Ini merupakan cerita seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 2 Juni.
Hari itu rombongan pengantar kepindahan saya memutuskan untuk meninggalkan Paiton setelah makan siang. Yah, sebenarnya saya berharap kalau mereka, terutama mama, bisa tinggal lebih lama di Paiton setidaknya selama 1 minggu. Namun, mertua saya ada keperluan mendadak sehingga mama merasa tidak enak jika membiarkan mertua pulang naik bis ke Surabaya.
Hari Selasa pagi, suami saya mendapat petuah dari mama. Petuah orang tua seperti biasa. “Tolong jaga Uke!” ucap mama dan beberapa petuah lainnya. Saat menyampaikan petuahnya ini, air mata mama menggantung di pelupuk matanya. Saya hanya menatap mama tanpa berkata sedikit pun.
Selasa siang, saat semua orang berbenah untuk memulai perjalanan panjang ke Surabaya, saya sibuk dengan kamera baru. Hehe, selain banci kamera, saya juga senang ambil foto orang dan lingkungan sekitar.
Mau lihat hasil foto saya?
mau baca lanjutannya gak? silahkan klik di sini
Akhirnya….. saya dan Dira sampai juga di Paiton.
Hari Minggu malam, tepatnya pukul 20.40, saya dan Dira menginjakkan kaki di rumah dinas Papa Poet. Kali ini kita kembali ke Paiton untuk menetap (gak cuma liburan seperti bulan Januari 2009 yang lalu).
Setelah resmi mengundurkan diri dari kantor, saya disibukkan dengan kegiatan mengantar Dira ke sekolah untuk gladi bersih acara perpisahan tahunan. Hitung-hitung latihan awal sebagai ibu rumah tangga
.
Hari Selasa setelah selesai sekolah, saya dan Dira jalan-jalan ke Citos untuk bermain di Timezone. Hehe, terus terang agak memaksakan diri juga main ke sana karena gaji terakhir belum masuk juga dan dompet sudah menipis. Tapi, alhamdulillah, we had so much fun playing around Timezone.
Hari Rabu sore Papa Poet tiba di Jakarta. Wiihhhh iya dong! Mamanya minta dijemput khusus. Kalau gak dijemput, nanti gak jadi loh ke Paiton.
Lucu deh saat Dira bertemu dengan Papanya kembali setelah berpisah selama 5 bulan. Saat itu saya dan Dira sedang membeli donat J Co di terminal 3 bandara Soekarno-Hatta. Papa Poet ternyata sudah tiba dan menunggu di luar terminal. Saat melihat Papanya melalui jendela J Co, Dira langsung histeris memanggil Papa dengan nada suara campuran antara “excited” dan manja. “Papa, itu Papa. Papa, itu Papa, Ma! Papa! Papa!” Aku hanya tertawa sambil bersyukur kalau Dira masih ingat sama wajah Papanya.
mau baca lanjutannya gak? silahkan klik di sini