Kalau disuruh milih berangkat kerja mau bawa mobil sendiri atau naik angkot, pasti saya akan milih “naik angkot”.
Hehe, kenapa coba? Siapa yang bisa tebak?
1………………………………………..2…………………………..ada yang tahu? ……….3……… nyerah?
Jawabannya adalah kalau naik angkot, otomatis waktu tidur saya bertambah sekitar 30 menit hingga 1 jam. Xixixi… segitunya yah?
Maklum, sejak punya blog, waktu tidur malam saya tambah molor. Dulu, saat jam menunjukkan pukul 21.00, saya langsung jadi nahkoda dan berlayar ke pulau kapuk. Sekarang,saya baru bisa memejamkan mata paling cepat pukul 23.30.
Jadi, tambahan waktu tidur di angkot itu memiliki arti yang mendalam buat saya. Bayangkan! Kalau jatah tidur di angkot dihilangkan, bisa-bisa sepanjang jam kerja saya akan sibuk mengumbar kantuk yang ujung-ujungnya menghambat “kreativitas” kerja.
Selain itu, tidur di angkot adalah cara jitu untuk mengatasi rasa stress akibat kemacetan khas Jakarta yang sering kali bertambah macet kalau ada polisi yang mengatur lalu lintas.
Kalau kondisi macet parah, saya akan melihat jam sambil memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menembus kemacetan. Jika waktu sudah mepet, mau tidak mau saya harus berjalan kaki. Dan sebaliknya, jika waktu masih berlebih, saya akan memilih untuk memejamkan mata dan mulai berlayar.
Hehe, itulah senangnya berangkat kerja dengan menggunakan angkot.
Tapi, naik angkot di waktu pulang kerja sering kali menjadi pilihan yang mengesalkan. Apalagi sih yang bikin kita kesal kalau tidak kebiasaan angkot buat mengetem.
Saya ngerti kok. Si abang supir harus cari penumpang banyak biar terkumpul duit untuk kejar setoran. Tapi kok yah hampir di tiap gang sepanjang jalur perjalanan, si abang (halah akrab banget panggilannya) akan memberhentikan angkotnya untuk menunggu calon penumpang baru.
Jelas penumpang yang ada di dalam angkot jadi bersungut-sungut. “Wong mau buru-buru kok malah mampir.” Rasa kesal semakin bertambah apabila calon penumpang yang ditunggu ternyata tidak ada niat sama sekali untuk naik angkot tersebut.
Biasanya kalau naik angkot yang supirnya hobi mengetem, saya akan turun dan pindah ke angkot lain (atau berjalan kaki jika lokasi yang dituju sudah dekat).Yah rugi uang sih kalau pindah ke angkot lain. Tapi saya merasa lebih rugi lagi kalau harus kehilangan waktu bertemu dengan anak sebelum dia tidur. Hehe… maklum, ibu-ibu sih.
Jadi, kalau waktu pulang kantor, saya akan menunggu di posisi yang cukup strategis untuk melihat angkutan umum mana yang muncul duluan. Apakah angkot atau Metro Mini? Semuanya demi mengejar waktu supaya lebih cepat tiba di rumah.
Dan, hari ini, saya terpaksa memilih naik angkot sepulang kerja karena bawaan yang cukup berat.
Alhasil, saya kesal setengah mati karena si abang bolak-balik berhenti menunggu calon penumpang tiap kali ada Metro Mini yang berputar balik ke arah Blok M.
Sementara supir angkot sibuk dengan promosinya “Cinere, Cinere… Meruyung, Cinere..”, saya sibuk berhitung berapa kali Metro Mini jurusan Cinere lewat mendahului. Tiga kali!
“Ihhh… lama banget sih nih angkot! Kok gak jalan-jalan…”
Setelah sibuk ngedumel tanpa hasil, dan bahkan bibir saya jadi monyong, akhirnya angkot bergerak juga menuju Cinere.
Sampai juga di rumah. Dua puluh menit lebih telat dari biasanya.
Ampun! Emang, angkot ngetem gak ada abisnya…









