Pagi ini saya baca posting di blog Muzda yang baru saya temukan saat blogwalking. Tema posting sih tentang R.A Kartini, sang pencetus emansipasi wanita di negeri ini.
“Hmm.. common posting nih keknya. Walau pun judul postingnya menarik juga ‘Hey, Kartini digugat..’,” pikir saya pada awalnya. “Paling juga gak jauh-jauh dari cerita perjuangan Kartini, surat-suratnya, dan hal-hal biasa yang umum dibahas selama ini,” pikir saya lebih lanjut.
Namun, setelah membaca lebih lanjut lagi… yaiks… ternyata… dalam euy! And truly madly deeply… I really love when she wrote these sentences:
Sekali waktu di televisi aku pernah mendengar Butet Kertaredjasa berkata, bahwa kodrat wanita itu hanya ada dua, hamil dan menyusui.
Menurutku, ini sanjungan yang luar biasa pada wanita. Menjadi Ibu bukan merupakan takdir yang membatasi geraknya, tapi justru merupakan kelebihan.
Dan inilah mungkin yang mendorong Kartini untuk menikah, dijodohkan atau tidak,…
Seketika luluh lantaklah air mata saya. Hehe… salah bahasa yah? Maksudnya, air mata saya kontan menetes satu per satu.
Ihhh cengeng banget yah? Wkwkwk….
Abis, gimana saya gak mau nangis… karena ternyata, selama menunggu datangnya masa pensiun dini dari dunia kerja yang sudah dijalani hampir 8 tahun, saya masih menyimpan keraguan akan peran baru saya nanti sebagai ibu rumah tangga (istri sekaligus ibu).
Kebayang kan? Tiap bulan terima gaji, mendadak harus menadahkan tangan ke suami. Kalau mau beli apa pun, terutama keperluan Dira, saya lebih senang menggunakan uang sendiri daripada meminta suami. Mau tutup poin buat bisnis saya ini, juga pakai uang sendiri (Untungnya buat tutup poin sudah bisa sedikit tercover dengan performance discount deh. Semoga tetap lancar bisnisnya. Amin.). Dan dalam 1 bulan lagi… hehe, saya bakalan menjadi seorang istri yang menanti dinafkahi suaminya. *heleuh bahasanya…*
Suami bahkan akhir-akhir ini sering bertanya kepada saya, “Mama siap gak jadi ibu rumah tangga? Nanti kamu stress lagi di rumah terus. Soalnya biasa kerja kantoran sih!”
Dan jawaban saya selalu standard dan terdengar klise, “Siap gak siap, yah tetap harus dijalankan toh?”
Saya sangat ingin menjadi ibu rumah tangga. Itu cita-cita terpendam saya dari dulu. Saya masuk dunia kerja setelah lulus kuliah lebih dikarenakan keinginan orang tua, terutama Mama, yang mendoktrin bahwa jaman sekarang akan lebih baik kalau perempuan juga bekerja. Lagi pula, selain belum ada rencana menikah, mau apa saya kalau bengong di rumah setelah lulus kuliah?
“Jangan seperti Mama nih! Dulu mau jadi guru, tapi sama Papa disuruh jadi ibu rumah tangga saja! Sekarang menyesal rasanya kalau ingat. Apalagi jaman sekarang Uk! Kalau perempuan gak ada pegangan sama sekali, susah kalau tiba-tiba ditinggal suami,” begitu ujarnya selalu.
Hmm, make sense! Kita tidak pernah bisa menerka kemana jalan hidup kita akan mengarah dan berakhir bagaimana kan?
Sebenarnya keraguan saya muncul karena di pikiran terus melayang-layang pertanyaan “Bisa gak yah saya jadi seorang “housewife” sekaligus “a mom” yang baik?”
Saya sangat sadar kalau menjadi seorang istri dan sekaligus ibu yang baik merupakan sebuah tantangan yang lebih berat daripada menjadi seorang pegawai/manager/direktur atau bahkan pemilik usaha mandiri sekali pun. Saya bahkan lebih deg-degan dibandingkan saat saya mau diinterview untuk suatu posisi di perusahaan tertentu. Jantung saya bahkan berdebar lebih kencang tiap kali ingat akan tanggung jawab dari profesi baru tersebut dibandingkan saat saya diajak bicara sama si bule dan dia berkata, “Look at into my eyes when I talk to you!” (And I win over him coz I dare myself to stare directly into his very own eyes as requested. Ha ha…)
Gimana gak deg-degan. Gimana gak berdebar. Tantangan profesi sebagai istri dan ibu itu tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada suami, keluarga dan masyarakat yang notabene manusia juga. Namun juga harus dipertanggungjawabkan ke hadapan Sang Khalik. “Apa saja yang sudah kamu ajarkan pada anakmu? Apa saja yang sudah kamu lakukan kepada anakmu? Apakah anakmu kau ajarkan untuk mengenal-Ku?” Beragam pertanyaan seperti terngiang di telinga.
Ampunnn!!! Pusing lagi deh! Gak heran deh bawaannya jadi sakit melulu yah?
Ya sud lah! Dipikirin amat sih Mama Indira…
Yang jelas, saya sangat berterima kasih kepada Muzda dengan adanya postingannya tersebut. Setidaknya saya semakin yakin bahwa profesi yang akan saya jalani nanti memang takdir yang memiliki berbagai kelebihan.
Doain yah saya bisa lulus dari tantangan ini, dan dapat mempertanggungjawabkan hasilnya, terutama di hadapan-Nya.
Amin…
Doain juga yah bisnis d’BC dan Dynasis saya bisa jalan dan terus berkembang. Huehehe… teteup deh promosinya gak ketinggalan. Yah namanya juga usaha…