bersyukur &#8211; Mbak Ade</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakboncel.net/2009/03/bersyukur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
