<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anakboncel.net &#187; Kartu Kredit</title>
	<atom:link href="http://anakboncel.net/tag/kartu-kredit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anakboncel.net</link>
	<description>A cup of coffee is enough</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 00:47:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Curhat Kartu Kreditku</title>
		<link>http://anakboncel.net/2009/12/curhat-kartu-kreditku/</link>
		<comments>http://anakboncel.net/2009/12/curhat-kartu-kreditku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 01:24:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakboncel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Kartu Kredit]]></category>
		<category><![CDATA[Keringanan pembayaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakboncel.net/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Lagi sebel banget dengan salah satu bank asing terkenal dari mana 2 buah kartu kredit milik saya diterbitkan. Salah satu kartu kredit (-selanjutnya disingkat KK yah) sudah tidak memiliki saldo terhutang lagi dan membuat saya bernapas lega. Namun, saldo terhutang KK yang lain membuat saya agak &#8216;ngap&#8221; karena sejak beralih profesi menjadi ibu RT otomatis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lagi sebel banget dengan salah satu bank asing terkenal dari mana 2 buah kartu kredit milik saya diterbitkan.</p>
<p>Salah satu kartu kredit (-selanjutnya disingkat KK yah) sudah tidak memiliki saldo terhutang lagi dan membuat saya bernapas lega. Namun, saldo terhutang KK yang lain membuat saya agak &#8216;ngap&#8221; karena sejak beralih profesi menjadi ibu RT otomatis pembayarannya diambil dari gaji suami. </p>
<p>Atas pertimbangan tertentu, saya meminta tolong kepada Mama untuk datang ke kantor pusat bank tersebut dan mencoba mengajukan keringanan pembayaran. Entah itu berupa penghentian bunga cicilan KK ataupun pengubahan saldo terhutang menjadi pinjaman tanpa agunan dengan periode pembayaran misalnya 24 atau 36 bulan.</p>
<p>Hasilnya? </p>
<p><span id="more-856"></span></p>
<p>Bukan keringanan yang diperoleh. Malahan nih, officer bank tersebut yang ditemui oleh Mama mengajukan skema pembayaran yang justru memberatkan.</p>
<p>Memberatkan? Maksudnya gimana?</p>
<p>Contohnya begini. Misal saldo terhutang KK tersebut adalah Rp 8 juta. Dari peraturan perbankan yang terakhir berlaku, pembayaran minimal adalah 10% dari saldo terhutang atau sekitar Rp 800 ribu. Perhitungan 10% ini tentunya sudah termasuk bunga bulanan yang kalau diperhatikan jumlahnya hanya berkurang beberapa ratus atau ribu perak dari sebelumnya jika kita hanya melakukan pembayaran minimal.</p>
<p>Saya berasumsi bahwa jika bisa mengajukan perubahan status saldo terhutang tersebut menjadi pinjaman tanpa agunan untuk periode 24 bulan, maka uang cicilan akan berkurang menjadi sekitar Rp 400-500 ribu per bulan. Lebih ringan kan?</p>
<p>Tapi, ternyata&#8230; skema pembayaran yang diajukan officer tersebut adalah melakukan pembayaran sebesar Rp 2,5 juta per bulan untuk sisa saldo terhutang di atas.</p>
<p>Ada yang aneh? Huahhh&#8230;. saya langsung ngomel begitu mendengarnya dari Mama. </p>
<p>Plisss deh! Bukannya memperingan beban pemakai KK, kok yah malah memperberat. Yah, memperingan beban si bank sih karena kredit cepat ditutup dan mereka tidak repot bolak-balik melakukan penagihan.</p>
