Tag-Archive for » Metro Mini «

Akhirnya pakai nama domain gratisan deh dari co.cc buat blogku yang ini. Alamatnya di http://www.debetterchances.co.cc. Mayan, lebih irit beberapa abjad kalau mengetikkan alamatnya. (Wkwkwk… harus ikut hitung-hitungan juga nih).

Today is another lazy day. Transfer kerjaan lom beres sih. Tapi paling gak saya tak ada rasa terbebani seperti saat masih dalam status “pegawai”. Hehe, emang enak ya status “quo” begini. Males kerja yah siapa juga yang mau ngomel, bentaran lagi juga keluar.

Dan, mumpung masih bisa pakai internet kantor untuk “ngeblog” di siang hari, jadilah saya tiap hari menulis posting gak penting seperti ini.

Topik hari ini terinspirasi oleh seorang ibu paruh baya yang sukses naik Metro Mini 619 jurusan Cinere tanpa sepeser uang pun.

Ceritanya nih sudah dari hari Senin saya ngambek gak mau naik angkot 102. Gara-garanya karena pas pulang kantor hari Jumat, supir angkot 102 yang saya tumpangi bertindak bodoh. Saat saya turun di Jl Jakarta dan berusaha untuk menyebrang jalan, mendadak para tukang ojek teriak-teriak dan tahu-tahu badan saya terdorong mobil. Iya! Masa tuh supir mundurin angkotnya (karena ada angkot ngetem di depan mobilnya) tanpa lihat-lihat kalau ada orang (saya) di belakang. Mana sampai 2 kali mundur pula. Tangan saya sampai sakit mukulin kaca mobil angkotnya. Sayang saya sudah lemas duluan sehingga gak mendatangi supir itu buat nampol mukanya sekalian.

Eh lanjut… kenapa juga malah jadi ngomel soal supir angkot.

Akibat aksi mogok naik angkot, akhirnya sudah 3 hari ini saya selalu setia menunggu Metro Mini 619 lewat. Jadi, walaupun harus berjubel di antara gerombolan anak sekolah SMP (mayoritas penumpang Metro 619 jam 18.00 yang berdiri) paling tidak saya tidak ngedumel sepanjang perjalanan. (Yah kalo naik bis ngedumel dikit sih, apalagi kalau tercium bau keringat tak sedap hehe…)

Nah, kemarin tuh, setelah saya naik ke dalam bis, di belakang saya menyusul seorang ibu paruh baya yang dari wajahnya mungkin baru berusia sekitar 45-50 tahun. Karena bagian dalam bis kosong, akhirnya saya bergeser masuk dan masih diikuti oleh si ibu dan beberapa penumpang lain yang juga baru naik.

Cring.. cring… Kenek bis menagih uang ongkos bis kepada saya.

Saya memberikan uang ongkos 2 ribu perak.

Cring.. cring… Kenek bis mengarahkan tangannya ke arah si ibu.

Tak ada reaksi sama sekali dari si ibu.

Cring.. cring… Kenek kembali memberikan isyarat kepada si ibu.

Cring.. cring… Gemerincing uang koin tambah keras. Si ibu bahkan tidak menoleh sama sekali.

Cring… Kenek akhirnya menyerah. Sebal. Dia menagih ongkos bis kepada penumpang lainnya.

Si ibu? Hehe tetap tanpa ekspresi sama sekali.

Saya sampai mikir, sebenarnya si ibu ini sehat atau “agak sakit” yah? Soalnya benar-benar gak ada ekspresi sama sekali. Dibilang ada kelainan, sepertinya sehat kok. Karena ketika ada bangku kosong, si ibu langsung duduk dengan baik.

Hehe… enak juga yah! Bisa naik bis gratis. Apa perlu dicoba?

Tapi kalau dipikir si kenek bis lumayan baik karena tidak menagih ongkos sampai ribut-ribut. Kan ada tuh kenek yang suka kasar kalau ternyata ongkos kita kurang (apalagi gak bayar yah?)

Hyuk! Yang mau coba-coba naik Metro Mini atau Kopaja atau bis lainnya secara gratis, bisa dicoba cara si ibu itu. Hehe

Kalau disuruh milih berangkat kerja mau bawa mobil sendiri atau naik angkot, pasti saya akan milih “naik angkot”.

Hehe, kenapa coba? Siapa yang bisa tebak?

1………………………………………..2…………………………..ada yang tahu? ……….3……… nyerah?

Jawabannya adalah kalau naik angkot, otomatis waktu tidur saya bertambah sekitar 30 menit hingga 1 jam. Xixixi… segitunya yah?

Maklum, sejak punya blog, waktu tidur malam saya tambah molor. Dulu, saat jam menunjukkan pukul 21.00, saya langsung jadi nahkoda dan berlayar ke pulau kapuk. Sekarang,saya baru bisa memejamkan mata paling cepat pukul 23.30.

Jadi, tambahan waktu tidur di angkot itu memiliki arti yang mendalam buat saya. Bayangkan! Kalau jatah tidur di angkot dihilangkan, bisa-bisa sepanjang jam kerja saya akan sibuk mengumbar kantuk yang ujung-ujungnya menghambat “kreativitas” kerja.

Selain itu, tidur di angkot adalah cara jitu untuk mengatasi rasa stress akibat kemacetan khas Jakarta yang sering kali bertambah macet kalau ada polisi yang mengatur lalu lintas.

Kalau kondisi macet parah, saya akan melihat jam sambil memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menembus kemacetan. Jika waktu sudah mepet, mau tidak mau saya harus berjalan kaki. Dan sebaliknya, jika waktu masih berlebih, saya akan memilih untuk memejamkan mata dan mulai berlayar.

Hehe, itulah senangnya berangkat kerja dengan menggunakan angkot.

Tapi, naik angkot di waktu pulang kerja sering kali menjadi pilihan yang mengesalkan. Apalagi sih yang bikin kita kesal kalau tidak kebiasaan angkot buat mengetem.

Saya ngerti kok. Si abang supir harus cari penumpang banyak biar terkumpul duit untuk kejar setoran. Tapi kok yah hampir di tiap gang sepanjang jalur perjalanan, si abang (halah akrab banget panggilannya) akan memberhentikan angkotnya untuk menunggu calon penumpang baru.

Jelas penumpang yang ada di dalam angkot jadi bersungut-sungut. “Wong mau buru-buru kok malah mampir.” Rasa kesal semakin bertambah apabila calon penumpang yang ditunggu ternyata tidak ada niat sama sekali untuk naik angkot tersebut.

Biasanya kalau naik angkot yang supirnya hobi mengetem, saya akan turun dan pindah ke angkot lain (atau berjalan kaki jika lokasi yang dituju sudah dekat).Yah rugi uang sih kalau pindah ke angkot lain. Tapi saya merasa lebih rugi lagi kalau harus kehilangan waktu bertemu dengan anak sebelum dia tidur. Hehe… maklum, ibu-ibu sih.

Jadi, kalau waktu pulang kantor, saya akan menunggu di posisi yang cukup strategis untuk melihat angkutan umum mana yang muncul duluan. Apakah angkot atau Metro Mini? Semuanya demi mengejar waktu supaya lebih cepat tiba di rumah.

Dan, hari ini, saya terpaksa memilih naik angkot sepulang kerja karena bawaan yang cukup berat.

Alhasil, saya kesal setengah mati karena si abang bolak-balik berhenti menunggu calon penumpang tiap kali ada Metro Mini yang berputar balik ke arah Blok M.

Sementara supir angkot sibuk dengan promosinya “Cinere, Cinere… Meruyung, Cinere..”, saya sibuk berhitung berapa kali Metro Mini jurusan Cinere lewat mendahului. Tiga kali!

“Ihhh… lama banget sih nih angkot! Kok gak jalan-jalan…”

Setelah sibuk ngedumel tanpa hasil, dan bahkan bibir saya jadi monyong, akhirnya angkot bergerak juga menuju Cinere.

Sampai juga di rumah. Dua puluh menit lebih telat dari biasanya.

Ampun! Emang, angkot ngetem gak ada abisnya…

Category: Curhat  Tags: ,  26 Comments
Anakboncel
Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.