<p>Terus terang saya sangat kecewa sebagai pemakai KK tersebut sejak tahun 2003 dan tidak pernah bermasalah dengan pembayaran sebelumnya. Kapan pun ditelpon oleh marketing bank itu, dengan senang hati saya mendengarkan celotehannya walaupun bosan dengan penawaran yang sama. </p>
<p>Jadi ingat, sebulan sebelum mengundurkan diri dari pekerjaan, saya sempat menelpon bank tersebut beberapa kali untuk mengajukan penutupan salah satu KK yang kebetulan masa iuran tahunannya adalah bulan depan. </p>
<p>Mati-matian saya ngotot buat nutup, gak kalah mati-matian sang officer bank buat meyakinkan supaya KK tersebut tidak ditutup dengan alasan bahwa saya akan melewatkan penawaran luar biasa yang bisa diberikan oleh jenis KK tersebut.</p>
<p>Beberapa kali menelpon dan selalu gagal karena saya capek ngomong sampai berbusa tapi selalu ditangkis oleh officer bank. Hingga akhirnya sang officer menawarkan bahwa KK ditutup saja tahun depan saat KK expired dan untuk iuran tahunan sekarang dibuat gratis dengan persyaratan bahwa dalam jangka waktu 3 bulan harus ada pembelanjaan minimal Rp 5 juta. </p>
<p>Ampun! Itu sih penawaran iuran gratis berbalut hutang. Akhirnya saya menyerah dan membayar iuran tahunan KK ini. </p>
<p>Nah, setelah pengajuan permohonan keringanan pembayaran bisa dikatakan gagal, saya memutuskan untuk membayar keseluruhan sisa saldo terhutang KK di atas. Saya bilang ke Mama untuk sekalian menutup kedua KK dari bank asing itu.</p>
<p>Menurut Mama, saat proses pembayaran,  officer yang menanganinya sempat menolak untuk meloloskan permohonan penutupan kedua KK. Katanya, &#8220;Sayang Bu, nanti kalau mengajukan lagi susah loh persetujuannya. Apalagi anak Ibu sudah jadi nasabah kami cukup lama.&#8221;</p>
<p>Mama sih jelas kesal. Harusnya saat beliau mengajukan permohonan keringanan beberapa waktu sebelumnya diluluskan kalau memang pertimbangannya demikian. Ini kok seolah-olah apa pun agenda yang nasabah ajukan dengan niat baik sekali pun selalu dipertimbangkan berdasarkan keuntungan bank dan bukan &#8220;mutual benefit&#8221; alias keuntungan kedua belah pihak. </p>
<p>Hmm, apa memang begitu yah kalau berurusan dengan bank apa pun terutama untuk masalah kredit? </p>
<p>Padahal kalo gak salah ada regulasi yang mengatur masalah keringanan pembayaran kredit tertunggak. Hehe, ada yang tahu masalah ini dengan jelas? Mohon dibagi informasinya.</p>
<p>Akhirnya, berhubung Mama terus ngotot dan berubah menjadi galak, permohonan penutupan kedua KK saya diloloskan. Bravo Mum! You&#8217;re the best! Huahh&#8230; akhirnya saya bisa bernapas lega. </p>
<p>Beneran deh! Kalau bisa, jalani kehidupan tanpa kartu kredit. Rasanya nikmat banget kok *menerawang* (teringat saat belum kenal kartu kredit)! Pakai aplikasi kredit buat beli rumah dan mobil saja. Hal lainnya mending gunakan kartu debit atau uang tunai. </p>
<p>Nah, sekarang saya masih ada agenda lain untuk menutup 2 kartu kredit lagi dari 2 bank berbeda. Doain yah prosesnya mudah (termasuk pelunasannya <img src='http://anakboncel.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ). Amin&#8230; </p>
<p>PS:<br />
Yang bikin tambah kesal adalah setelah kartu kredit ditutup pun, entah kenapa tenaga marketingnya kembali rajin menelpon. Berhubung sudah hapal nomornya, yah gak diangkat. Siapa suruh nelpon-nelpon diriku lagi? Yuk, mari&#8230; </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakboncel.net/2009/12/curhat-kartu-kreditku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
